alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Wartawan Menjadi ODP Karantina (3)

Berusaha Hidup Selow

17 April 2020, 10: 15: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Achmad Ulil Albab, Wartawan Radar Kudus Biro Pati yang Meliput Mbah Roso sebelum Meninggal

Achmad Ulil Albab, Wartawan Radar Kudus Biro Pati yang Meliput Mbah Roso sebelum Meninggal (radar kudus)

Share this      

SABTU (28/3) saya mulai mengisolasi diri. Waktu itu masih di kantor Jawa Pos Radar Kudus Biro Pati. Masih kelimpungan mencari tempat ”pengasingan”. Susah-susah gampang cari tempat kos. Apalagi serba tergesa-gesa.

Hati rasanya kemrungsung. Serba ingin cepat. Tapi ya begitulah. Orang-orang di sekeliling saya mendesak segera tes. Tanpa disuruh saya juga berpikiran seperti itu. Ingin segera tahu kondisi tubuh saya. Belakangan mulai ramai apa yang disebut orang tanpa gejala (OTG). Saya tentu khawatir.

Di RSUD Soewondo Pati tidak ada fasilitas rapid test. Saya sudah kontak beberapa orang rumah sakit. Mulai dari staf humas sampai wakil direktur. Saya dapat info di RS dr Rehatta Kelet, Jepara, ada fasilitas tes korona. Gratis. Ada tujuh RS yang ditunjuk pemprov. Rumah sakit itu miliknya provinsi. Saya buru-buru kontak Pempin Redaksi (Pemred) Radar Kudus Zaenal Abidin. Kebetulan rumahnya Jepara. Saya sampaikan ingin tes di sana saja.

Saya minta kontak salah satu orang rumah sakit tersebut. Sudah dapat. Saya japri tidak ada respon. Camat Keling juga saya kontak, tidak ada respon. Saya kontak teman saya satu desa yang kerja di rumah sakit itu. Ternyata pelayanan hanya Senin-Jumat.

Saya tambah gregetan. Hari itu teman-teman wartawan yang tidak masuk daftar orang dalam pantauan (ODP) melobi ke Bupati Pati Haryanto. Minta difasilitasi rapid test. Bupati menyanggupi. Tapi alat tes itu harus didatangkan dari Semarang.

Saya pikir sore harinya bisa. Atau paling tidak Minggu pagi. Saya coba menunggu. Sayang sampai Minggu pagi tidak ada kabar pasti. Kepala Radar Kudus Biro Pati Abdul Rochim sudah cerewet. Tanya saya sudah dites atau belum. Dia sendiri sudah tes di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus bersama Staf Pemasaran Biro Pati Saiful Amri.

Saya terangkan apa adanya. Rokim lalu menjelaskan dia tidak rapid test. Hanya tes kesehatan cek darah biasa dan rontgen. Dari sana sudah bisa dilihat hasilnya. Biaya tes ditanggung kantor. ”Sudah coba saja tes sendiri ke RSUD (Pati). Nanti biaya diganti kantor. Ngomong apa adanya ke petugas kalau pernah kontak langsung dengan orang positif korona. Orangnya sudah meninggal. Pasti dilayani,” suruhnya.

Ya sudah saya turuti saja kata-katanya. Pagi itu saya langsung meluncur ke RSUD Soewondo Pati. Sekitar pukul 09.00. Hari itu saya sudah tinggal di kos. Jarak kos dengan RSUD cukup dekat. Tak sampai 10 menit.  Saya sering bersepeda sampai sana saat masih di kantor biro. Masuk ke gang-gang kompleks perumahan.

Di RSUD Soewondo saya diterima seorang dokter perempuan. Masih muda. Sayang wajahnya tertutup masker. Sepertinya cantik. Bicaranya lembut. Namun tegas. Kata-katanya sangat mudah saya pahami.

Saya sudah mengutarakan apa yang saya alami. Seperti instruksi bos saya di kantor biro. Saya ditanya ini-itu. Termasuk merasakan gejala yang saya alami. Saya terangkan sejujur-jujurnya. Saya merasa sehat. Hanya batuk. Tidak demam, tidak flu, dan tidak sesak nafas.

Saya minta tes darah dan tes-tes yang dilakukan kabiro saya di RSUD Kudus. Dokter itu tidak bisa melayani. Kecuali saya mengalami sesak nafas atau demam. Saya hanya disuruh mengisolasi mandiri. Sambil menyarankan saya memperbanyak minum air putih, olahraga, menjaga kebersihan, dan mengkonsumsi banyak vitamin. Sangat dianjurkan mengonsumsi buah-buahan. Jika mengalami gejala baru datang lagi ke rumah sakit.

Vitamin dengan dosis tinggi tidak dianjurkan. Saat itu saya menyebut sebuah merek. Karena saya mengonsumsi vitamin itu. Saya menurut saja. Pulang ke kos. Sebelumnya mampir ke toko buah. Beli jeruk satu kilogram. Besar-besar jeruknya. Satu kilo isinya cuma delapan buah. Jeruk medan tulisannya.

Siangnya sebuah pesan WA masuk. Dari Pak Lilik, staf bagian Prokompim (dulu namanya humas pemkab. Belum lama ini ada perubahan nomenklatur). Memberitahukan jadwal rapid test pada Senin (19/3) pukul 08.00. Pukul 10.37 pesan itu masuk. Saya hanya bisa pasrah. Tak perlu kemrungsung lagi. Instruksi dari kabiro sudah saya lakukan. Hasilnya saya informasikan. Selow sajalah batin saya.

***

Giliran rapid test tiba. Pagi-pagi sekali. Pukul 08.00 di teras Stadion Joyokusumo. Petugasnya dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pati.

Rapid test difasilitasi bupati. Tesnya sebentar. Menunggunya yang lama dari Sabtu sampai Senin. Membikin berdebar berhari-hari. Hati sudah saya teguhkan. Saya berprasangka baik. Doa-doa dan salawat sebisanya terus saya rapalkan dalam hati. Hasilnya tentu ingin yang terbaik. Oleh seorang teman yang saya anggap guru, saya dibekali beberapa doa. Dia dapat ijazah langsung dari kiai-kiai sepuh. Saya mantabkan. Saya amalkan. Hasil negatif… hasil negatif... Begitu ”wirid” yang saya ucapkan sebelum menjalani tes. Selain doa-doa lain.

Cuaca hari itu cukup cerah. Sekitar pukul 08.30 sinar matahari terasa hangat. Sambil menunggu tim dari Dinas Kesahatan datang, saya jalan-jalan kecil di bawah sinar matahari.

Di kompleks olahraga itu suasananya lengang. Hanya ada satu dua orang sedang jogging. Muter bangunan stadion -kandang dari klub Persipa Pati. Biasanya, halaman stadion kebanggan orang Pati itu, ramai sedari pagi. Kalau masih pagi untuk olahraga. Kalau sudah siang biasanya dibuat orang belajar mobil. Sorenya dipenuhi PKL dan anak-anak nongkrong. Halamannya beraspal. Rata dan halus permukaannya. Satlantas Polres Pati sering menggelar latihan ujian praktik SIM A di sana.

***

Saya dapat giliran tes kedua terakhir. Sebenarnya saya merasa biasa-biasa saja menghadapi tesnya. Tidak sepanik di malam meninggalnya Mbah Roso. Grogi sedikit iya. Ketakutan soal hasil tes sudah diurutan sekian. Ketakutan jarum suntiknya di urutan pertama.

Bayangan jarum suntik sudah muter-muter di kepala, sejak info jadwal rapid test dikirim oleh salah seorang staf di bagian Prokompim. Maklum saya tidak pernah disuntik. Kalau sakit hanya minum pil. Terakhir disuntik (mungkin) saat disunat. Saat duduk di bangku kelas V SD.

Saya pikir tesnya diambil sampel darah seperti orang donor. Saya keliru. Ternyata cuma dicoblos di ujung jari bagian tengah. Rasanya seperti digigit semut. Tapi tak hanya seekor semut.

Rapid test selesai. Hasilnya negatif. Semua yang dites juga negatif. Bahagia sekali. Minimal ayem untuk menjalani isolasi yang sepi. Meski masih waswas. Segala kemungkinan bisa terjadi. Tapi saya pasrah saja. Bukankah konsepnya di agama memang mengajarkan untuk berusaha lalu berpasrah diri? Saya coba benar-benar menjadi orang yang beriman.

Dokter yang memimpin kegiatan tes memberi pengumuman lanjutan. Imbauan lebih tepatnya. Kami masih harus isolasi. Sampai genap 14 hari setelah kontak. Tidak lupa tetap menjaga kondisi tubuh. Olahraga dan makan-makanan bergizi seimbang. Kami dipesani jangan lengah, tetap hidup bersih dan sehat. Itu harus diutamakan. Rapid test bukan jaminan. Kita tahu akurasinya juga rendah. Kita tidak bisa memastikan benar-benar terbebas dari ancaman virus corona. Pasrah saja, semoga selamat. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia