alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Nadea Lathifah, Mahasiswi Wuhan asal Jepara

Nol Kasus Baru, Aktivitas Masih Penuh Kewaspadaan

25 Maret 2020, 15: 09: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

BERHARAP SEGERA KEMBALI: Nadea Lathifah Nugraheni di Donghu, danau dekat kampusnya sebelum pulang ke Indonesia.

BERHARAP SEGERA KEMBALI: Nadea Lathifah Nugraheni di Donghu, danau dekat kampusnya sebelum pulang ke Indonesia. (NADEA LATHIFAH NUGRAHENI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA Wuhan, Tiongkok, sudah mulai normal. Nadea Lathifah Nugraheni -mahasiswi Wuhan University yang berhasil pulang sebelum korona meluas- ingin kembali ke kota tersebut.

Di sana, ada tiga teman Indonesia yang tertinggal saat evakuasi. Mereka dalam kondisi sehat. Ada pula teman-temannya dari Afrika yang tak dievakuasi pemerintah mereka. Semuanya juga dalam kondisi sehat.

Diapun terus berkomunikasi dengan teman-temannya yang hingga kini berada di kota asal merebaknya virus Covid-19 itu. Teman-teman yang tinggal satu apartemen dengannya juga terus mengabarkan kondisi. ”Alhamdulillah sekarang kondisinya membaik. Bahkan, kondisinya mulai normal kembali dan sudah nol kasus sejak pekan lalu,” tuturnya.

Nadea mengaku berkeinginan segera kembali dan menuntaskan kuliahnya. ”Setahu saya Wuhan sudah open. Sebenarnya bulan ini saya mau kembali, tapi saya cek tiket belum ada. Baru ada akhir April nanti,” katanya.

Berdasarkan informasi yang diperolehnya dari teman-teman yang ada di Wuhan, aktivitas warga mulai terlihat kembali. Tak sebagaimana saat lockdown yang membuat ibu kota Provinsi Hubei itu, seperti kota mati. Hanya, memang belum kembali sepenuhnya. ”Belum berjalan sepenuhnya. Warga Wuhan masih penuh dengan kewaspadaan. Kampus-kampus juga masih memberlakukan perkuliahan online,” ungkapnya.

Banyak hal yang membuat Nadea merindukan kota itu. Wuhan yang merupakan kota industri membuatnya mudah untuk pergi ke mana saja. ”Banyak tempat yang bisa dikunjungi saat di Wuhan,” tuturnya.

Beberapa lokasi ikonik di antaranya, Wuhan Yangzte River yang merupakan sungai terpanjang di sana. Ada pula Menara Yellow Crane yang merupakan salah satu tempat bersejarah. ”Saya sudah mengunjungi keduanya. Biasanya wisatawan yang datang pasti mengunjungi dua lokasi itu,” tuturnya. Lokasi lain yang didatanginya yakni pusat-pusat perbelanjaan. Salah satunya Optics Valley.

Tak hanya lokasi menarik, kebersamaannya dengan teman-teman mahasiswa dari berbagai negara juga dirindukan. Dia menceritakan, di apartemen kamarnya dekat dengan mahasiswi dari Belanda dan Pakistan. Mereka sering berbagi suka dan duka. ”Solidaritas sangat tinggi. Kalau saya tidak enak badan, mereka berebut membuat makanan untuk saya. Termasuk kasih obat juga,” ujarnya.

Interaksi dengan warga lokal seperti dengan penjual di pasar turut dirindukan. Di sana, Nadea memang lebih memilih untuk memasak jika ada kesempatan. ”Saya ada langganan tempat belanja. Penjualnya sangat baik dengan saya. Sering kasih gratisan,” tuturnya.

Nadea juga mengaku merindukan berbagai teknologi yang ada di Wuhan. ”Di sana, di jalan-jalan ada sepeda pemerintah yang bisa kita pakai gratis kemana-mana. Termasuk saat saya ke kampus atau ke pasar,” jelasnya.

Suasana di kampus juga diharapkan bisa segera dirasakan lagi. ”Salah satu sudut yang selalu saya datangi itu di perpustakaan yang memang buka 24 jam. Saya bahkan sering ketiduran dan terkunci di sana. Petugasnya sampai hafal,” ucapnya.

Karena itu, Nadea berharap dia segera bisa kembali. ”Semoga segera bisa kembali ke Wuhan dan sidang tesis di sana,” pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan beberapa pemberitaan, sejak Kamis (19/3) waktu setempat untuk kali pertama setelah korona mewabah, Tiongkok melaporkan nol kasus baru atau tak ada kasus baru domestik. Pemerintah Provinsi Hubei pada pekan lalu juga telah mengizinkan beberapa perusahaan di Wuhan kembali beroperasi. Namun lockdown Kota Wuhan baru bisa dicabut setelah tak ada kasus baru dalam 14 hari berturut-turut.

(ks/emy/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia