alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Membingungkan, Belum Sempat Swab, PDP Asal Jepara Meninggal di Kudus

25 Maret 2020, 16: 42: 21 WIB | editor : Ali Mustofa

Membingungkan, Belum Sempat Swab, PDP Asal Jepara Meninggal di Kudus

KUDUS, Radar Kudus - Salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) yang dirawat di Rumah Sakit (RS) Mardi Rahayu Kudus meninggal. PDP yang merupakan warga Jepara itu, meninggal sebelum sempat di-swab (pemeriksaan dahak). Diketahui, selain berstatus PDP, pasien ini juga memiliki penyakit lain, seperti diabetes militus, hipertensi, dan jantung.

Hal ini diungkapkan juru bicara pencegahan dan pengendalian Covid-19 Kudus dr Andini Aridewi. Menurutnya, pasien tersebut datang dengan kondisi yang buruk. ”Pasien Senin pagi datang dengan suspect PDP. Saat datang kondisinya buruk sekali. Dia mengaku habis pulang dari daerah terjangkit (korona) dan mengaku sesak (nafas),” jelasnya.

Meskipun pasien tersebut telah dinyatakan suspect, namun pihaknya belum bisa memastikan jika penyebab kematiannya karena Covid-19. Sebab, hingga dinyatakan meninggal, pasien tersebut belum sempat swap. Sehingga data kematiannya masih tercatat sebagai PDP. Bukan positif Covid-19.

”Belum sempat di-swab karena VTM (virus transport media -media untuk membawa sampel swab) habis. Meninggalnya karena PDP atau penyakit yang lain masih membingungkan. Meninggalnya karena Covid-19 atau tidak belum diketahui,” ujarnya.

Meski demikian, pemulasaran jenazah diperlakukan mirip dengan pasien yang sudah positif Covid-19. Hal ini untuk mengantisipasi jika pasien meninggal karena memang positif Covid-19. Sebagai langka lanjutan, tim Covid-19 Kudus langsung melakukan notifikasi kepada tim Covid Jepara. Agar bisa melakukan contact tracking pasien yang meninggal itu.

”Kami langsung notif ke Jepara. Agar melakukan contact tracking. Takutnya ada yang carrier (orang terlihat sehat, tapi membawa virus dan berpotensi menyebarkan),” tuturnya.

Tak hanya APD yang menipis, VTM habis. Saat ini masih menunggu kiriman dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Akibat kekurangan alat ini, ada PDP yang belum diambil swab untuk dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes).

Dengan kondisi ini, masih ada delapan PPD yang belum diambil swab. Ini karena VTM kosong dan Pemkab Kudus belum bisa pengadaan sendiri. Sebab, alat itu dikirim langsung Kemenkes. ”Saat ada video conference dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sudah dilaporkan kalau butuh VTM secepatnya, karena ada PDP yang belum diambil swab,” terangnya.

Sementara itu, Direktur RS Mardi Rahayu dr Pujianto menuturkan, saat ini stok alat pelindung diri (PD) menipis. Diperkirakan, stok yang ada hanya mampu mem-backup kebutuhan hingga sepekan ke depan.

Sebagai upaya mengatasi hal itu, pihaknya telah membuka penggalangan bantuan APD. Berupa masker N95 dan masker bedah disposable, kacamata goggle dan face shield, sarung tangan disposable dan steril, coverall jumpsuit, disinfectant, handsanitizer, shoes cover, hingga multivitamin. ”Stok menipis. Kami butuh bantuan tambahan APD,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan pihak RS Islam Sunan Kudus dan RS Aisyiyah Kudus. Bagi masyarakat yang hendak memberikan bantuan, dapat menyerahkan langsung ke rumah sakit. Jika hendak menyumbang dalam bentuk uang dapat ditransfer melalui rekening 1350043470788 untuk RS Mardi Rahayu Kudus, nomor rekening 1280-01-000250-50-1 untuk RS Aisyiyah Kudus, dan rekening 135-00-4688-4688 RS Islam Sunan Kudus.

Dr Pujianto menambahkan, pihaknya memberikan makanan tambahan berupa kacang hijau, susu, wedang jahe, imunomodulator, dan telur ayam kepada tim medis yang bertugas menangani PDP. ”Ini untuk meningkatkan stamina mereka,” imbuhnya.

Direktur RS Aisyiyah Kudus Hilal Ariadi menambahkan, dua PDP yang dirawat di RS Aisyiyah merupakan pasien asli Kudus. Pasien itu, sebelumnya memiliki riwayat bepergian di daerah pandemi Covid-19. ”Mereka (PPD, Red) rujukan dari Puskesmas Rejosari. Sebelumnya, pasien dari Surabaya dan satunya lagi kuliah di Semarang. Keduanya mengeluh panas, batuk, dan pilek,” terangnya.

Saat ini, PPD itu masih diobservasi. Mengingat RS Aisyiyah merupakan rumah sakit lini ketiga. Terkait dengan ketersediaan APD, masing kekurangan. ”Kami sangat kurang APD. Sebagai rumah sakit lini ketiga, sewaktu-waktu bisa menerima rujukan dari mana saja. Termasuk puskesmas atau dari luar Kudus. Kami masih membutuhkan tambahan, karena setiap hari menghabiskan enam APD. Sedangkan yang tersedia (kemarin, Red) hanya 15 unit. 

(ks/daf/san/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia