alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Dana Pendampingan Usaha Kecil di Jepara Terbatas, Sasar CSR Perusahaan

26 Maret 2020, 15: 24: 07 WIB | editor : Ali Mustofa

PRODUK  UMKM: Ibu-ibu Muslimat NU melihat produk UMKM saat pameran UMKM di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan baru-baru ini.

PRODUK  UMKM: Ibu-ibu Muslimat NU melihat produk UMKM saat pameran UMKM di Desa Krapyak, Kecamatan Tahunan baru-baru ini. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA, Radar Kudus - Anggaran untuk pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengan (UMKM) terbatas. Untuk satu pelatihan misalnya, hanya teranggarkan Rp 20 juta. Sedangkan normalnya biaya pelatihan lebih dari itu. Pemkab Jepara pun akan menggandeng perusahaan untuk melatih UMKM.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Diskopukmnakertrans) Eriza Rudi Yulianto mengungkapkan, anggaran di dinasnya banyak yang dipangkas. Termasuk, salah satunya dana untuk pendampingan UMKM.

”Anggaran di dinas kami banyak yang dipangkas. Biasanya lebih dari Rp 20 juta untuk setiap paket pelatihannya,” jelas Eriza.

Rencananya, untuk mengoptimalkan UMKM tersebut, Pemkab akan menggandeng Corprate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Pihaknya menyadari, hadirnya perusahaan-perusahaan besar di Jepara mestinya memberikan dampak ekonomi selain untuk karyawannya sendiri. Utamanya dalam pengembangan usaha kecil. ”Kalau kurang nanti kami bisa gandeng CSR perusahaan-perusahaan yang ada,” imbuhnya.

Selama ini, kata Erza, pihaknya sudah mendampingi para pelaku UMKM dengan beberapa CSR perusahaan. Namun tidak banyak perusahaan yang mau bergabung mendampingi masyarakat UMKM. Untuk itu, pihaknya akan menggandeng lebih banyak perusahaan untuk memajukan geliat UMKM di Bumi Kartini.

”Tidak kita pungkiri di Jepara semakin banyak muncul perusahaan. Mereka punya CSR, yang kemungkinan bisa kami ajak kerja sama dalam pendampingan ke masyarakat,” imbuh Erza.

Erza menambahkan, selain melaksanakan pelatihan UMKM di dinas, pihaknya juga akan turun ke desa-desa yang letaknya jauh dari perkotaan. Sebab, jika mereka dipaksa datang ke dinas, kemungkinan besar biaya yang akan dikeluarkan bakal lebih besar.

Dalam pendampingannya, Erza mengatakan akan mendampingi dari bawah. Yakni mulai dari proses pengolahan bahan baku, pengemasan, pemasaran, hingga akses modal. Para pelaku UMKM akan dikaitkan dengan perbankan untuk mendapatkan modal usaha. Selain juga akses kepada pengusaha-pengusaha besar.

”Produk-produk UMKM wajib masuk di toko-toko modern. Tentu jika sudah memenuhi syarat yang ditentukan masing-masing toko,” harapnya. (qih)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia