alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Joko Ribowo, Penjaga Gawang PSIS Semarang

Liga 1 Terhenti, Bolak-Balik Kudus untuk Latihan Bola

28 Juni 2020, 13: 05: 23 WIB | editor : Ali Mustofa

PILAR INTI: Joko Ribowo saat ini rutin berlatih secara mandiri selama Liga 1 berhenti. Bahkan dia sering bolak-balik ke Pati-Kudus untuk sekadar berlatih sepak bola.

PILAR INTI: Joko Ribowo saat ini rutin berlatih secara mandiri selama Liga 1 berhenti. Bahkan dia sering bolak-balik ke Pati-Kudus untuk sekadar berlatih sepak bola. (VEGA MA’ARIJIL ULA/RADAR KUDUS)

Share this      

Joko Ribowo saat ini masih menunggu kepastian bergulirnya Liga 1. Sembari menunggu, dia rutin berlatih sepak bola meski harus bolak balik Pati-Kudus. Selain berlatih, dia juga merintis usaha ternak kambing.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus, Radar Kudus

MENUNGGU kepastiaan pelaksaan Liga 1, Joko Ribowo, penjaga gawang PSIS Semarang ini berlatih di Kudus. Dia sengaja bolak-balik Semarang-Kudus untuk meningkatkan kemahiran bermain sepak bola. 

Pada (23/6) lalu Joko merumput bersama rekan-rekannya di pertandingan persahabatan bernama Laga Trofeo yang digelar di Lapangan Getas Pejaten, Jati, Kudus. Ada tiga tim yang berlaga. Yakni Bintaraya yang notabene adalah klub Desa Getas Pejaten. Lalu ada BVB Portugiess asal Demak, dan All Star Timnas.

Sore itu cuaca tampak mendung. Namun, masyarakat yang hadir cukup banyak. Masyarakat Kota Kretek ingin menyaksikan penjaga mistar Laskar Mahesa Jenar itu.

Selain Joko Ribowo, beberapa eks pesepak bola yang pernah bermain di Liga 1 turut diajaknya. Mulai dari Deni Rumba, Wahyu Teguh, Jalal Jalil, dan beberapa eks pemain Liga 1 di eranya masing-masing. Hadir juga eks penggawa Persiku Kudus Agus Santiko dan Cucun Sulistyo.

Di ajang silaturahmi bertajuk trofeo itu, Joko bermain untuk klub Bintaraya. Klub asal Desa Getas Pejaten. Kesigapannya di atas lapangan sebagai kiper PSIS Semarang yang bermain di Liga 1 diperlihatkannya. Mulai dari memotong bola, membangun serangan dari bawah dan cara berkoordinasi dengan pemain belakang. ”Tutup saja....tutup,” teriaknya saat mengkoordinir pemain belakang agar menutup serangan tim lawan. ”Naik....naik...naik,” teriaknya saat timnya tengah menguasai bola dari bawah.

Selama bermain di turnamen segitiga itu, tidak ada gol yang bersarang di gawangnya. Pilar PSIS itu memang sering bolak-balik Pati-Kudus untuk sekadar bermain bola bareng rekan-rekannya. Menariknya setiap latihan bareng, mayoritas yang ikut serta bermain bola itu justru bukan dari kalangan pesepak bola. Hanya dari masyarakat biasa. Tepatnya warga sekitar lapangan. Itu biasa dilakukan setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Tepatnya di lapangan Getas Pejaten. Untuk Minggu, dia berlatih di lapangan Bacin, Bae, Kudus.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus, pria yang juga pernah membela Arema FC itu mengaku sebatas melakukan conditioning. ”Sebatas latihan. Jaga kondisi kalau sewaktu-waktu kompetisi berlanjut, saya sudah siap,” jelasnya.

Ditanya soal tarkam, Joko enggan disebut demikian. ”Ini gak tarkam sih. Kalau tarkam kan main dan dibayar. Ini nggak dibayar. Cuma kumpul silaturahmi dan jaga kondisi,” sambungnya.

Selain bermain bareng, metode latihan kiper secara mandiri juga rutin dilakukan pria berdomisili Pati itu. ”Di Pati ya latihan kiper juga. Kalau di Kudus latihan bareng Agus Gunawan (eks kiper Persiku, Red),” ujar dia.

Lebih lanjut, meski kompetisi masih abu-abu, Joko mengaku tetap menjaga asupan makan. ”Pola makan dan tidur yang cukup,” jelas eks kiper Arema itu.

Ditanya soal kegiatan lain, dia mengaku sedang merintis usaha ternak kambing. Saat ini Joko memiliki 10 kambing. Usaha itu dirintis belum lama ini. Bahkan dia berniat menambah beberapa ekor kambing lagi.

”Pilih ternak kambing karena dari kecil menggembala kambing orang. Sekarang pengen punya sendiri,” tuturnya.

Sampai saat ini dia masih belum tahu kapan kompetisi Liga 1 bakal bergulir kembali. Kendati begitu, pria yang bersama PSIS sampai 2021 mendatang itu tetap berkomitmen untuk menjaga kebugaran. Menurut dia saat ini yang terpenting adalah faktor kesehatan. ”Masih menunggu. Tetapi dengan kondisi yang seperti ini faktor kesehatan lebih penting ketimbang kompetisi.

Dia berharap ketika Liga 1 berjalan kembali, klub yang dibelanya itu dapat berprestasi. ”Tentunya tim semakin bagus. Makin kompak dan prestasinya semakin baik,” harapnya. (*)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia