alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Dikeluhkan Warga, Empat Drainase Mampet Akhirnya Dibongkar

13 Juni 2020, 13: 25: 57 WIB | editor : Ali Mustofa

NORMALISASI: Sejumlah pekerja membongkar drainase dan trotoar di Jalan Raden Saleh. Mereka melakukan normalisai lantaran kawasan ini kerap menuai keluhan lantaran aliran air sering mampet.

NORMALISASI: Sejumlah pekerja membongkar drainase dan trotoar di Jalan Raden Saleh. Mereka melakukan normalisai lantaran kawasan ini kerap menuai keluhan lantaran aliran air sering mampet. (WISNU AJI/ RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG, Radar Kudus - Sistem drainase di sejumlah titik kota kerap dikeluhan warga. Pasalnya setiap kali hujan air meluap hingga menutup jalan. Setidaknya ada empat titik yang mendapatkan penanganan.

Saat ini penanganan dikerjakan di Jalan Raden Saleh, atau sepanjang jalan puskesmas I Rembang kota. Di sana juga dibuatkan trotoar. Digunakan pejakan kaki. Panjangnya mencapai 190 meter ditarik dari jalan utama pantura ke selatan. Penataannya masih berlangsung.

Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTARU) Rembang juga sudah melakukan penataan drainase. Paling panjang Tamrin itu sekitar 200 meter. Kemudian KS Tubun sekitar 130-an meter dan satu gang lagi air mancur.

Pekerjaan tersebut sudah dilakukan sejak bulan Maret. Untuk penataan drainase tersebut ditargetkan bulan ini rampung. Sehingga diharapkan saat musim penghujan sudah normal aliran air drainase besarnya.

Kasi Pengelolaan Drainase, Kapti Prastiaji membenarkan ada empat titik drainase yang sudah dilakukan perbaikan tahun ini. Ini menindaklanjuti laporan dari masyarakat. Karena di beberapa titik tersebut setiap kali turun hujan air meluap.

”Khususnya dekat air mancur setiap hujan ada genangan. Lokasinya sebelah gereja. Begitupun di Tamrin. Laporan masyarakat demikian. Setiap kali hujan airnya meluap,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus, kemarin (12/6).

Penataan drainase dialokasikan anggaran yang berbeda. Nominalnya yang paling besar hanya Rp 180 juta. Selebihnya nominalnya kecil-kecil di bawah seratus jutaan. Seperti di KS Tubun hanya dialokasikan sekitar Rp 60 juta.

Memang penataan belum bisa menyeluruh di wilayah Rembang kota. Seperti yang belum terjangkau di Sumbermukti atau selatan pasar kota. Disana kendala hampir sama. Setiap kali hujan muncul genangan air.

”Di situ belum bisa dilaksanakan. Karena disana permasalahannya dari anggaran. Harusnya penataan disana menggunakan lelang,” katanya.

Memang tidak hanya anggaran saja. Dari sisi teknis juga sama. Di bawah saluran tersebut juga ada fasilitas umum. Mulai kabel Telkom maupun pipa PDAM. Kalau diarahkan swakelola kegiatan tersebut maksimal pemakai tambahan Rp 200 juta.

“Khawatirnya saat dilakukan pengerukan alat berat. Terkena fasilitas umum. Resiko besar tersebut dihindari. Karena sisi anggaran hanya kecil. Sehingga belum berani kalau diarahkan lewat swakelola,” imbuhnya. 

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia