alexametrics
Sabtu, 15 Aug 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Ingin Menikah dengan Mobil H 1 A

Fisik Boleh Terkungkung, Ide Tetap Berkembang

06 Juli 2020, 09: 17: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

RASANYA jadi ingin menikah lagi. Ada tawaran menarik. Menggunakan mobil dinas wali kota. Sayang, saya bukan warga Semarang. Tidak bisa menggunakan mobil dinas H 1 A itu. Apalagi saya juga bukan golongan tidak mampu.

Tawaran menggunakan mobil dinas itu dilempar minggu lalu. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang menawarkan. Diposting di akun Twitter pribadinya @hendrarprihadi juga. Bisa untuk resepsi pernikahan. Bisa juga untuk akad nikah.

Mobilnya Toyota Camry. Warna hitam. Interiornya mewah. Lengkap dengan sopir dan bahan bakar. Mobil itu jarang dipakai. Bisa dipinjam hari Sabtu dan Minggu.

Baca juga: Dari Pak The sampai Leak

Saya membayangkan, naik mobil itu tentu bangga. Tidak sedang menikah pun membekas sepanjang hayat. Tidak sembarang orang mendapat kesempatan. Termasuk para pejabat pemkot sendiri.

Sudah ada orang yang berminat memanfaatkan mobil itu. Saya minta untuk menemui. Ingin tahu perasaannya. Namun, kata Ida Noor Layla, redaktur pelaksana Jawa Pos Radar Semarang, orang tersebut tidak jadi meminjam.

Baca juga: Belajar dari Kemonggo

Pak Hendi -sapaan Hendrar Prihadi- cerdik. Saat rakyatnya down karena serangan wabah Covid-19 dia tidak ikut-ikutan nglokro. Idenya untuk menghibur masyarakat itu menarik. Kecil tapi jitu. Orang pun bersemangat. Bisa beraktivitas normal meski dengan protokol ketat.

Kreativitas Pak Hendi itu, menjadi contoh menarik. Di saat fisik tidak bisa bergerak bebas karena protokol Covid-19, pikiran terus melayang. Menelorkan ide-ide. Kalau tidak bisa besar, kecil pun boleh. Kalau tidak bisa dilaksanakan sekarang, kelak pun tidak apa-apa.

Pak Dahlan Iskan yang mengembangkan Jawa Pos hingga menjadi raksasa juga demikian. Justru di saat semua jenis usaha tidak bisa bergerak, dia meluncurkan usaha baru. Menerbitkan harian. Di saat semua penerbitan sedang lesu. Namanya Harian Disway. Isinya berita sebagaimana yang ada di koran.

Baca juga: Tidak Normal saat New Normal

Pak Dahlan tidak mau mainan barunya itu disebut koran. Bentuknya memang tidak seperti lazimnya koran. Ukurannya hanya 21 x 30 cm. Di sinilah pikiran Pak Dahlan melewati batas.

Harian itu telah di-launching 4 Juli lalu. Pada hari kelahiran anaknya, Azrul Ananda, yang juga pernah memimpin Jawa Pos. Persis di HUT Amerika Serikat. Hanya terpaut empat hari setelah ulang tahun Harian Jawa Pos yang dibesarkannya.

Ide Pak Dahlan itu tidak lazim. Sama dengan ide Pak Hendi. Bagi keduanya, bisa jadi itu ide kecil. Tetapi, bagi masyarakat menjadi luar biasa.

Dia bukan hanya melahirkan ide. Tetapi, sekaligus menerapkannya. Disertai usaha-usaha yang tidak lazim juga. Umurnya menginjak 70 tahun. Tetapi masih mendidik sendiri wartawannya. Sebagaimana dia mendidik wartawan Jawa Pos kala dia mengembangkannya. Saya merasakan.

Pak Dahlan membangkitkan keyakinan bahwa penerbitan masih dibutuhkan masyarakat. Sama seperti komentar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di HUT Jawa Pos pada 1 Juli lalu. ”Hari ini kita butuh berita yang memberikan semangat, yang memberikan inspirasi, yang mengeratkan kesatuan Indonesia, dan Jawa Pos bisa memberikan itu,” katanya. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP