alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Ketua IIDI Rembang: Obati Dahaga Informasi Kesehatan Warga

19 Juni 2020, 15: 48: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

Sitta Chirana, Ketua IIDI Rembang

Sitta Chirana, Ketua IIDI Rembang (DOKUMEN PRIBADI)

Share this      

REMBANG, Radar Kudus – Sebagai ketua Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Rembang, Sitta Chirana sadar penuh. Bahwa tugas membentuk pola hidup sehat bukan hanya kewajiban dokter. Semua elemen harus sadar tentang itu. Saling bersinergi dalam mengedukasi.

Hampir seluruh wilayah Rembang telah dijamah. Bersosialisasi ke-sana-sini. Meskipun, latar belakang Sitta sebelumnya bukan dari bidang kesehatan. Tetapi jiwa sosial itu sudah mengakar dan tak bisa pisah. Ia sendiri mulai terjun ke dunia sosial sejak 2009.

Selain itu, saat remaja, kala itu, ia aktif di kegiatan-kegiatan kebudayaan. Dari situ ia mendapatkan pelajaran cara bersosialisasi dan mencintai budaya indonesia. Selain bidang kesehatan, di kegiatan IIDI juga memiliki kepedulian dengan budaya. ”Kami menyentuh sosialisasi batik Lasem di Rembang,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 6 Mei 1967 itu.

Yang berkaitan dengan kesehatan juga getol dilakukan. Untuk mengedukasi masyarakat agar peduli hidup sehat. Seperti kegiatan di sekolah-sekolah. Sebelum adanya pandemi Covid-19, kerap diagendakan roadshow ke sekolah. Biasanya, kata Sitta, jika sedang ke sekolah-sekolah, disampaikan tentang bahaya-bahaya narkoba, HIV AIDS, dan kiat-kiat dalam menjaga kesehatan.

Selain itu, peran untuk pencegahan stunting juga digiatkan. Ia sadar, untuk mempersiapkan generasi emas harus sudah dipupuk sejak dini. Bahkan ketika bayi masih di dalam kandungan. Kesehatan harus diperhatikan.

Dari hasil blusukan itu, menurutnya, kepedulian kesehatan masyarakat di Kota Garam sudah cukup bagus. Hanya saja, perlu senantiasa diingatkan dengan pola germas. Makan sayur, hidup sehat, dan berolahraga.

Bagaimanapun juga, kata dia, masyarakat menjadi bagian dari tugas. IIDI sendiri memiliki prinsip. Mempunyai paradigma : masyarakat dan keluarga harus peduli dengan kesehatan. ”Masyarakat haus dengan informasi. Mereka senang kalau kami datang. Mereka sangat antusias, dan pertanyaan-pertanyaan itu wauw luar biasa,” ujar ibu kelahiran 6 Mei 1967 itu. 

(ks/vah/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia