alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Berkah untuk Bumi, Refleksi bagi Kami

20 Mei 2020, 13: 54: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

Muhamad Imaduddin

Muhamad Imaduddin (dok pribadi)

Share this      

BULAN suci Ramadan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat dunia tengah berada pada kondisi pandemi karena persebaran Covid-19. Ramai riuh Ramadan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat dihimbau untuk melaksanakan ibadah di tempat tinggalnya masing-masing ataupun menghindari agenda dengan pengerahan massa. Kebijakan social dan physical distancing juga telah diterapkan sejak awal persebaran virus ini. Sedih memang melihat kondisi Ramadan yang tidak seperti biasanya. Meskipun demikian, ibadah di tengah kondisi pandemi ini harus tetap berjalan tanpa ada pengecualian.

Di sisi lain ada hal-hal yang begitu positif di tengah pandemi ini. Bumi sedang berada pada kondisi terbaiknya. Pandemi ini menyiratkan seolah-olah bumi sedang mengirimkan pesan indahnya kepada manusia, “Tolong berhenti sejenak!. Berhenti sesaat untuk mengeksploitasiku!. Berhenti merusak diriku!. Berikan waktu sejenak agar aku dapat bernafas dan pulih atas berbagai kerusakan yang engkau perbuat!.”

Dilansir dari Tehran Times, untuk pertama kalinya secara berturut-turut, emisi gas rumah kaca, konsumsi bahan bakar fosil, lalu lintas udara, darat dan laut secara drastis telah menurun. Kondisi ini menjadikan  emisi gas rumah kaca pada Maret 2020 sama dengan kondisi pada tahun 1990-an, 30 tahun yang lalu. Menurut Darvish, kondisi kita yang saat ini tidak banyak melakukan pergerakan dan mobilisasi, menjadikan alam dan lingkungan luar lingkungan sedikit terdampak pada jumlah polisi suara dan gempa bumi.

Bumi sedang senang dan merayakan kondisi terbaiknya saat ini. Allah telah menunjukkan sisi lain dari adanya pandemi ini. Allah telah memberikan pencerahan bagaimana Bumi menjadi semakin baik dengan adanya kondisi seperti ini. Kondisi yang memang harus benar-benar dirayakan bagi bumi. Bumi semakin membaik kondisinya. Tempat tinggal manusia sedang diperbaiki agar lebih nyaman untuk ditinggali.

Ramadan kali ini patut disyukuri. Mengkondisikan syukur kita atas berbagai kondisi yang ada. Kebijakan untuk bekerja di rumah, menjadikan anggota-anggota keluarga menjadi semakin erat dan dekat secara emosional. Kebijakan untuk belajar dari rumah menjadikan guru ataupun pendidik semakin melek teknologi dan mengeksplorasi teknologi untuk diterapkan dalam pembelajaran. Kebijakan belajar dari rumah, menjadikan siswa lebih harus mengatur pencapaian dirinya dengan terget-target yang direncanakan, menumbuhkan sikap kemandirian dalam belajar, serta mengembangkan sikap pengambilan keputusan.

Bagi tenaga medis, perlu disyukuri bahwa dengan adanya kondisi seperti ini, keterampilan mereka benar-benar dilatih. Kecerdasan dalam menghadapi situasi seperti ini sedang ditempa. Allah sedang menginginkan kita untuk berinovasi dengan ragam IPTEK dengan cepat. Menguji kita dengan kondisi pandemi ini agar manusia dapat mengoptimalkan seluruh potensinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan pada kondisi seperti ini.

Bulan Ramadan kali ini penuh dengan tantangan dan hikmah yang kita peroleh dengan kondisi yang jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadan yang akan segera berakhir mengharuskan kita merefleksikan apa yang kita kerjakan selama ini, dan apa yang akan kita kerjakan ke depannya.

Melihat lebaran bertahun-tahun sebelumnya, suasana Idul Fitri tahun ini akan menjadi berbeda. New Lebaran, kita harus kembali menghayati makna Idul Fitri yaitu mensucikan diri. Sungguh luar biasa dengan kondisi seperti ini.

Sebagai manusia kita dituntut untuk memikirkan alternatif-alternatif lain demi mencapai apa yang kita harapkan. Jika kita masih mengaharapkan silaturahmi pada Idul Fitri tahun ini, kita tidak harus bersilaturahmi secara langsung. Kita dapat memanfaatkan teknologi untuk mengadakan pertemuan melalui video meeting. Jika kita terbiasa membawa bingkisan untuk hadiah lebaran, kita bisa menggantinya dengan mengirimkan bingkisan tersebut. Jika kita terbiasa makan bersama di keluarga besar, maka kita bisa mencoba untuk memasak bersama keluarga kecil yang ada.

Ramadan tidak bersama kita sepanjang tahun. Meskipun demikian, semangat Ramadan harus tetap ada sepanjang tahun. Istiqamah dan semakin meningkatkan kualitas ibadah, perlu dilakukan sepanjang waktu. Pandemi ini merupakan tantangan dan pengalaman yang berharga dalam menjalani Ramadan, serta dalam menyambut hari raya Idul Fitri tahun ini. Pengalaman ini suatu saat akan bisa diceritakan kepada anak cucu kita. Kondisi di mana lebih nyaman lebaran tanpa berjabat tangan, lebaran tanpa harus bersalam-salaman, lebaran tanpa bepergian. Bersama bumi yang juga sedang “merayakan” kondisinya saat ini, Idul Fitri kali ini akan menjadi momen berharga menemukan kembali makna Ramadan dalam megendalikan diri, serta Idul Fitri sebagai kondisi kembali menyucikan dan meningkatkan kualitas diri sebagai hamba Allah yang ada untuk menjaga bumi ini. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia