alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Belajar dari Kemonggo

22 Juni 2020, 11: 12: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

Berita Terkait

SUATU hari saya mengajar di Radar Semarang. Pada hari lain di Radar Kudus. Muridnya para manajer. Materinya satu. Betul-betul satu. Gambar laba-laba di tengah jaringnya. Gambar itu saya dapatkan tidak sengaja di lereng Gunung Muria. Ketika berziarah di makam Raden Umar Said (Sunan Muria) kira-kira 10 hari lalu.

Saat turun dari masjid terlihat seekor laba-laba berada persis di tengah jaringnya. Cukup besar. Kira-kira seruas jari kelingking. Lebar sarangnya sedepo. Kira-kira 1,5 meter. Sebagian menempel pada blarak (daun kelapa), sebagian pada rumput, dan sebagian pada dedaunan pohon yang saya tak tahu namanya.

Saya ingin mengambil gambar laba-laba itu dari dekat. Tidak bisa. Lokasinya di bibir jurang. Yang tertangkap kamera dengan jelas hanya laba-labanya. Sedang jaringnya lamat-lamat. Kebetulan latar belakangnya waduk Gembong yang kelihatan keputihan.

Selagi menapaki jalan menurun sehabis berziarah itu, pikiran saya tertuju pada perusahaan. Padahal di hadapan saya pemandangan yang indah. Selain terlihat hamparan waduk Gembong, juga Kota Kudus dan Pati. Matahari yang belum lama terbit masih merah. Udara sejuk. Sesekali terdengar burung berkicau.

Mestinya suasana Muria pada awal simulasi new normal itu bisa menghapus pikiran ruwet. Pikiran yang tertuju pada situasi ekonomi yang sampai pada fase new normal ini masih berat. Bahkan amat berat. Mengatasinya masih sulit. Betul-betul sulit. Nyaris belum ada gambaran jalan keluar.

Berbagai analisis ekonomi telah saya baca. Sampai akhir tahun ini keadaan diprediksi belum berubah. Bahkan ada yang mengatakan sampai tahun depan belum pulih. Dunia usaha disarankan memperkuat daya tahan seperti orang yang terkena serangan Covid-19.

Lebih ruwet lagi kalau membaca perkembangan ekonomi dunia. Rasanya semakin banyak perusahaan yang merumahkan karyawan. Semakin bertambah perusahaan yang mengurangi gaji. Malah semakin meningkat perusahaan yang memutus hubungan kerja pegawainya.

Apakah saya harus mengambil sikap seperti mereka? Meniru juga sebagian perusahaan di Indonesia? Atau bertahan seperti saran para ahli ekonomi yang kalau disuruh menjalankan juga tidak bisa.

Saya tatap laba-laba yang tenang di sarangnya itu berlama-lama. Saya amati helai demi helai benang yang ia rajut membentuk jaring. Rapi sekali. Tidak ada yang putus.

Saya tanyakan kepada para manajer. ”Apakah laba-laba tersebut pernah berpikir kapan dia dapat makanan?” Laba-laba itu pun tidak pernah bisa memastikan kapan ia makan dan apa yang akan ia makan.

Laba-laba itu hanya bisa membikin jaring. Sebagus-bagusnya. Serapi-rapinya. Kalau rusak bikin lagi. Demikian seterusnya. Soal mendapat santapan, itu urusan Tuhan. Dan, yang pasti ia dapat makan. Sama seperti manusia. Kalau mau berusaha sebaik-baiknya pasti mendapat hasil.

Pelajaran itu bukan hanya saya sampaikan kepada para manajer. Melainkan seluruh karyawan.

Saya bentuk kelas-kelas sesuai tingkatan dan bidangnya. Total 12 kelas. Enam kelas di Radar Semarang dan enam kelas di Radar Kudus. Mulai kelas admin sampai manajer. Seminggu satu kali. Per sesi bisa satu jam. Bisa juga tiga jam. Tergantung dari panjangnya diskusi. Kelas ini sudah berjalan dua minggu. Entah sampai kapan.

Saya berpikir, untuk saat ini hanya sekolah yang bisa dilakukan. Habis bagaimana lagi, berburu omzet juga tidak bisa.

Saya mengawali mengajar di semua kelas itu. Mata pelajarannya sama. Sarang laba-laba. Saya minta seluruh karyawan meniru binatang yang disebut juga kemonggo itu.

Pelajaran kedua yang saya sampaikan mengenai perang. Kini bangsa Indonesia, bahkan seluruh bangsa di dunia, berada dalam peperangan. Tak terkecuali dunia usaha. Perangnya akbar. Lawannya tiga sekaligus. Keadaan, kompetitor, dan diri sendiri.

Keadaan sudah tidak bisa dikalahkan lagi. Semua mengakui dampak serangan Covid-19 begitu hebat. Uang negara pun sampai terkuras hingga melipatgandakan devisit anggaran. Semua usaha mendeg. Paling tidak mengalami penurunan. Tidak rugi saja sudah bersyukur.

Kompetitor memang sudah kehilangan tenaga. Kalau bisa menghantam, sekali pukul pasti roboh. Tetapi, kita sendiri tidak memiliki kekuatan. Bahkan nyaris sama-sama mati.

Yang bisa dilawan tinggal diri sendiri. Melawan semangat yang menurun, kemalasan, kedisiplinan yang kendor, pemborosan, ketidakpintaran, kreativitas yang tumpul, dan sebagainya. Kesimpulan saya, barangsiapa bisa mengalahkan diri sendiri, merekalah yang menang.

Saya intensifkan belajar untuk seluruh karyawan. Mudah-mudahan stamina kuat. Sehingga suatu saat keadaan membaik bisa tancap gas. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia