alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Puasa, Sikap Sosial, dan Kualitas Iman

21 Mei 2020, 12: 14: 12 WIB | editor : Ali Mustofa

H. Abdul Karim

H. Abdul Karim (dok pribadi)

Share this      

TUJUAN akhir setiap menjalankan ibadah termasuk puasa Ramadan adalah mendekatkan diri  kepada Allah. Berupaya  agar selama dan setelah menjalankan ibadah berada pada posisi terjaga dari perbutan yang dilarang oleh syariat, dan senantiasa dapat mewujudkan sikap dan perilaku sesuai dengan kaidah islamiyah. Ini sesungguhnya yang  diharapkan sebagaimana disebutkan dalam ayat Alquran, bahwa diwajibkan ibadah puasa itu pada akhirnya agar dapat mencapai derajat takwa yang benar-benar bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Sikap yang terbentuk dari mengamalkan ibadah puasa sesungguhnya tidak terbatas pada perilaku individual tetapi juga sikap sosial. Perilaku individual dari merasakan lapar dan haus diharapkan dapat menumbuhkan sikap sabar yang merupakan kunci utama untuk membentuk perilaku kehidupan. Sikap sabar di sini, merupakan bentuk sikap menahan diri dari melakukan perbuatan yang diharamkan Allah dan mendorong diri untuk senantiasa berbuat sesuai dengan kewajibanya secara syar’i.

Pada akhirnya, oleh karena puasa maka tidak ada perasaan ketersinggungan yang menimbulkan kemarahan, sehingga menyebabkan munculnya perbuatan yang menyakiti baik kepada diri sendiri terlebih kepada orang lain. Sikap seperti ini tumbuh dan berkembang atas dasar kuatnya  rasa kepatuhan dan kecintaan kepada Allah secara ihklas lahir batin.

Berdasar sikap mental yang telah berbentuk sabar, maka dalam berperilaku sosial berkumpul dan berinteraksi dengan orang lain sama sekali tidak memunculkan rasa kebencian, iri, dengki, marah atau lainnya. Semua orang dalam komunitasnya  ditempatkan dalam kerangka dapat memberikan kontribusi secara fungsional terhadap diri seseorang menurut status, peran dan jenjangnya masing-masing.

Terkait dengan ibadah puasa, Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan dalam sebuah Hadisnya, “Rubba shoimin laisa lahu min shiyamihi illal ju’a wal a’thsya (HR. Ibnu Majah)”. Banyak orang menjalankan puasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Hal ini karena selama menjalankan ibadah puasa tidak mampu menjaga ucapan dan perbuatannya dari hal-hal yang tidak baik dan menyakiti pihak lain. Puasa yang semestinya membentuk sikap dan perilaku manusia bertaqwa, justru memunculkan perseteruan yang menimbulkan ketidaktenangan dalam kehidupan bersama.

Sikap sosial yang mesti terbentuk dari ibadah puasa adalah kedermawanan sebagai bentuk kepedulian yang muncul akibat dari panggilan hati betapa susahnya orang yang sedang merasakan hidup dalam kekurangan. Tentunya ini diwujudkan dalam bentuk tindakan yang sesuai dengan kondisi kemampuan untuk melakukan sedekah. Sampai Nabi pernah memberikan contoh berkaitan dengan kedermawanan di bulan Ramadan, barang siapa memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya (HR: At-Titmidzi).

Agar ibadah puasa kita memberi makna dan penuh berkah, maka perlu menjaga, pertama, ucapan lisan jangan sampai mengeluarkan perkataan yang menimbulkan kebencian terhadap orang lain karena bertentangan dengan sikap yang sesungguhnya dimaksudkan dengan hakekat ibadah puasa.

Kedua, bersikap sosial yang menumbuhkan sikap sayang dan keharmonisan sehingga orang lain merasa dihargai dan dihormati sebagai layaknya menghargai diri sendiri. Ketiga, bersedekah sesuai kemampuan yang mampu memberi manfaat bagi penerima meskipun tidak seberapa jika dihitung secara nominal, namun bisa menumbuhkan kebahagiaan tersendiri sehingga menciptakan keharmonisan.

Jelaslah bahwa, hakikat kualitas keimanan tidak ditentukan oleh seberapa tinggi pengabdian diri di hadapan Allah, namun kesempurnaannya terletak pada bagaimana seorang muslim mampu membuat kualitas ketaqwaan individualnya menjadi media untuk berperilaku sosial yang baik dan bijak dengan berharap keridloan Allah.

Implementasi norma agama dalam kehidupan sosial menjadi tempat bermusabaqah untuk mendapatkan derajat yang tinggi secara individual dan sosial. Hasilnya adalah berbentuk kehidupan di masyarakat yang mengerti dan memahami serta menyadari pentingnya menjaga keharmonisan hidup dalam kebersamaan yang menghargai perbedaan.

Ibadah puasa sebagai ibadah individual menjadi media untuk membentuk kualitas pribadi yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan sosial yang benar-benar nyata agar tercipta  perubahan yang menuju kebersamaan. Inilah mengapa puasa Ramadan diakhiri dengan kewajiban mengeluarkan zakat pribadi (zakat fitrah) yang diberikan kepada yang berhak, sehingga semuanya ikut merasakan kebahagiaan di hari yang fitri itu. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia