alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Duduk Menghadap Punggung

08 Juni 2020, 10: 50: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SAYA paling benci meja kerja yang menghadap tembok. Alias karyawan duduk menghadap tembok. Tetapi, sekarang saya harus membuka diri. Mengizinkan apabila ada penataan meja seperti itu.

Karyawan yang menghadap tembok itu cenderung diam. Tidak berkomunikasi dengan teman sekerja. Lama-lama menjadi individualistis. Itu tidak baik bagi organisasi. Tidak sehat bagi lingkungan sosial.

Di Radar Kudus dan Radar Semarang saya perhatikan betul penataan tempat duduk karyawan. Mereka harus saling berhadapan. Memungkinkan terjadinya komunikasi. Saling sapa. Mengobrol tentang apa saja.

Untuk sementara penataan tempat duduk seperti itu menjadi tidak tepat. Kalau lupa memakai masker bisa berbahaya. Bila batuk, droplet-nya (percikan butiran air dari mulut dan hidung) bisa langsung ditangkap muka temannya. Kalau mereka membawa virus Covid-19 bisa langsung menular.

Mulai hari ini Radar Kudus dan Radar Semarang menerapkan hidup new normal. Work from home (WFH) yang diterapkan sejak mengganasnya Covid-19 dicabut. Seluruh karyawan di semua kantor masuk seperti biasa. Tentu dengan protokol kesehatan yang ketat.

WFH memiliki banyak kelemahan. Perusahaan telah mengevaluasi secara detail. Kesimpulannya, terjadi banyak penurunan kinerja. Bekerja dari rumah tidak maksimal. Rasa liburnya menonjol. Terutama yang memiliki anak kecil. Bahkan suami atau istri pun bisa mengganggu. Di luar perusahaan juga terbukti banyak kehamilan baru saat pandemi Covid-19.

Dalam new normal aturan diberlakukan jauh lebih ketat. Seluruh karyawan wajib mengenakan masker. Kalau tidak, akan dipulangkan. Tidak hanya ditegur seperti sebelumnya. Begitu sampai kantor harus cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer. Semua meja, komputer, dan peralatan kerja lain dibersihkan dengan alkohol. Aturan ini telah disampaikan dalam rapat umum karyawan akhir pekan lalu.

Seluruh karyawan tidak boleh bersentuhan satu sama lain. Yang ini sepele tetapi sering dilupakan. Terutama karyawan yang terbiasa berjabat tangan.

Tempat duduk mereka telah ditata ulang. Tidak ada lagi yang berhadapan muka. Kalau di Kudus kira-kira seperti ruang kelas di sekolah. Karyawan duduk menghadap punggung temannya kecuali yang paling depan. Di Semarang ada yang berhadapan. Tetapi diberi jarak dua meter.

Direksi telah mengumumkan, apabila ada karyawan yang sakit panas dan batuk, meskipun ringan, langsung diberi dispensasi tidak masuk kantor. Mereka harus memeriksakan diri ke dokter. Semua manajer diberi tugas khusus mengawasi mereka.

Mulai hari ini juga diberlakukan aturan baru. Seluruh karyawan yang bertemu orang di luar kantor harus mengenakan masker dan hand sanitizer untuk melindungi mereka dan orang lain. Karena, tidak ada yang tahu seseorang terkena Covid-19 atau tidak. Kecuali, mereka yang selama ini sudah ditangani tim kesehatan. Pelanggaran aturan ini diberi sanksi, seperti tidak mengenakan seragam pada hari yang ditentukan.

Rapat telah diatur di luar ruang. Ini sudah dilakukan beberapa waktu sebelumnya. Kebetulan, baik Radar Kudus dan Radar Semarang memiliki ruang terbuka yang cukup. Malah Radar Kudus memiliki joglo besar yang pembangunannya selesai ketika Covid-19 merebak. Radar Semarang punya kolam renang. Rapat bisa dilakukan di sana.

Karena sudah telanjur biasa, rapat virtual kemungkinan masih dilakukan. Terutama dengan karyawan yang tersebar di berbagai daerah. Rapat seperti ini juga sudah dicoba. Termasuk ketika memperingati HUT. Peringatan HUT ke-18 Radar Kudus telah dilakukan 3 Juni lalu. Karyawan berkelompok di kantor-kantor biro. Acara intinya di joglo Radar Kudus. HUT Radar Semarang yang jatuh 1 April dilaksanakan di pool side. Juga diikuti seluruh karyawan secara virtual.

Begitulah new normal. Normal dalam kondisi tidak normal.(hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia