alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan

Lalat Tentara Hitam (Maggot) Kurangi Sampah 5 Persen

09 Juli 2020, 10: 55: 59 WIB | editor : Ugik Wepe

DIDIRIKAN: DLH Grobogan mulai membuat tempat untuk maggot di TPA Ngembak kemarin.

DIDIRIKAN: DLH Grobogan mulai membuat tempat untuk maggot di TPA Ngembak kemarin. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA, RadarKudus.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus berupaya mengurai sampah. Salah satunya dengan mengembangbiakkan maggot atau lalat tentara hitam. Dengan pembiakan ini, maggot ditargetkan dapat mengurai sampah hingga 5 persen.

Pembiakan lalat hitam ini dilakukan untuk menghasilkan belatung. Belatung dari lalat hitam inilah yang akan bekerja untuk mengurai sampah, sehingga volume sampah akan berkurang.

”Target kami bisa mengurangi sampah yang ada di TPA sekitar 5 persen. Dari volume sampah yang ada di TPA sekitar 67 ton per hari,” ujar Kepala DLH Grobogan Nugroho Agus Prastowo melalui Kasi Penanganan Sampah DLH Grobogan Noer Rochman.

Dalam membiakkan maggot, DLH menggunakan metode Black Slodier Fly (BSF) di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Ngembak. ”Saat ini masih nyoba tiga kg dulu. Sebab satu ekor lalat hitam biasanya menghasilkan 500 telur,” jelasnya.

Dijelaskan, BSF dikembangbiakkan di tempat yang disebut nursery. Nursery terbagi menjadi beberapa skat. Tujuannya untuk membedakan proses penguraian sampah.

”Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipisahkan dan ditempatkan di tempat yang berbeda untuk proses penetasan. Setelah menetas dan berusia lima hari diletakkan pada sampah organik. Setelah 10 hari, maka maggot dapat dipanen dan ditebarkan ke tumpukan sampah untuk proses penguraian, ”tambahnya.Petugas membutuhkan waktu 15-17 hari untuk pembiakan. Jika pembiakan berhasil, maggot akan dikembangkan untuk pakan ternak di sekitar lokasi TPA. Selain itu akan dibuat olahan tepung maggot.

(ks/int/mal/wp/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia