alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Rasanya Ada yang Hilang

04 Mei 2020, 10: 14: 08 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

”Biasanya kalau Pak Bae (Baehaqi) rawuh mesti heboh,” kata Wakil Wali Kota Semarang Havearita Gunaryanti Rahayu. Pesan Whatsapp itu dikirim Sabtu, 2 Mei 2020. Seolah mengingatkan saya. Hari itu Kota Semarang berulang tahun ke-473. Persis di Hari Pendidikan Nasional.

Sebelumnya saya memang meluangkan waktu untuk datang ke pemkot persis di hari ulang tahunnya. Tidak lain untuk menyemangati pemerintahan yang dipimpin Wali Kota Hendrar Prihadi dan Wakil Wali Kota Havearita Gunaryanti Rahayu itu. Kali ini absen. ”Ada yang hilang, rasanya,” kata Bu Ita, panggilan Havearita.

Itulah ulang tahun paling sederhana. Tidak ada upacara. Apalagi perayaan seperti tahun lalu. Bahkan sekadar sidang DPRD pun tidak. Wali kota hanya menyampaikan pidato secara on line di rumahnya. Para pejabat mengikuti dari tempat masing-masing. Untuk menjaga kesakralannya, Pak Hendi mengenakan beskap.

Hari itu, sampai hari ini, dan entah sampai kapan, Indonesia masih berduka. Korban virus korona terus berjatuhan. Total orang yang positif terserang kemarin, mencapai 10.843. Tetapi yang sembuh sudah dua kali lipat (1.665) dibanding yang meninggal  (831). Khusus Kota Semarang tercatat 61 pasien positif korona.

Beberapa daerah tidak bisa menyelenggarakan perayaan ulang tahun. Seperti Kota Mungkid 22 Maret, Kota Magelang 11 April, Kabupaten Jepara 10 April, Kabupaten Demak 28 Maret, Kabupaten Batang 8 April, Kota Pekalongan 1 April, dan Kabupaten Semarang 14 Maret. Semua agenda perayaan dibatalkan.

Saat ini, rasanya tidak pantas merayakan apapun. Semua orang menderita. Yang kaya juga. Yang miskin apalagi. Ramadan menemukan esensinya. Berbagi perasaan. Berbagi penderitaan. Saling menguatkan. Membantu sesama.

Suatu saat saya mendapati pengakuan seorang wartawan yang setiap hari minum vitamin C 1000 mg. Saya sarankan untuk memecah menjadi empat. Sebagian untuk dirinya. Tiga bagian untuk tiga temannya. Atau diberikan kepada keluarganya. Itu sudah cukup memenuhi kebutuhan tubuh sehari.

Kelebihan vitamin C yang masuk ke tubuh itu tidak bisa disimpan. Demikian juga vitamin lain. Sudah pasti akan dibuang bersama air kencing. Ginjal yang memprosesnya menjadi berat. Makanan yang berlebihan juga percuma. Sementara itu banyak orang lain membutuhkan. Mereka tidak saja kekurangan vitamin. Sekadar untuk mengisi perut pun kesulitan.

Belakangan banyak dapur umum didirikan. Untuk mencukupi kebutuhan makan orang yang kelaparan. Banyak paket sembako dibagikan. Agar dapur orang-orang yang kekurangan tetap mengepul. Inilah hikmah di balik pandemi Covid-19. Momen untuk berbagai. Seberapapun kecilnya.

Kapolda Jateng Irjen Pol Dr H Rycko Amelza Dahniel Msi dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi SE MM sampai blusukan ke kampung-kampung. Untuk mengantar langsung paket sembako tersebut. Beliaua berperan seperti Kholifah Umar.

Pemilik Rumah Sakit Keluarga Sehat Pati dr. Benny Purwanto MARS merogoh koceknya Rp 100 juta untuk meringankan beban masyarakat. Uang itu dititipkan kepada Bupati Pati Haryanto. Di Semarang dia menyumbangkan beras 20 ton dan 1.000 APD (alat pelindung diri) melalui Pemkot Semarang.

Saya terenyuh. Saya renungi penderitaan teman-teman penjual koran, loper, dan pengasong. Mereka kesulitan keluar-masuk kampung. Ditolak ketika mengantar koran ke pelanggan. Dituduh menyebarkan virus mematikan. Kasihan. Padahal, mereka sendiri juga mempertaruhkan nyawa. Demi mengisi perut keluarganya.

Radar Kudus dan Radar Semarang yang saya pimpin tergerak. Perusahaan menyisihkan sebagian dana. Para karyawan menyokong. Jadilah paket sembako. Mereka sendiri yang mengemas. Mereka juga yang menyerahkan. Radar Kudus mengeluarkan 200 paket. Radar Semarang 350 paket.

Puasa mengajarkan kita untuk hidup sederhana. Kebetulan di jalan-jalan, gang, kampung, dan taman tidak banyak orang berjualan. Ibu-ibu menemukan peran utamanya. Memasak untuk keluarga. Anak-anak tidak berlomba membeli jajanan. Para remaja tidak nongkrong di keremangan malam hanya untuk menghabiskan uang emaknya.

Puasa bulan ini boleh menjadi yang terkhusyuk. Pengeras suara yang bersahut-sahutan berkurang. Banyak Salat Tarawih berjamaah di masjid dan musala ditiadakan. Gegap gempita menyambut berbuka mereda. Bukber (buka bersama) dan tarling (tarawih keliling) yang biasa dilakukan pejabat diliburkan. Jor-joran menyambut Idul Fitri sirna.

Rasanya memang ada yang hilang. Tapi, umat Muslim lebih mempunyai banyak kesempatan untuk menolong sesama. Meringankan bebannya. Boleh jadi ganjarannya melebihi puasa. Puasa hanya untuk diri sendiri. Bersedekah untuk orang lain. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia