alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Bahasa yang Santun Bikin Anak Nyaman Belajar

27 Juni 2020, 10: 44: 28 WIB | editor : Ali Mustofa

Ristiyanti, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)Universitas Muria Kudus (UMK)

Ristiyanti, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI)Universitas Muria Kudus (UMK) (DOK. PRIBADI)

Share this      

BELAJAR dari rumah resmi diperpanjang karena Covid-19. Banyak orang tua yang tidak siap menjadi guru bagi anaknya. Akibatnya tujuan pembelajaran bisa tidak tercapai. Karena orang tua tidak memahami bagaimana cara belajar dengan komunikasi yang baik. Apalagi ketika orang tua melakukan disfemisme bahasa saat proses mengajari anak.

Orang tua harus memahami bagimana cara menghindari disfemisme bahasa. Disfemisme adalah memperburuk kata dengan tujuan mengucilkan dan menyudutkan lawan bicara. Karena kadang melakukannya tanpa disadari dan akhirnya berdampak buruk pada psikologis anak. Orang tua harus tahu tentang cara berkomuniaksi yang baik pada anak.

Apalagi saat pandemi ini, siswa belajar dari rumah. Tentu orang tua akan medampingi. Sehingga orang tua harus memiliki kesabaran. Apalagi saat anak kurang memahami pelajarannya.

Ketika praktik disfemisme oleh orang tua ke anak terjadi, maka akan mengganggu psikologis. Sebaiknya, menggunakan bahasa santun agar anak nyaman dan optimal ketika belajar di rumah.

Contoh disfemisme yakni “dijelaskan kok ga faham-faham”, “dasar anak ga mudengan”. Kalimat-kalimat seperti itu ketika dilakukan untuk komunikasi dengan anak, maka membuat anak tidak percaya diri dan merasa dikucilkan. Itu menandakan psikologis anak terganggu.

Akibatnya motivasi belajar anak akan turun. Karena merasa sudah pasti tidak bisa dan tidak berani bertanya. Karena kalau bertanya pelajaran yang tidak dipahami akan dimarahi. Orang tua bisa mengganti dengan kalimat yang lebih nyaman atau ramah.

Seperti, “ayo anak hebat, kamu pasti bisa, mama ajari ya”, atau “kamu pasti bisa mengerjakan soal itu, mana yang perlu mama bantu?”. Kalimat tersebut justru lebih memotivasi anak belajar.

Selain itu, apa yang diucapkan orang tua pada anak akan sangat berpengaruh dalam membentuk karakter anak. Untuk itu, orang tua harus mampu memilih bahasa yang santun untuk mengasuh anak. Dengan bahasa yang santun, anak akan merasa nyaman dan percaya diri. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia