alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Sepi Pembeli karena Covid-19, Harga Hewan Ternak Ikut Terjun Bebas

27 April 2020, 12: 33: 47 WIB | editor : Ali Mustofa

SEPI PEMBELI: Seorang warga melintas di antara ternak sapi. Kini di sektor peternakan tersebut harganya anjlok di tengah situasi saat ini.

SEPI PEMBELI: Seorang warga melintas di antara ternak sapi. Kini di sektor peternakan tersebut harganya anjlok di tengah situasi saat ini. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG, Radar Kudus - Jumlah pembeli di pasar hewan di Kabupaten Rembang sejak wabah covid-19 menurun drastis. Kondisi ini menyebabkan harga hewan ternak terjun bebas. Terutama untuk sapi penurunannya rata-rata Rp 1 juta per ekor.

Plt Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Idham Rachamdi tidak menampik daya beli hewan lesu sejak wabah covid. Kondisi ini diketahui dari informasi warga maupun kluster. Pemicunya pembelinya hampir tidak ada saat pasar hewan beberapa pekan lalu tutup. ”Pembelinya tidak ada. Penawaran dan permintaan tidak seimbang,” katanya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kudus.

Ini terlihat persoalan harga. Lalu beberapa barang tidak laku-laku. Keluhan ini terjadi di sektor peternakan sapi. Termasuk dirasakan dengan unggas. Kini yang terdampak peternak ayam potong. Karena mitra harganya masih bagus.

Cuma persoalan perpanjangan masa pemeliharaan. Dampaknya tenaga kerja dan pakan. Untuk harga sepakat sejak awal, karena ada MoU. Terkait dampak korona tersebut, pemerintah belum lama ini sudah menyalurkan bantuan dalam bentuk daging dan telur di desa merah.

”Turunnya sekitar Rp 1 juta dari harga normal. Memang tidak bisa diratakan harganya. Karena ada yang masih sapi pedet, bakalan, tua, beranak dan afkir. Ini disebabkan pembelinya minim. Padahal biasanya para pembeli datang dari berbagai kota,” ujarnya.

Mulai kabupaten tetangga Pati, Kendal, Semarang, Batang maupun Jabar. Karena Rembang merupakan sentra sapi. Rembang no 4 di Jateng. Makanya tidak heran banyak para pembeli berbondong-bondong ke kota garam.

”Mungkin murah di sini, dibandingkan asalnya. Karena Rembang produsen pedet. Kebanyakan sapi kita betina. Jadi mereka jual pedetnya,” katanya.

Ditambahkan populasi sapi 134 ribu. Itu belum termasuk pedet. Mungkin yang beranak sekitar 56 persen yang lahir. Sehingga harapannya 40-50 ribu ekor yang lahir/tahun. Sehingga usia 4 bulan ke atas sudah dijual.

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia