alexametrics
Sabtu, 04 Jul 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan
Pengalaman Menjadi ODP Isolasi Mandiri (8)

Tes Sudah, Isolasi Sudah, Saatnya Hidup Normal

13 April 2020, 06: 16: 21 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

PAGI setelah hasil rapid test kedua keluar saya mengajak Indah Fajarwati, sekretaris perusahaan Radar Semarang, untuk menjenguk karyawan dan keluarganya yang sakit. Saat itu saya masih dalam masa isolasi. Saya batalkan sejenak untuk kemudian mengisolasi diri lagi.

Ada empat karyawan dan keluarganya yang sempat dirawat di rumah sakit semasa saya isolasi. Saya jenguk di rumahnya. Masing-masing berjauhan. Saya sopiri sendiri mobil. “Ini hati nurani. Tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Harus kita lakukan. Tidak bisa mengutus orang,” kata saya. Indah mengiyakan dengan mengangguk.

Ketika di rumah redaktur Rizal Kurniawan, diterima istrinya Siti Anisah. Saya menangkap dia ketakutan. Masih mengenakan mukena. Saya tahu diri. Tidak masuk rumah. Hanya menyapa anaknya yang sakit di teras. Itu pun saya memakai masker dan menjaga jarak.

Anisah termasuk orang yang paranoid ketika mengetahui saya pernah kontak dengan penderita covid-19 (Baca tulisan sebelumnya seri 1-7). Seluruh pakaian suaminya yang dikenakan ketika mengantar saya ke rumah sakit, dilucuti, direndam, dan dicuci. Sepatu, tas, dan barang-barang lain disemprot disinfektan. Saya menjadi tersangka.

Selama mengisolasi diri, banyak momen berharga yang hilang. Nyaris juga tak bisa merayakan ulang tahun ke-20 Radar Semarang yang saya pimpin. Ketika itu, 1 April 2020. Semua acara perayaan saya batalkan. Tinggal satu. Doa dan foto bersama.

Seorang karyawan marah. “Situasi kayak gini masih kumpul-kumpul. Foto bersama lagi,” katanya menggertak panitia. Acara tetap digelar. Sudah direncanakan sebaik-baiknya. Pesertanya hanya 10 orang. Mereka mengelilingi kolam renang. Berjarak masing-masing dua meter. Mengenakan masker.

SEJARAH HIDUP: Direktur Radar Kudus Baehaqi saat bertemu dengan almarhum Imam Suroso 11 Maret.

SEJARAH HIDUP: Direktur Radar Kudus Baehaqi saat bertemu dengan almarhum Imam Suroso 11 Maret. (DOK. PRIBADI)

Bagi pemimpin perusahaan seperti saya, mengisolasi diri itu beratnya minta ampun. Betul-betul ada yang tidak bisa dilakukan sendirian. Dengan sarana telekomunikasi juga tidak cukup.

Ketika akan memutuskan bonus, misalnya, harus mblurut ke Kudus. Seorang diri. Tidak ada yang tahu. Saya temui Manajer Keuangan Radar Kudus Etty Muyassaroh. Saat itu Kamis, 2 April 2020. Dia memakai seragam putih. Bermasker. Saya juga. Duduk berjauhan. ”Kalau mau membantu karyawan sekarang saatnya,” tegas saya.

Sebelumnya dia sudah memberi data keuangan. Saya pelototi. Saya telepon juga. Sampai Maret masih OK. Perusahaan mampu. Dia tegas. Tapi, bagi saya belum cukup. Saya harus tahu langsung intonasi suaranya, gestur tubuhnya, mimiknya, serta sorot matanya. Hanya untuk tahu itu saya temui dia. Beberapa saat. Saya lantas balik ke Semarang. Mengisolasi diri lagi.

Saat sekarang mana ada perusahaan yang tidak terganggu. Banyak yang meliburkan karyawan, mengurangi hingga setengahnya, dan memotong gajinya. Penjualan berhenti. Produksi dikurangi. Biayanya melambung tinggi. Mata uang USD di atas Rp16.000. Lebih tinggi dibanding saat resesi ekonomi 1998.

Di Semarang saya ajak bicara Indah Fajarwati, manajer keuangan Radar Semarang. Berkali-kali. Dia tegas. Sampai akhir Maret perusahaan baik-baik saja. April yang kelihatan berat.

Saya putuskan mengeluarkan uang kaget bagi karyawan di tengah kesulitan. Sudah cair 6 April lalu. “Saya yakin karyawan juga punya hati,” kata saya kepada Indah dan Etty. Alquran mengatakan, in ahsantum ahsantum falianfusikum (QS Alisro: 7)

Rapid test pertama dan keduanya Baehaqi dinyatakan negatif korona.

Rapid test pertama dan keduanya Baehaqi dinyatakan negatif korona. (DOK. PRIBADI)

Di tempat pengasingan, saya harus merasa tetap di tengah karyawan. Itu kunci agar hati tetap tenang. Suatu hari sampai saya mengabsen seluruh karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang. Sebagian besar bekerja dari rumah masing-masing.

Saya minta karyawan yang tidak enak badan langsung istirahat. Yang sakit ke dokter. Yang sudah berhari-hari batuk dan sakit tenggorokan segera foto torak dan periksa darah. Demikian juga yang pernah kontak dengan penderita korona.

Saya sendiri harus berjuang keras untuk menjaga kesehatan. Saya yakin imun tubuh yang kuat tidak tertembus virus korona. Kuncinya hati yang tenang. Yakin Allah yang menghidupkan, Allah pula yang mematikan. Seperti tersebut dalam QS Alhijr ayat 23. Wainna lanahnu nuhyi wanumitu.

Saya pernah kontak dengan penderita positif korona Imam Suroso. Duduk berdua sekitar dua jam. Bersalaman dan adu kepala. Sudah dua kali melakukan rapid test. Hasilnya negatif. Sudah mengisolasi diri 14 hari. Kesimpulan saya, orang yang kontak dengan penderita korona belum tentu tertular.

Jumat, 10 Maret 2020, hari terakhir isolasi mandiri itu. Saya sudah berpindah tempat di bagian belakang rumah di Sidoarjo. Sebelumnya dokter memberi petunjuk, kalau sampai hari ke-14 saya sehat berarti kemungkinan besar bebas dari virus korona.

Meski kondisi sehat, saya belum yakin benar. Pilek yang muncul lagi belakangan membuat waswas. Justru di hari terakhir itu semakin meler. Saya putuskan periksa lagi. Namun tidak dengan rapid test lagi. Saya ke laboratorium di bagian depan perumahan. Untuk periksa darah. Saya minta dicek hematologi, kolesterol, asam urat, dan gula darah puasa.

Jumat (10/4), Baehaqi selesai isolasi mandiri.

Jumat (10/4), Baehaqi selesai isolasi mandiri. (DOK. PRIBADI)

Siang hasilnya sudah keluar. Dari 23 item hematologi yang diperiksa, semua normal. Tidak ada satupun yang di atas atau di bawah rujukan. Termasuk hemoglobin, lekosit, dan limfosit. Tiga item itu kalau normal besar kemungkinan tidak terserang korona. Saya tidak perlu foto torak paru-paru. Karena, tidak batuk, tidak sakit tenggorokan, dan tidak sesak nafas.

Saya perhatikan juga kolesterol, asam urat, dan gula, yang kadangkala sedikit di atas rujukan. Saya khawatir karena selama isolasi tidak pantang makan. Ternyata, semua malah normal. Suhu badan juga sedang baik-baiknya. Persis 37 derajat Celsius. Badan tidak melar meskipun banyak makan. Tetap 63 kilogram. Perut memang sedikit membuncit karena factor U.

Saya syukuri semua itu. Saya tumpahkan dengan mendekati istri yang sudah lama berpisah. Setelah Jumat-an di kampung sebelah, saya ke kuburnya. Berziarah. Bersama anak sulung. Masjid di sebelah makam tutup. Sama dengan masjid di dekat rumah.

Saya akhiri masa isolasi dengan memotong rambut, kumis, dan jenggot. Berbelanja di bakul melijo. Mengikuti saran Dahlan Iskan, salah seorang pemilik Jawa Pos. Agar ekonominya bergerak lagi. Saya kembali hidup normal. Berharap karyawan dan masyarakat juga. Tidak takut lagi. Dengan tetap menjaga jarak dan menggunakan alat pelindung diri.

Harapan saya cuma satu. Bisa tidur nyenyak semalam suntuk.  Habis (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia