alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Aditya Dwi Prabowo, Pembuat Mesin Tato

Tiga Alat Dibeli Orang Jerman 850 USD

26 Juni 2020, 10: 42: 12 WIB | editor : Ali Mustofa

HANDMADE: Aditya Dwi Prabowo merangkai beberapa alat tato yang sudah tembus internasional kemarin.

HANDMADE: Aditya Dwi Prabowo merangkai beberapa alat tato yang sudah tembus internasional kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

Aditya Dwi Prabowo orang kampung. Tetapi punya jiwa seni tinggi. Tak hanya melukis. Dia juga membuka jasa tato hingga membuat alatnya. Alat buatannya itu, sudah diminati hingga ke India dan Jerman.

WISNU AJI, Rembang, Radar Kudus

REMBANG punya seniman tato. Aditya Dwi Prabowo namanya. Rumahnya di kampung. Jauh dari hiruk pikuk keramaian. Lokasinya di Desa Kebonagung, Kecamatan Sulang. Di rumahnya ada toko kelontong milik orang tuanya.

Jawa Pos Radar Kudus kemarin menyambangi kediamannya. Diizinkan masuk di kamar berukuran sekitar 3x3 meter dengan dinding kamar warna hitam. Di dalamnya ada etalase-etalase yang menyimpan alat-alat tato. Semua handmade karya Aditya Dwi Prabowo.

Alat buatannya itu, tak hanya dikenal di dalam negeri. Tetapi sudah tembus internasional. Belum lama ini, ada pembeli dari Jerman. Menyusul pesanan dari India.

Adit -sapaan akrab Aditya Dwi Prabowo- menunjukkan cara merakit alat itu. Pemilik julukan Adit Diradjah Tattoo ini, mengaku bisa menato berawal dari suka menggambar sejak SMA. Itupun otodidak. Sedangkan dia tertarik menggambar, karena tertular ”virus” kakaknya. ”Kelas XI SMA saya nekat bikin tato. Tanpa sepengetahuan orang tua tentunya,” ujarnya.

Pada 2015 lalu, setelah lulus SMA dia menjual lukisan karyanya. Namun, dia membuat hanya by order. Harganya sekitar Rp 350 ribu tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. ”Hasil penjualan lukisan saya tabung. Lalu iseng-iseng untuk membeli mesin tato secara online. Harganya sekitar Rp 10 juta,” ceritanya.

Pada 2016 dia mulai menekuni dunia tato. Bermula saat temannya minta dirajah tubuhnya. Itupun gratisan. ”Dulu pertama kali itu gambarnya masih lucu. Nggak begitu bagus,” kenangnya.

Kini Adit sudah buka harga. Per sentimeter Rp 12-20 ribu. Tergantung tingkat kerumitan. Jika sedang ramai, dalam sepekan dia bisa menato empat orang. Dengan penghasilan Rp 5-6 juta. Peminatnya kebanyakan orang luar Rembang. Seperti dari Jawa Timur dan Jawa Barat.

Sementara alat tato buatannya, berawal saat Adit merasa mesinnya kurang enak lagi untuk menggambar. Mesin itu kemudian dibongkar. Kemudian dipelajari. Sampai akhirnya dia mencoba membuat alat sendiri.

Proses pembuatan, bahan plat baja dipotong dengan gerinda. Lalu dilas, dikikir, dipoles, lalu di-finishing dengan teknik bakar atau krum. Kemudian dipasang mesin yang dihubungkan ke adaptor untuk kelistrikan. Waktu pembuatan, tiga hari sampai sepekan.

Dia merasa alat buatannya lebih enak pukulannya. Pegangannya juga lebih mantap dan desain lebih elegan. ”Alat yang saya buat bentuknya klasik,” ujar pria kelahiran Rembang, 24 April 1997 ini.

Alat-alat buatannya itu, kemudian di-upload di media sosial. Ada yang tertarik dan akhirnya membeli. Baru-baru ini, tiga karyanya dibeli orang Jerman seharga 850 USD atau setara Rp 12 jutaan.

Hingga saat ini, sudah terjual delapan alat berbagai model. Saat ini, dia sedang mengerjakan pesanan orang India.

Setelah menato dan membuat alat tato menjadi profesi, respon orang tuanya saat ini mendukung. Padahal dulu sempat ditentang. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia