alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Wartawan Menjadi ODP Karantina (1)

Panas Dingin di Telapak Kaki 

15 April 2020, 11: 26: 35 WIB | editor : Ali Mustofa

Achmad Ulil Albab, Wartawan Radar Kudus Biro Pati yang Meliput Mbah Roso Sebelum Meninggal

Achmad Ulil Albab, Wartawan Radar Kudus Biro Pati yang Meliput Mbah Roso Sebelum Meninggal (RADAR KUDUS)

Share this      

SAYA merasa fit. Badan segar-segar saja. Belakangan (sebelum keadaan sedarurat sekarang) saya tiap pagi lari-lari ringan. Kadang muter alun-alun. Kadang muter Jalan Panglima Sudirman-Jalan Tentara Pelajar-Jalan Pangeran Diponegoro dan finsih di kantor Jawa Pos Radar Kudus Biro Pati di Jalan Tondonegoro. Kadang bersepeda keliling kota dan masuk gang-gang perumahan yang sepi. Sepekan paling tidak bisa 4 kali saya berolahraga pagi.

Namun, teman-teman kantor melihat saya seperti orang sakit. Saya heran. Tapi memang hari-hari itu saya sedang batuk. Tenggorokan agak kering. Saya pikir karena cuaca. Ya sudah.   

Pukul 21.02 sebuah pesan masuk di grup Whatsapp Radar Kudus Biro Pati. Kalimatnya pendek sekali. Pesan berwujud berita duka. Pak Imam anggota DPR RI meninggal dunia. Positif virus korona infonya. Beritanya sudah ramai pekan kemarin. Setelahnya HP saya tak berhenti berdering Jumat malam (27/3) itu. Sepanjang malam.

Saya tidak membuka grup. Tidak berani tepatnya. Saya hanya melihat pesan itu. Kebetulan waktu itu saya pakai Whatsapp web di komputer. Sembari nonton serial drama Misteri Gunung Merapi. Orang akrab menyebutnya sinetron Mak Lampir. Sinetron itu tenar pada 2000-an awal. Waktu itu saya masih duduk di bangku SD. Saya menonton ulang. Maksud hati bernostalgia.

Grup-grup WA yang saya ikuti sebelumnya memang sudah ramai. Mulai grup wartawan, grup organisasi, hingga grup guyonan. Bahasannya macam-macam. Tiba-tiba mulai tambah ramai luar biasa. Obrolannya sama. Semua berkirim kabar duka dari Mbah Roso –sapaan akrab Imam Suroso. Dibarengi pesan prihatin atas orang-orang yang pernah kontak langsung. Termasuk para wartawan. Antara kaget dan kebingungan.

Beberapa teman berkirim pesan melalui japri. Puluhan lebih atau berapa saya tak menghitung. Pesannya rata-rata berbunyi sama. Menanyakan kabar. Memastikan nasib saya yang malam itu otomatis berstatus orang dalam pemantauan (ODP), karena mengalami kontak langsung dengan Mbah Roso.

Saya tuliskan sebagian pesan secara utuh: ”Sampeyan dak melu ngliput om, Wingi melu ngliput mbah roso d puri mas?” Dan masih banyak lagi.

Tidak jarang juga ada pesan yang bernada doa. ”Sehat sehat ya lil... ambil jeda sementara. Istirahat 14 hari untuk jaga stamina. Ojo panik. Ojo terlalu kuatir. Ndak imunitasmu malah ngedrop. Dinikmati sj masa liburan di rumah dg happy... semangat ya...”

Saya hanya melihat dan membaca seperlunya. Hanya pesan-pesan yang menguatkan yang (mungkin) saya balas. Selebihnya saya biarkan. Sampai sekarang pun masih ada pesan-pesan bernada simpatik itu yang belum terbalas. Maafkan.

Bayang-bayang kengerian virus korona yang sedang mewabah, langsung memenuhi isi kepala. Saya tak ingin ambil pusing. Saya tak mau berpikiran macam-macam. Komputer segera saya matikan bersamaan dengan lampu-lampu kantor. Gelap. Radio saya nyalakan dengan volume pelan. Mungkin dengan musik yang mengalun pelan itu, saya bisa lekas tidur nyenyak. Tak biasanya saya tidur di bawah pukul 22.00. Saya selalu tidur pukul 23.00 ke atas. Hanya ketika tidak enak badan saya tidur gasik.

Bagaimana tidak ngeri. Jumat (20/3) pagi saya bersama beberapa teman masih ngobrol santai bersama Mbah Roso. Ngopi, sarapan nasi utuk-utuk hangat, serta makan buah-buahan pepaya, duku, hingga jeruk. Dia tampak segar.

Seperti biasa, Mbah Roso menanyakan kabar teman-teman. Memberikan motivasi hidup agar produktif dan kreatif selagi masih muda. Sekitar 30 menit berbincang. Sebelum pulang dikasih oleh-oleh. Saya mendapat magic com. Teman-teman ada yang mendapat dispenser dan kipas angin. Saya dan teman-teman berjabat tangan. Erat sekali. Sorenya selepas asar diajak meliput kegiatannya bakti sosial. Membagi masker dan hand sanitizer di Pasar Puri, Pati. Seminggu kemudian kabar duka datang. Mbah Roso meninggal karena positif terpapar Covid-19.

***

HP yang tergeletak di meja kerja itu masih saja berbunyi. Klunting-klunting. Menambah ngeri. Hampir semua media mengabarkan virus corona dengan narasi yang menakutkan. Terbayang-bayang sudah, bakal dikucilkan dan (keadaan terburuk) mati dalam sepi. Saya pejamkan mata. Berdoa sebisanya. Tidur sebentar. Pukul 22.00 terbangun. HP masih saja berbunyi. Saya cuek. Sengaja saya tidak mematikan HP. Biar jadi alasan saya ketiduran. Saya tahu banyak pesan masuk memastikan kebenaran kabar itu, sekaligus memastikan kabar saya sendiri. Maafkan.

Iseng saya buka HP. Saya lihat status-status di WA. Isinya sama, ucapan duka. Saya kembali ikut terpukul.

Saya pejamkan mata lagi. Tidur sebentar. Begitu terus sampai tiga kali dalam semalam itu. Tidur-bangun. Tidur-bangun. Telepon juga terus berdering. Kepala Radar Kudus Biro Pati Abdul Rochim sampai jengkel. Mungkin saja. Dia mencoba memastikan kabar saya. Tengah malam dia menelepon. Diulangi terus empat kali. Sampai pagi. Tidak saya angkat. Sampai dua hari mungkin. Waktu itu saya hanya berkirim pesan di grup Biro Pati. Dia lantas protes. Baru saya angkat teleponnya. Kebetulan ketakutan dan kepanikan sudah mereda.

***

Terus terang saya jengkel. Maksudnya (mungkin) berempati. Namun pesan-pesan itu malah ada yang membuat kecil nyali dan kecil hati. Saya ketakutan sepanjang malam. Telapak kaki rasanya panas dingin. Detak jantung rasanya kencang sekali. Syukurlah ketakutan itu berlangsung hanya semalam dan esok harinya. Tak berlarut-larut. Mati-matian saya mulai menggembirakan diri sendiri. (bersambung)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia