alexametrics
Minggu, 07 Jun 2020
radarkudus
Home > Sportainment
icon featured
Sportainment

Tak Kenal Libur, Pemain Persijap Tetap Wajib Latihan Fisik saat Korona

19 April 2020, 20: 35: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

TAK BISA SANTAI: Pemain Persijap Jepara terus digenjot latihan fisik meski berada di kediaman masing-masing.

TAK BISA SANTAI: Pemain Persijap Jepara terus digenjot latihan fisik meski berada di kediaman masing-masing. (VEGA MA’ARIJIL ULA/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA, Radar Kudus - Pilar Persijap Jepara tidak bisa santai meski liga tengah dihentikan oleh PSSI akibat pandemi korona. Pasalnya, penggawa Persijap wajib melakukan latihan fisik. Lalu, latihan yang sudah direkam dalam bentuk video itu dikirim ke pelatih fisik Andhika Mulia Pratomo.

Program latihan itu terdiri dari daya tahan dan individual training. Untuk daya tahan meliputi latihan lari. Minimalnya, pemain harus meraih tujuh putaran lapangan bola dalam durasi 15 menit. Sebab, dari latihan itu bakal berpengaruh pada VO2 Max (kadar oksigen yang masuk ke paru-paru) pemain.

Dari tujuh putaran lapangan bola itu, skornya 65. Itu skor VO2 Max minimal untuk pesepakbola. Output dari latihan daya tahan itu untuk mengukur seberapa jauh stamina pemain saat bertanding di lapangan.

Selain latihan daya tahan, pemain juga diwajibkan melakukan individual training. Berbeda dengan latihan daya tahan, individual training memang diberikan ke semua pemain. Namun, programnya berbeda. ”Misal pemain A bagus di speed, tapi kurang bagus di finishing. Nah, saya berikan program individual training aspek finishing ke pemain itu. Jadi tiap-tiap pemain program individual trainingnya beda-beda,” jelasnya.

Andhika menambahkan, tujuan dari individual training itu untuk memperbaiki kekurangan tiap-tiap pemain. Terlebih di masa jeda seperti saat ini. Dalam sehari, Asri Akbar dan kawan-kawan harus menyetorkan latihan daya tahan dan individual training. Itu dilakukan selama satu jam. Sekali dalam sehari. Boleh dilakukan pagi hari. Boleh sore hari. ”Pemain cukup menjalankan sekali saja. Boleh pagi boleh sore. Takutnya kalau dua kali latihan dalam sehari malah jenuh,” ujar dia.

Ditanya soal keefektifan latihan tersebut, Andhika menyebut fifty-fifty. Namun, menurut dia bakal terlihat pemain mana yang benar-benar menjalankan latihan dan pemain mana yang tidak menjalankan latihan. Menurut pelatih berlisensi B AFC itu, kondisi fisik pemain dapat dilihat dari denyut nadi pemain. ”Nanti kalau sudah latihan bersama lagi bisa kelihatan kondisi fisik pemain. Misal kami beri program sederhana kok denyut nadinya 160 sampai 170 itu berarti fisik mereka kedodoran dan nggak bagus,” tandasnya.

Andhika berharap kondisi kebugaran pemain tetap terjaga. ”Sebenarnya saat laga Liga 2 menghadapi Semeru (PS Hizbul Wathan, Red) fisik pemain sudah bagus tidak ada yang keram dan drop. Semoga ke depannya bisa meningkat lagi,” imbuhnya.

(ks/vga/him/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia