alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Tidak Normal saat New Normal

15 Juni 2020, 10: 30: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

TANGGAL 9 Juni 2020 adalah hari bersejarah bagi saya. Inilah hari pengadilan. Pertanggungjawaban diri sebagai direktur Radar Semarang dan Radar Kudus tahun 2019. Di depan pemegang saham. Bisa diterima, bisa sebaliknya. Kalau diterima bisa diangkat kembali sebagai direktur, bisa juga tidak.

Meskipun bukan kali pertama, masih nderedek juga.

Pertanggungjawaban itu disampaikan dalam rapat resmi. Namanya Rapat Umum Pemegang Saham. Sehari mengikuti lima kali. Sebagai direktur Radar Kudus, direktur Radar Semarang, pemegang saham Radar Madura, pemegang saham Radar Madura Digital, dan pemegang saham Radar Bromo.

RUPS itu mestinya dilaksanakan awal Januari 2020. Karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, ditunda hingga awal Maret. Ternyata ada pandemi Covid-19. Akhirnya diundur lagi hingga 9 Juni. Sekaligus menyambut new normal.

Rapat dilaksanakan secara daring. Leak Kustiya, dirut Jawa Pos, mewakili pemegang saham, memimpin rapat dari Surabaya. Saya mengikuti di Semarang. Meskipun jarak jauh, legal mengesahkannya. Rapat diikuti 100 persen pemegang saham.

Agenda rapat hanya tiga. Pertanggungjawaban direktur atas pelaksanaan perusahaan tahun 2019, pemberhentian pengurus perusahaan tahun 2019, dan pengangkatan pengurus perusahaan tahun 2020.

Alhamdulillah pertanggungjawaban, baik sebagai direktur Radar Kudus maupun Radar Semarang, diterima 100 persen. Saya juga telah dibebaskan dari tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan tahun 2019. Alhamdulillah juga diangkat lagi sebagai direktur Radar Kudus dan Radar Semarang tahun 2020.

Itu berarti pengangkatan ketujuh sebagai direktur Radar Kudus dan ketiga sebagai direktur Radar Semarang. Ini bukan new normal. Melainkan tidak normal. Mestinya saya telah pensiun 10 tahun lalu ketika umur masih 50 tahun. Secara fisik pasti sudah menurun.

Malam sebelum RUPS saya masih mengemudi sendiri Surabaya – Kudus untuk lanjut ke Semarang. Pagi berziarah ke makam Sunan Kudus, mendoakan serta mengenang kemuliaan kekasih Allah itu. Rasanya adem. Harus bersyukur berkali-kali.

Pagi berikutnya, setelah RUPS, berziarah ke makam Sunan Muria. Sambil merasakan pemberlakuan new normal di sana. Makam Sunan Muria (dan Sunan Kudus) telah dibuka untuk umum dengan protokol pandemi Covid-19.

Sudah banyak ojek yang melayani peziarah naik dari tempat parkir sampai masjid dengan ongkos Rp 15.000. Tetapi, saya memilih berjalan kaki. Sambil mengetes kekuatan fisik. Mendaki satu demi satu tangga naik. Kanan kirinya dipenuhi stan pedagang suvenir dan makanan. Tak ada sela sama sekali. Udara dan cahaya menerobos lewat celah atap yang tidak beraturan.

Perjalanan ke makam Sunan Muria itu tidak lama. Tapi sangat berat. Melebihi jalan pagi yang biasa saya lakukan setiap hari. Biasanya sekitar 7 – 9 kilometer. Waktunya sekitar 1 – 1,5 jam.

Saya hitung sejak tangga pertama sampai masjid hanya 21 menit. Jauhnya tidak sampai satu kilometer. Malah menurut hitungan GStep tidak sampai 1.000 langkah. Saya bisa melewatinya tanpa henti. Tanpa minum juga. Memang ngos-ngosan. Apalagi harus memakai masker. Rasanya tidak nyaman. Tidak bisa menghirup udara bebas.

Turun dari makam Sunan Muria berjalan kaki juga. Saya mengambil jalan lain. Jalan yang biasa dilewati ojek. Lebih landai. Tetapi, lebih jauh. Suasananya sangat sepi. Hanya bertemu dua motor dari bawah. Saya bisa menikmati pemandangan sepuas-puasnya. Ke bawah arah timur kelihatan jelas Waduk Gembong. Idah sekali.

Satu-satunya orang yang saya temui adalah pencari pakan ternak. Dia berjalan searah dengan saya. Dari belakang hanya kelihatan kakinya. Mengenakan sandal jepit hijau. Menggendong ramban (dedaunan). Saya perkirakan beratnya 30 kilogram lebih. Dulu ketika kecil saya biasa memanggul barang seperti itu.

Jalannya cepat. Saya yang bersepatu kesulitan mengejar. Pada turunan yang tidak curam saya percepat langkah. Begitu dekat saya sapa. Dia perempuan kira-kira 40 tahun. Saya ulurkan tangan. Girangnya luar biasa. Berkali-kali dia berterima kasih. Bahkan ketika saya sudah jauh darinya, dia masih memanggil. ”Pak, terima kasih ya,” katanya lagi.

Alhamdulillah saya bisa memberikan apa yang saya sukai. Sebagai wujud syukur. Hidup saya lebih baik dari dia. (hq@jawapos.co.id)

Semula saya tidak ingin mengabarkan ini kepada pembaca. Tetapi, kemudian merasa perlu. Sehingga tulisan ini terlambat.

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia