alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Gulai Kambing setelah Khotbah

26 Mei 2020, 10: 29: 37 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (Radar Kudus)

Share this      

SEUMUR-umur baru sekali saya berkhotbah. Saat salat Idul Fitri pada Ahad kemarin itu. Inilah berkah covid-19.

Khotbah itu sama dengan pidato.  Sudah berkali-kali saya melakukannya. Di depan pejabat sekalipun. Di depan bupati, wali kota,  kapolda, dan pangdam. Di hadapan belasan ribuan orang juga sering. Tapi, kali ini rasanya beda. Meski hanya di depan anak-anak, grogi juga.

Biasanya, kalau di rumah Sidoarjo saya salat Id di jalanmasuk perumahan. Sedangkan kalau di Kudus, di masjid kampung tempat kelahiran. Kali ini saya patuh pada anjuran agar tidak salat Id di masjid, lapangan, atau tempat umum lainnya, saat pandemi korona.

Sebenarnya masih banyak masjid yang menyelenggarakan salat Id. Termasuk di kampung sebelah perumahan. Meski demikian, saya mantap memutuskan untuk tetap salat Id di rumah. Berjamaah. Lokasinya di kamar depan, tempat anak ragil biasa tidur. Kamar itu sudah dipakai salat berjamaah keluarga selama Ramadan. Kebetulan di situ ada satu tempat duduk yang bisa dipakai khotib saat pergantian dari khotbah pertama dan kedua.

Jamaah salat itu hanya lima orang. Saya sebagai imam dan keempat anak sebagai makmum. Itu sudah lebih dari batas minimal. Paling sedikit salat id berjamaah itu empat orang.

Salat Id juga bisa dilaksanakan munfarid (sendirian). Tempatnya bisa di mana saja. Saat tidak pandemi korona pun begitu. Banyak orang yang sebelumnya tidak tahu. Kali ini menjadi pelajaran. Menyadarkan mereka. Mendudukkan pada syari’at yang sebenarnya.

Saya merayakan Idul Fitri sederhana. Malam sejak selepas berbuka puasa, memperbanyak takbir, tahmid, dan zikir. Inilah perayaan Idul Fitri yang sesungguhnya. Sungkem kepada Sang Pencipta. Berpuja-puji dengan hati berbunga-bunga. Kelak itulah yang akan menjadi kunci pembuka ketika hati para manusia pada mati. Maunya berlama-lama. Tapi tidak bisa. Yang penting mengena.

Puncaknya, salat Id. Selepas pukul 06.10. Setelah matahari sepemandangan mata orang berdiri tegak. Namun, sejak usai salat subuh sudah mengundangkan takbir. Sambil menunggu anak-anak antre mandi yang menjadi kesunahan.

Setelah anak-anak berkumpul baru saya komando dengan “Assolatu li’idilfitri jami’ata rohimakumullah.” Salat id, sekalipun berjamaah, tidak menggunakan iqamah seperti salat wajib berjamaah.

Salatnya sama seperti salat Jumat. Hanya dua rakaat. Bedanya, pada awal rekaat pertama salat Id bertakbir tujuh kali sambil mengangkat tangan dan lima kali pada rekaat kedua. Selebihnya sama persis seperti salat lainnya. Saya mengikuti anjuran Gus Baha (KH Bahauddin Nursalim, ahli tafsir dan fiqih) agar salat berjamaah itu tidak lama. Ayatnya pendek saja. Agar makmum  bisa mengikuti dengan baik

Usai salat lantas saya berdiri. Berkhotbah. Seperti khotib pada umumnya. Tapi tidak di mimbar. Juga tidak memegang tongkat.  Meski tidak biasa, anak-anak tidak tertawa. Mereka duduk bersila. Ketiga anak-laki-laki mengenakan baju koko. Warnanya berbeda-beda. Saya yang malah mengenakan baju lengan pendek slim fit abu-abu. Tidak ada yang bersurban. Tidak masalah. Yang penting menutup aurat.

Khotbah salad Id itu simpel. Tidak perlu berlama-lama seperti pada umumnya. Rukunnya hanya lima. Yaitu membaca tahmid (Alhamdulillah dan seterusnya), membaca syahadat (Asyhadu an-lailaha illallah dan seterusnya), membaca salawat (Allahumma salli ala Muhammad dan seterusnya), berpesan (cukup mengatakan “Bertaqwalah kamu kepada Allah,” sudah sah), dan mengutip ayat Alquran (satu ayat juga sudah cukup). Yang lain-lain, termasuk takbir sembilan kali pada khotbah pertama dan tujuh kali pada khotbah kedua, itu sunnah.

Saya hanya mengutip ayat Qulhu (Al-Ahad) pada khotbah pertama. Sedangkan pada khotbah kedua  mengambil surat Annisa ayat 103. Potongannya, “Innassolata kanat alalmukminina kitaban mauquta” (Sesungguhnya salat itu kewajiban yang sudah ditentukan waktunya  bagi orang yang beriman).

Khotbah saya gunakan untuk menjelaskan salad Id itu sendiri yang tidak seperti biasanya. Paling tidak agar anak-anak paham. Anak-anak kelihatan serius memperhatikan. Padahal saya santai seperti orang bercerita.

Sebenarnya, salad Id itu tidak wajib. Tidak seperti salat Jumat maupun salat lima waktu lainnya. Hukumnya hanya sunnah. Bila dilaksanakan mendapat pahala. Kalau ditinggalkan tidak berdosa. Tetapi, di Indonesia salah kaprah. Setiap kali Idul Fitri maupun Idul Adha, jamaahnya membeludak.  Masjid dan lapangan tidak cukup. Banyak orang yang lebih mementingkan salad Id.

Memang sunnahnya salad id itu tergolong muakkad. Yaitu sunnah yang dipentingkan. Bagi laki-laki maupun perempuan. Termasuk kaum remaja. Kecuali anak-anak yang belum baligh (batas terkena kewajiban menjalankan syariat Islam).

Dalam khotbah saya bercerita, Idulfitri di Indonesia berbeda dengan negara lain. Warna budayanya lebih kental dibanding ajaran syariatnya. Menjelang Idul Fitri orang sudah beramai-ramai membeli barang-barang baru. Perlengkapan rumah tangga baru, pakaian baru, sampai uang pun baru. Pasar, mal, dan toko-toko kewalahan melayani pembeli. Termasuk pada zaman korona ini.

Di Arab Saudi, pusatnya ajaran Isam, tidak ada budaya seperti itu. Usai salat Id, perayaan Idul Fitri selesai. Di Indonesia masih dilanjut dengan bersalam-salaman. Makan kupat  dengan lauk opor dan sambal goreng ati. Pesta mercon dan kembang api. Berkunjung ke sanak-famili. Halal bi halal. Kalau masih ada duit dihabiskan di tempat rekreasi.

Saat terjadi pandemi korona sekarang ini, lantas menjadi persoalan berarti. Pemerintah pontang-panting melarang orang mudik. Padahal, sebelumnya mereka berlomba untuk menjemput para perantau. Agar menghabiskan uang di kampung halaman.

Keseluruhan khotbah tidak lebih dari  tujuh menit. Tidak seperti khotbah pada umumnya yang kadangkala sampai sejam. Entah diperhatikan atau tidak.

Usai salat, anak-anak saya ajak makan bersama. Menunya gulai kambing. Nasinya biasa. Tidak lontong tidak ketupat. Saya sendiri yang memasak pada dini hari. Setelah itu baru bersalam-salaman. Dilanjut silaturahim ke pusara ibunya anak-anak. Perayaan Idul Fitri selesai.

Pandemi korona menjadi pelajaran yang amat berharga. Bukan hanya membiasakan orang hidup sehat dengan protokol yang ketat. Menjalankan ajaran agama dan budaya pun harus tepat.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin. (hq@Jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia