alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

RS Rujukan Penuh, Daerah Buka Ruang Khusus Tangani Pasien Korona

26 Maret 2020, 16: 43: 35 WIB | editor : Ali Mustofa

PAHLAWAN KESEHATAN: Tenaga kesehatan mengenakan alat pelindung diri (APD) saat bertugas di ruang isolasi RSUD RA Kartini Jepara.

PAHLAWAN KESEHATAN: Tenaga kesehatan mengenakan alat pelindung diri (APD) saat bertugas di ruang isolasi RSUD RA Kartini Jepara. (KANAL BUDIARTO FOR RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA, Radar Kudus - Upaya untuk penanganan Covid-19 terus dilakukan di berbagai daerah. Sejumlah rumah sakit (RS) juga membuka ruang isolasi. Meski demikian, dengan terus bertambahnya pasien dalam pengawasan (PDP), ruang yang terbatas tersebut mengalami kekurangan.

Di antara RS yang kini ambil bagian penanganan korona, RSUD RA Kartini. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara Mudrikatun kemarin mengatakan, saat ini di RSUD RA Kartini ada delapan kamar isolasi. Rumah sakit swasta juga telah diminta menyediakan ruang isolasi sesuai dengan kemampuan RS. Meliputi, RS Graha Husada (satu ruang, dua tempat tidur), RSI Sultan Hadlirin (tiga tempat tidur), PKU Muhammadiyah Mayong (satu ruang, tiga tempat tidur), serta RS PKU Aisyiyah (satu ruang). ”Jika sudah tak bisa menampung, ada RS rujukan RS Kelet yang saat ini memiliki delapan kamar isolasi dan delapan tempat tidur,” ujarnya.

Selain RS tersebut, jika nanti ada ledakan pasien ada rencana memanfaatkan RS Kusta Donorojo milik Provinsi Jawa Tengah. ”Kami sudah berkoordinasi. Saat ini sudah mulai ditata. Dipisah antara yang akan digunakan merawat kusta dan yang tidak. Nantinya akan ada 20 tempat tidur yang dikhususkan penanganan Covid-19,” jelasnya.

Disinggung mengenai kesiapan Pemkab Jepara dalam memenuhi berbagai kebutuhan penanganan kasus, dia mengaku, pada dukungan awal senilai lebih dari Rp 1,1 miliar dari APBD. ”Dukungan awal jumlahnya itu,” terangnya. Sementara soal kelangkaan APD dan kebutuhan lain, Mudrikatun menuturkan, pekan ini sudah mulai ada.

Terpisah, Direktur RSUD RA Kartini Dwi Susilowati melalui Wakil Direktur Muh Ali mengatakan, saat ini di RS ini ada delapan ruang isolasi khusus untuk penanganan Covid-19. Ruangan yang digunakan, enam ruang memanfaatkan bangunan lama yang sudah tak digunakan dan dua ruang di bangunan baru. ”Bangunan untuk pasien korona, terpisah dengan bangunan untuk umum,” ujarnya.

Di RSUD RA Kartini juga sudah dibentuk tim khusus penanggulangan Covid-19 yang diketuai dr. Triadi Kurniawan. ”Ada sekitar 30 anggota tim. Terdiri dari dokter spesialis, perawat, dan lainnya,” ungkapnya. Para petugas kesehatan di tim ini, masih bisa bertemu keluarga setelah menuntaskan tugas di RS. ”Semua kondisinya baik-baik saja,” katanya.

Mengenai APD, jumlahnya terbatas namun sampai kemarin masih cukup. ”Kami juga terus berupaya melakukan pencarian APD. Kami cari sampai kemana-mana. Kami antisipasi agar jangan sampai habis,” tuturnya.

Dia menyatakan, untuk kebutuhan yang saat ini kurang, yakni VTM untuk membawa sampel swab (dahak PDP). Selasa (24/3) lalu, pihaknya hanya mendapat kiriman tiga biji. ”Itu memang sudah di tingkat nasional,” ujarnya.

Muh Ali menambahkan, mengingat prediksi kasus akan terus bertambah, telah digelar rapat dengan beberapa pihak terkait, seperti DKK Jepara untuk menyusun usulan kebutuhan dari sisi kesehatan, termasuk APD. ”Minggu ini harapannya sudah ada. Untuk saat ini kami belum membutuhkan donasi dari masyarakat,” imbuhnya.

Di Rembang, setidaknya 20 ruang isolasi disiapkan. Tesebar di RSUD dr R Soetrasno, Bhina Bhakti Husada, dan RSI Arafah. Kepala Dinkes Rembang Ali Syofi’i menyampaikan, RSUD dr R Sortrasno ada 13 ruang, RS Bhina Bhakti Husada ada enam ruang, RSI Arofah ada satu ruang. ”Untuk tenaga medis, ada dokter spesialis paru dan peyalit dalam. Di Rembang sudah cukup,” ujarnya.

Di Kudus, juga menambah ruang isolasi. Sebab jumlah PDP terus bertambah. Apalagi RS di Kudus juga melayani pasien dari dalam maupun rujukan luar kabupaten. Kondisi ini disampaian Juru Bicara Gugus Tugas Penangan Covid-19 Kabupaten Kudus dr Andini saat jumpa pers di kantor DKK Kudus kemarin. ”Seluruh rumah sakit di Kudus sudah ada ruang isolasi. Hanya, jumlahnya terbatas. RSUD sebagai rumah sakit rujukan PDP lini I hanya memiliki kapasitas 11 bed atau tempat tidur,” ungkapnya.

Selain RSUD, RS Mardi Rahayu sebagai RS rujukan lini II memiliki kapasitas empat tempat tidur dan semuanya digunakan. Rumah sakit lini III yang mendapatkan SK dari Plt Bupati Kudus Hartopo, RS Kumalasiwi punya satu tempat tidur, RS Nurusifa satu tempat tidur, RS Kartika Husada satu tempat tidur, dan RS Aisyiyah dua tempat tidur.

”Total ada 22 tempat tidur dari keseluruhan rumah sakit di Kudus. Sekarang ini sudah terisi semua. Untuk sementara ini, kalau ada rujukan dari kabupaten lain dan ruangan sudah habis, kami membantu mencarikan ke rumah sakit lain yang masih bisa menampung PDP,” ungkapnya.

Dr Andiri menuturkan, data terbaru per 25 Maret pukul 12.00, jumlah orang dalam pantauan (ODP) ada 122 pasien dan 22 PDP. Perkembangan terbaru, tujuh PDP yang sebelumnya dirawat hasil swab negatif. ”Saat ini VTM sudah ada kiriman, meski jumlahnya tak banyak. Dari 22 PDP, 14 pasien sudah dilakukan swab. Sedangkan delapan PDP masih menunggu,” ujarnya.

Dia menjelaskan, APD sudah di-droping dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan yang mendapatkan rumah sakit lini I dan II, yakni RSUD dr. Loemono Hadi dan RS Mardi Rahayu.

Terpisah, Direktur RS Mardi Rahayu Kudus dr Pujianto mengatakan, pihaknya sudah menerima 85APD. Jumlah itu hanya cukup digunakan selama tujuh hari ke depan. ”Tim yang masuk ruang isolasi banyak. Sampai saat ini PDP di ruang isolasi ada empat pasien dari Kudus dan dua dari luar Kudus atau rujukan. Kami ada IGD khusus penangan korona. Jadi, kalau ruang isolasi penuh, sementara ditampung di IGD itu,” katanya.

(ks/emy/noe/san/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia