alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Wartawan Menjadi ODP Karantina (2)

Dua Tempat Ditolak Ngekos

16 April 2020, 11: 22: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

Achmad Ulil Albab, Wartawan Radar Kudus Biro Pati

Achmad Ulil Albab, Wartawan Radar Kudus Biro Pati (RADAR KUDUS)

Share this      

GEGER virus korona mengubah banyak hal. Saya sependapat. Mewabahnya virus yang ditetapkan sebagai pandemi global ini membikin gaya hidup sehat, bukan lagi gaya-gaya seremoni. Saya termasuk orang yang “terjangkiti” gaya hidup sehat dan bersih. Itu terjadi sejak saya mengisolasi diri. Sudah lebih dua pekan lalu. Saya mengisolasi diri sejak Sabtu (28/3). Rasanya hidup sangat teratur sekali di masa isolasi. Saya benar-benar sadar untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Sebelumnya gaya hidup sehat dan bersih bagi saya hanya gaya-gayaan saja. Kalau kebetulan ingat gerakan masyarakat hidup sehat (germas). Alakadarnya.

Sejak masuk dalam daftar orang dalam pemantauan (ODP) saya tinggal di kos. Saya cuti dari program doktor alias mondok di kantor. Saya masih bujang. Sehari-hari numpang tidur di kantor. Kalau pulang jauh, Keling, Jepara.

Karena itu Direktur Radar Kudus Pak Baehaqi menyebut kami-orang yang tidur di kantor- sebagai karyawan yang sedang mengambil program doktor.

Tidak mungkin saya mengisolasi diri di kantor biro. Kepala biro Abdul Rochim menyuruh saya pindah ke kos untuk sementara. Paling lama sebulan. Nanti mondok di kantor lagi katanya. Biaya kos ditanggung kantor. Alhamdulillah. Batin saya. Kantor sangat peduli.

Sehari setelah jadi ODP saya langsung cari tempat kos. Saya kirim pesan WA ke teman-teman yang saya kenal. Barangkali ada yang info tempat kos yang enak. Termasuk bergerilya keluar-masuk gang sendiri mencari kamar kos terbaik. Saya ingin tempat kos yang sehat. Harga bukan persoalan. Toh sudah dijamin kantor. Kalau perlu yang ada fasilitas wifinya. Saya harus enjoy, kerasan dan bergembira di tempat isolasi. Supaya tidak stres.

Kos sehat itu bagi saya yang lokasi kamarnya terbuka. Terbuka bukan maksudnya bebas masukin cewek ke kamar.Tapi terbuka untuk sinar matahari, supaya bisa kena sinar matahari langsung.

Berjemur sedang dianjurkan belakangan ini. Sinar matahari katanya bisa meningkatkan imunitas tubuh. Saya termasuk “pemburu” sinar matahari. Di masa wabah seperti sekarang, apa-apa saja yang bisa membikin imun meningkat sudah pasti laris. Empon-empon, dan vitamin contohnya. Di mana-mana laris manis. Sesuai hukum pasar, harganya juga tinggi.

Tempat kos akhirnya saya dapat. Sesuai kriteria. Minus fasilitas wifi saja. Tempatnya tidak jauh dari kantor biro. Sekitar 100 meteran. Ada di gang sempit khas daerah Kecamatan Kota Pati. Masuk wilayah Mertokusuman Kelurahan Pati Wetan. Masih satu kelurahan juga dengan kantor biro.

Tidak mudah dapat tempat kos. Ada dramanya saat pencarian tempat isolasi mandiri itu. Pekerjaan mesti saya sembunyikan. Teman saya juga mengingatkan. Saat dia saya mintai tolong mencarikan tempat kos. Di beberapa tempat, para pemilik kos sangat selektif. Akhir Maret lalu orang-orang banyak yang ketakutan, sekaligus menaruh curiga terutama pada orang asing.

”Jangan ngaku wartawan. Sedang dibatasi,” katanya mengingatkan.

Nama dan pekerjaan saya sebagai wartawan sudah tersebar sebagai orang yang kontak dengan pasien positif virus korona, almarhum Mbah Suroso.

Saya awalnya tidak tahu. Seorang kenalan mengirimi saya pesan berantai yang mencatut nama saya sebagai ODP. Dua tempat kos pertama yang saya datangi menolak sambil menyarankan cari tempat lain. Beberapa tempat kos ditunjukkan, saya hanya manggut-manggut saja seolah paham.  Keduanya menolak dengan alasan kamar kos penuh. Namun, sebelum mengaku kamarnya penuh, dua pemilik kos melontarkan pertanyaan yang sama.

”Dari mana mas. Dari Jakarta ya. Saya malah takut. Suasanya sedang begini,” kata seorang pemilik kos menaruh curiga.

Beruntung di tempat ketiga, pemiliknya tak banyak tanya apalagi menaruh kecurigaan. Saya cuma ditanyai kerja di mana. Saya jawab asal saja, penulis. Begitu saja. Akhirnya jadi, saya dapat tempat kos. Langsung saya bayar lunas satu bulan. Kuitansi diberikan bersamaan dengan kunci kamarnya.

Tempatnya cocok untuk “bertapa” sembari memastikan kondisi tubuh ini benar-benar sehat. Rasanya dua pekan saya betah menyendiri di sini. Ada pohon-pohonnya cukup rimbun. Pohon mangga, pohon kelapa yang sedang kembang, dan pohon jeruk nipis. Tiap pagi saya selalu gerak badan ringan, pemanasan sedikit ala-ala pelari.

Bangun pagi sudah bukan persoalan lagi. Tubuh rasanya sudah di-setting bangun sekitar pukul 05.00, ya kadang mentok kesiangan sampai pukul 05.30. Sebuah kemewahan menghirup udara pagi. Segar sekali. Ditemani minuman hangat, ramuan dari satu sendok madu dicampur dengan perasan jeruk nipis. Untung dapat kiriman logistik dari Kudus.    

Sebelum olahraga, nyapu dan ngepel sudah jadi aktivitas rutin selama masa isolasi. Di kantor biro selama ini aktivitas semacam itu mungkin hanya sepekan sekali atau bahkan sebulan sekali saya kerjakan. Pas legan saja.

Di kamar kos, saya harus memastikan sendiri ruangan yang saya tinggali bersih. Minimal ikhtiar agar kuman dan virus tak bersarang. Sekaligus menyamankan diri. Nyapu, ngepel tiap pagi dan sore. Begitu terus. Sudah setengah bulan ini. (bersambung) 

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia