alexametrics
Sabtu, 06 Jun 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Ramadan, Perspektif Sains dan Momentum Bermuhasabah

19 Mei 2020, 08: 56: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

Arghob Khofya Haqiqi, M.Pd.

Arghob Khofya Haqiqi, M.Pd. (dok pribadi)

Share this      

RAMADAN tahun ini terasa berbeda dengan tahun sebelumnya. Adanya pandemi Covid-19 yang mulai ada pada bulan Maret hingga sekarang di Indonesia mengubah kehidupan yang biasa kita jalankan. Adanya social distancing, menggunakan masker, pola hidup bersih dengan cuci tangan, bekerja dari rumah hingga di jagat maya ramai dengan tagar #dirumahaja.

Keadaan yang masih ada hingga bulan Ramadan ini juga menyebabkan adanya perbedaan ritual maupun ibadah yang biasa kita lakukan. Seluruh elemen masyarakat sekarang menjadi tidak boleh berada dalam kerumunan, baik itu di tempat ibadah ataupun tempat umum lainnya. Pasalnya pemerintah melalui Kementerian Agama telah meminta masyarakat untuk menjalankan bulan Ramadan di rumah.

Dengan adanya kondisi dan waktu yang lebih lama di rumah daripada sebelumnya, menjadikan kita dapat memaknai bulan Ramadan ini dari berbagai perspektif. Salah satunya memahami dan memaknai bulan Ramadan dari perspektif ilmu pengetahuan atau sains.

Beberapa hal yang ada di Ramadan erat sangat kaitannya dengan berbagai fenomena sains. Seperti ketika menunjukkan awal Ramadan pemerintah menggunakan hilal. Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender Islam. Hilal dalam sains ini terkait dalam ilmu astronomi. Kemudian pada bulan Ramadan kita berpuasa selama satu bulan penuh, adanya waktu satu bulan penuh selama 29 atau 30 hari ini dikarenakan adanya Revolusi bulan. Revolusi merupakan gerak berputarnya bulan mengelilingi planet bumi.

Contoh yang lain lagi, dalam berpuasa kita diharuskan menahan segala sesuatu dari hal yang membatalkan mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dalam sains waktu tersebut merupakan akibat adanya rotasi bumi. Rotasi bumi merupakan gerak planet bumi berputar pada porosnya.

Rotasi bumi menyebabakan adanya perubahan siang dan malam. Pada bulan Ramadan juga terdapat Nuzulul Quran yang jatuh pada 17 Ramadan. Pada malam inilah nabi Muhammad mendapatkan wahyu pertama kali sebagai petunjuk untuk umat Islam. Selain itu juga terdapat malam lailatul qadar (malam seribu bulan), di malam ini artinya segala kebaikan, ibadah kita senilai dengan seribu bulan lamanya.

Nyaris semua yang ada pada bulan Ramadan terkait dengan waktu, dalam hal ini seperti teori Albert Einstein yang menjelaskan ada relativitas waktu, waktu itu relatif. Artinya ketika kita berdiam diri untuk menunggu waktu berbuka, waktu sahur dan kegiatan lain di bulan Ramadan  akan terasa berbeda dibandingkan ketika kita menunggu waktu lainnya. Untuk itulah agar waktu tidak terbuang percuma maka sebaiknya diisi dengan hal-hal yang positif selama bulan puasa. Seperti yang difirmankan dalam kitab suci Alquran berikut:

 ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Ayat tersebut menjelaskan perintah puasa sudah diwajibkan oleh Allah. Tujuannya adalah agar kita menjadi orang yang lebih bertakwa. Adanya kondisi pandemi sekarang ini dan berdasarkan perspektif sains tadi maka semestinya ini menjadi momentum yang tepat untuk bermuhasabah diri. Ketika di rumah maka waktu untuk perhatian terhadap keluarga, pasangan suami istri dan anak anak akan bertambah. Mulai dari sahur bersama, buka bersama, tadarus, hingga tarawih bersama di rumah dapat dilakukan untuk meningkatkan ketakwaan diri kita.

Bulan Ramadan juga menjadi momentum bermuhasabah sosial, adanya kondisi yang mengharuskan kita tidak boleh berkerumun dan berinteraksi secara langsung di luar. Harusnya tidak menjadikan diri kita apatis terhadap yang lain. Terlebih di bulan Ramadan ini kita dapat bersedekah membantu masyarakat lain yang terdampak adanya pandemi ini. Selain itu, juga adanya kewajiban zakat di bulan Ramadan dapat menjadi momentum untuk mensucikan diri dan juga membantu masyarakat yang membutuhkan.

Semoga ikhtiar kita dalam bulan Ramadan selama pandemi Covid-19 ini memberikan kemanfaatan terhadap sesama dan memperoleh rida Allah. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia