alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

ODP di eks-Karesidenan Pati Terus Bertambah, Terbanyak dari Jakarta

26 Maret 2020, 16: 02: 35 WIB | editor : Ali Mustofa

LEPAS LELAH: Tenaga kesehatan dengan APD istirahat di ruang isolasi RSUD RA Kartini Jepara.

LEPAS LELAH: Tenaga kesehatan dengan APD istirahat di ruang isolasi RSUD RA Kartini Jepara. (KANAL BUDIARTO FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PATI, Radar Kudus - Orang dalam pemantauan (OPD) dan pasien dalam pemantauan (PPD) di sejumlah daerah terus bertambah. Hal ini terutama dari warga yang baru datang dari luar kota yang pulang kampung.

Kabupaten Pati OPD bertambah 72 orang. Mereka sebagian besar berdatangan dari wilayah zona merah Covid-19, seperti dari Jakarta, Banten, dan sekitarnya. Mereka pulang ke kampung halaman karena perusahaan sudah meliburkan karyawan.

Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 Pati Suharyono menjelaskan, perkembangan PDP Pati kini ada empat orang, dari sebelumnya tiga orang. Dua pasien telah diisolasi di RSUD RAA Soewondo Pati, satu pasien diisolasi di RSUD Kudus, dan satu lainnya di Semarang. ”Empat PDP itu warga Pati. Sebelumnya ada warga Kudus diisolasi di RS Keluarga Sehat, kini sudah diisolasi di Kudus. Sedangkan jumlah ODP saat ini ada 209 orang. Sebelumnya hanya 137 orang,” ungkap pria yang juga sekda Pati ini.

Menurutnya, tambahan ODP ini, warga Pati yang pulang kampung dari Jakarta dan sekitarnya. ”Pak Bupati mengeluarkan surat edaran pada 24 Maret lalu. Meminta semua desa mendata warganya yang datang dari luar daerah dan luar negeri. Sesampainya di rumah, mereka harus mengisolasi mandiri selama 14 hari. Untuk memastikan warga itu terkena Covid-19 atau tidak,” katanya.

Ia meminta pihak desa benar-benar mengawasi ODP. Apabila ada gejala harus segera dilaporkan dan diisolasi. Sebab, rapid test tak dilakukan di Pati sebagai wilayah zona hijau.

Kabupaten Rembang memiliki empat PDP dan 37 ODP per pukul 15.26 kemarin. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Rembang Ali Syofi’i baru-baru ini menyampaikan, ada dua PDP yang sedang dirawat di RSUD dr R Soetrasno Rembang.

Mereka dari beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Kota, Pamotan, dan Sale. Setiap kasus memiliki riwayat penularan yang berbeda. Ada yang dari bepergian hingga saat bekerja menjadi kuli bangunan.

Ali Syofi’i mengatakan, empat orang itu salah satunya berasal dari Kecamatan Pamotan yang sebelumnya bekerja di Bali sebagai tukang bangunan. Saat berada di Pulau Dewata, ia pernah kontak langsung dengan orang yang sakit. Akhirnya dia demam, batuk, dan sesak nafas. ”Warga Pamotan lain mengantar ke rumah sakit (di Bali). Setelah itu ia pulang ke Rembang. Ia mengalami sakit yang sama dengan teman yang tadi diantar,” katanya.

Ada juga pasien yang memiliki riwayat bepergian. Pasien itu menderita saluran pernafasan dan riwayat sakit lain, seperti gula darah dan ginjal. ”Ada yang sudah pulang (dari perawatan, Red). Memiliki riwayat bepergian ke Semarang, Bandung, dan wilayah yang terjangkit Covid-19. Ketika pulang (ke Rembang, Red) mengalami sakit dan batuk,” jelasnya.

Ada lagi pasien dari Kecamatan Kota jadi PDP. Pasien itu memiliki riwayat mengantar keluarganya terapi ke Semarang. Setelah itu, mengalami sakit dengan gejala panas dan sesak.

Ali menjelaskan, saat ini ada perbedaan definisi antara ODP dan PDP. ODP merupakan orang yang mengalami demam atau riwayat demam dari 14 hari dan gejala seperti influenza. Bisa juga baru saja datang dari daerah positif Covid-19. ”Kalau dulu ODP tak harus sakit. Sekarang sakit ringan dulu,” jelasnya. Sementara orang yang baru datang dari daerah terpapar Covid-19 dan tidak sakit dinamakan pelaku perjalanan.

”Pelaku perjalanan diminta melakukan self monitoring. ODP diminta mengisolasi mandiri di rumah. Nanti akan ada tenaga kesehatan memeriksa selama 14 hari. Sementara PDP wajib dirawat isolasi di rumah sakit dan tes swab,” ungkapnya.

Untuk PDP merupakan orang yang sakit demam, batuk, pilek, ditambah gejala infeksi saluran pernafasan akut. Ditandai dengan sesak nafas. Juga pernah ke daerah terpapar korona atau kontak dengan si penderita.

Sementara itu, desa Jepara yang warganya meninggal dalam status PDP saat perawatan di RSUD Kudus pada Senin (23/3) lalu, keesokan harinya membentuk satgas tingkat desa. Perangkat dan masyarakat baru gencar sosialisasi. Namun belum semua desa di Jepara membentuk Satgas Covid-19. Hingga kemarin, belum ada rekap jumlah desa yang sudah membentuk satgas. Satgas itu sebagai turunan satgas tingkat kecamatan dan kabupaten. Satgas juga berperan dalam pengawasan terhadap warganya dan melaporkan perkembangan yang terjadi di masing-masing wilayah.

Sekretaris Satgas Covid-19 Jepara Arwin Noor Isdiyanto mengatakan, setiap camat memiliki respon berbeda. Sejak Selasa (24/3) lalu, kecamatan dan desa diarahkan untuk membuat satgas di tingkat bawah. ”Akan kami push terus,” katanya.

Pihaknya juag menyiapkan tim edukasi ke desa-desa. Untuk desa yang sudah membentuk satgas mulai koordinasi pencegahan. Seperti penyemprotan disinfektan di tempat ibadah maupun fasilitas umum. ”Satgas ini juga memberi sosialisasi kepada masyarakat di tingkat desa-desa,” imbuhnya. (vah)

(ks/put/war/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia