alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Jawa Jengah Siapkan Balai Diklat dan Hotel untuk Ruang Isolasi Pasien

Ganjar Bagikan 10 Ribu Coverall ke-61 RS

25 Maret 2020, 14: 49: 05 WIB | editor : Ali Mustofa

DISTRIBUSI APD: Gubernur Ganjar Pranowo memimpin pendistribusian APD bantuan dari Tiongkok ke-61 rumah sakit di Jateng kemarin.

DISTRIBUSI APD: Gubernur Ganjar Pranowo memimpin pendistribusian APD bantuan dari Tiongkok ke-61 rumah sakit di Jateng kemarin. (PEMPROV JATENG FOR RADAR KUDUS)

Share this      

SEMARANG, Radar Kudus - Perkembangan virus korona yang semakin cepat membuat Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengambil langkah antisipatif. Tidak hanya menyiapkan rumah sakit pemerintah, Ganjar juga memerintahkan jajarannya untuk menghitung dampak sosial dan menyiapkan lokasi lain yang dapat digunakan sebagai ruang isolasi.

Hal itu disampaikan Ganjar usai rapat terbatas melalui video conference dengan Presiden Joko Widodo di rumah dinasnya, Puri Gedeh kemarin. Rapat ini, diikuti seluruh gubernur dan menteri kabinet kerja di Indonesia. Membahas banyak hal, namun isu kesehatan dan sosial ekonomi menjadi pembahasan utama.

Dia menuturkan, presiden telah memerintahkan pemerintah daerah untuk melakukan relokasi dan realokasi anggaran. Sejumlah anggaran yang tidak mendesak, diarahkan pada kepentingan penanganan korona. ”Presiden juga memerintahkan kami menghitung berapa social safety net yang dibutuhkan. Presiden meminta disiapkan bantuan-bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak virus," terangnya.

Untuk itu, pihaknya saat ini baru konsentrasi pada penanganan kesehatan dengan anggaran yang disiapkan sekitar Rp 100 miliar. ”Itu hanya untuk memenuhi kebutuhan di sektor kesehatan. Sebenarnya anggaran itu masih terlalu kecil. Sementara untuk social safety net, sedang kami siapkan. Kami minta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) melakukan penghitungan," katanya.

Kendati begitu, Ganjar juga telah menyiapkan berbagai skenario, mulai ringan, sedang sampai skenario terburuk. ”Saat ini, kami sudah menyiapkan 13 rumah sakit (RS) lini satu, 45 lini dua, dan lini tiga adalah sisanya. Inventarisasi akan terus kami dorong. Termasuk beberapa rintisan rumah sakit di Solo dan Brebes yang akan kami siapkan khusus," katanya.

Selain itu, dukungan beberapa rumah sakit swasta telah dipersiapkan, meski tidak memiliki banyak ruang isolasi. Selain itu, ada beberapa lokasi lain yang sudah didata. Di antaranya Balai Diklat Pemprov, Balai Diklat Kemenag, Asrama Haji Donohudan, Hotel Kesambi milik Pemprov Jateng, dan GOR seperti Jatidiri. Bahkan, Ganjar juga meminta tenda-tenda disiapkan sebagai alternatif paling akhir.

”Kalau kondisi memburuk, kami sudah menyiapkan beberapa tempat, seperti balai diklat atau hotel milik kami sebagai ruang isolasi. Balai diklat dan hotel milik pemprov memiliki kamar lumayan banyak, sehingga bisa disiapkan untuk itu," terangnya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan TNI/Polri dalam rangka persiapan kemungkinan terburuk. Beberapa aset milik dua lembaga negara itu, sudah didata dan disiapkan, apabila dalam kondisi darurat sebagai ruang isolasi. ”Bahkan, sekarang saya sudah meminta BPBD untuk mendata, berapa jumlah tenda yang kita punya. Kami sudah mengantisipasi sampai sedetil itu, sambil terus berusaha melakukan langkah-langkah preventif," ucapnya.

Total Pemprov Jateng telah menyiapkan 303 ruang isolasi yang tersebar di 58 rumah sakit. Jumlah itu dipastikan meningkat, karena adanya dukungan beberapa rumah sakit swasta yang ikut berpartisipasi.

Usai video conference dengan Presiden Joko Widodo, Ganjar memastikan distribusi alat pelindung diri (APD) atau coverall di Wisma Perdamaian Semarang kemarin. Wisma Perdamaian dalam masa penanganan Covid-19 ini dijadikan gudang logistik. Sebanyak 10 ribu coverall langsung didistribusikan ke-61 rumah sakit di wilayah Jateng.

Pendistribusian telah dilakukan begitu APD tiba di Semarang Senin (23/3) malam. Masih berlanjut hingga kemarin. Coverall itu dikirim pemerintah pusat dari Tiongkok. Namun yang membuat Ganjar bangga, APD yang biasa disebut sebagai ”baju astronot” itu, diproduksi di Indonesia. ”Yang menarik, ini diambil dari Tiongkok. Ternyata ini Made in Indonesia. Ini sesuatu produk yang luar biasa. Semoga ini jadi pembelajaran. Meski saya tak bisa baca (bahasa Mandarin) ini, saya bisa membaca yang ini, made in Indonesia," katanya.

Setelah dapat kiriman coverall, Ganjar mengatakan, bakal menyusul bantuan dari pemerintah pusat berupa rapid test. Namun, sampai sekarang Ganjar belum mendapat kepastian berapa jumlah rapid test yang bakal dikirim ke wilayahnya. Ganjar memastikan untuk APD saat ini merupakan hal mendesak yang dibutuhkan dalam penanganan Covid-19. ”Nanti kalau masyarakat mau bantu tak apa-apa. Langsung dikirim ke Dinkes atau kantor pemprov," katanya. (ida/lhr)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia