alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Hastomo Arbi, Pelatih Bulu Tangkis

Suka Koran, Jadi Pelanggan Pertama Jawa Pos di Kudus

03 Juni 2020, 07: 49: 32 WIB | editor : Ali Mustofa

TAK BISA LEPAS DARI KORAN: Hastomo Arbi menjadi pelanggan pertama pembaca Jawa Pos. Dari situ dia pernah mendapatkan piagam dari pihak Jawa Pos. Foto Hastomo Arbi membawa koran Jawa Pos di depan Piala Thomas yang terdapat di GOR Djarum, Kudus kemarin.

TAK BISA LEPAS DARI KORAN: Hastomo Arbi menjadi pelanggan pertama pembaca Jawa Pos. Dari situ dia pernah mendapatkan piagam dari pihak Jawa Pos. Foto Hastomo Arbi membawa koran Jawa Pos di depan Piala Thomas yang terdapat di GOR Djarum, Kudus kemarin. (VEGA MA’ARIJIL ULA/RADAR KUDUS)

Share this      

Hastomo Arbi punya hobi membaca. Bahkan, dia tidak bisa lepas dari koran Jawa Pos Radar Kudus. Sampai saat ini, dia masih membaca sekalipun di toilet.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus, Radar Kudus

LEGENDA hidup bulu tangkis Indonesia Hastomo Arbi menyambut Jawa Pos Radar Kudus kemarin. Di sebuah aula dekat Hall of Fame GOR Djarum Jati, dia tampak masih berkeringat. Kaus bertuliskan Djarum Coaching Clinic yang didominasi warna merah serta hitam di lengan itu terlihat basah.

SUKA KORAN: Hastomo Arbi dengan koran Jawa Pos di sela-sela melatih atlet bulu tangkis di GOR Djarum, Jati, Kudus, kemarin.

SUKA KORAN: Hastomo Arbi dengan koran Jawa Pos di sela-sela melatih atlet bulu tangkis di GOR Djarum, Jati, Kudus, kemarin. (VEGA MA’ARIJIL ULA/RADAR KUDUS)

Kebetulan saat itu dia baru saja mendampingi anak didiknya berlatih bulu tangkis di GOR Djarum, Jati, Kudus. Saat ini kesibukannya memang melatih. Hal ini dilakukan setiap Senin sampai Sabtu. Dari pukul 06.00 sampai pukul 18.00.

Sambil duduk santai, Hastomo menceritakan kali pertama dia membaca koran Jawa Pos. Tepatnya pada 1994. Saat itu dia menjadi pelanggan pertama di Kudus yang membaca koran Jawa Pos. Pada 26 tahun silam, Hastomo biasa membeli koran di toko di depan pabrik Nojorono. Tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman. Menurutnya, saat itu harganya masih sekitar Rp 1.500.

”Tahun 1994 itu saya sebagai pelanggan pertama Jawa Pos di Kudus. Tahunya itu pas di Jawa Pos ada syukuran. Di situ saya dipanggil dua atau tiga orang saya agak lupa. Pokoknya dari Jawa Pos, terus diberi piagam sebagai pelanggan pertama,” jelasnya.

Peraih Thomas Cup 1984 itu mengaku suka dengan koran Jawa Pos. ”Awalnya ada tiga koran. Tapi akhirnya yang dua saya hentikan. Saya putuskan Jawa Pos saja. Sampai saat ini masih baca,” sambungnya.

Menurut pria kelahiran 5 Agustus 1958 itu, halaman olahraga Jawa Pos terbilang lengkap. Halaman Sportainment-nya dirasa besar oleh Hastomo. Ditanya soal cabang olahraga favoritnya, Hastomo mengungkapkan Moto GP, Formula 1, dan balap sepeda. ”Sportainment-nya kan gede tuh. Mas Azrul (mantan direktur Jawa Pos) itu ulasannya detail. Terutama soal GP dan balap sepedanya itu detail banget,” ujar Hastomo.

Bahkan pria yang doyan makan gado-gado itu sampai rela menggunting berita-berita olahraga di koran Jawa Pos yang menurutnya menarik.

Kebiasaan membaca koran setiap pagi ternyata juga membuat Hastomo memiliki kebiasaan unik. Yakni membaca koran sambil buang air besar. Sampai sekarang kebiasaan itu masih dilakukan. ”Kalau di hotel juga yang saya cari ya koran. Sambil baca di toilet. Biasanya sampai 30 menit. Ini ditulis juga gak apa-apa kok,” ujar Hastomo sambil tertawa.

Menurut peraih medali emas SEA Games 1979 itu, membaca koran di toilet lebih nikmat. ”Jadi saya bacanya itu pagi. Garis besarnya dulu. Biasanya halaman Kudus dulu. Setelah itu Jawa Pos-nya. Kalau koran edisi hari ini misalnya belum selesai, saya baca besoknya. Tapi memang nggak bisa seluruhnya,” terangnya. Bahkan, menurutnya di kantor GOR Djarum, Jati, Kudus, juga ada koran Jawa Pos.

Di HUT ke-18 Radar Kudus, Hastomo berharap agar tetap eksis. ”Harapan saya untuk Jawa Pos dan Radar Kudus tetap eksis. Dan semoga sukses selalu,” doanya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia