alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Nadea Lathifah, Mahasiswi Wuhan Asal Jepara

Kota Di-Lockdown, Kebutuhan Dipenuhi Pemerintah

24 Maret 2020, 09: 10: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BIMBINGAN TETAP JALAN: Nadea Lathifah Nugraheni sedang bimbingan tesis secara online dengan supervisor di Wuhan University, Tiongkok.

BIMBINGAN TETAP JALAN: Nadea Lathifah Nugraheni sedang bimbingan tesis secara online dengan supervisor di Wuhan University, Tiongkok. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

NADEA Lathifah Nugraheni, salah satu mahasiswi S-2 hukum internasional di Wuhan University, Tiongkok, hingga kini masih berada di Indonesia. Keinginannya untuk segera kembali ke Kota Wuhan, belum bisa terwujud.

Sejak Selasa (17/3), dua rumah sakit baru yang dibangun khusus mengatasi korona sudah ditutup. Dia juga banyak mendapatkan video kondisi rumah sakit lain banyak bed kosong. Kehidupan di Kota Wuhan sudah berangsur-angsur normal.

Namun, Nadea menyatakan, ada kebijakan lain bagi mahasiswa asing di negara tersebut. ”Kami mendapat pemberitahuan, Wuhan sudah dibuka kembali. Namun, kami belum bisa kembali,” kata Nadea saat ditemui di rumahnya kemarin.

(FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Nadea menjelaskan, dalam pengumuman yang disampaikan itu, disertakan pula, bahwa mereka harus menjalani karantina selama 14 hari sebelum bisa beraktivitas sebagaimana biasanya di Wuhan.

Dia pun mengaku membayangkan bagaimana akan menjalani karantina itu. ”Karena saya kan pulang sebelum kasusnya meluas. Jadi, tidak pernah dikarantina. Tidak seperti teman-teman saya yang dievakuasi kemudian dikarantina di Natuna,” ujarnya.

Saat ditemui wartawan Jawa Pos Radar Kudus, Nadea sedang menjalankan aktivitas rutinnya, bimbingan tesis online. Dengan aplikasi percakapan We Chat, dia berkomunikasi dengan pembimbing tesisnya atau yang disebutnya dengan supervisor.

Sesekali Nadea juga membenahi tulisan tesisnya sebagaimana yang diarahkan supervisor. Juga membuka referensi buku-buku yang diaksesnya secara online.

Di rumah, aktivitas perempuan kelahiran Jepara, 18 Agustus 1997 ini, konsen mengerjakan tesis. ”Sudah sampai bab IV,” tuturnya.

Dalam menuntaskan tesisnya, semua dilakukan online. ”Saya ambil penelitian literatur. Semua sumber tersedia secara online. Jadi, tidak banyak bolak-balik di lapangan,” ujarnya.

Diapun mengaku bersyukur dengan sistem perkualiahan di sana. Termasuk dalam penuntasan tesis. ”Di sana memang sedikit berbeda. Satu pembimbing hanya mendampingi satu mahasiswa. Mereka fokus dan terus menyemangati kami,” tuturnya.

Antara pembimbing dan mahasiswa pun memiliki hubungan yang baik. ”Dengan supervisos sudah seperti keluarga sendiri. Saya pernah diundang makan malam,” katanya.

Bimbingan dengan supervisor pun terbuka 24 jam. Saat masih berada di Kota Wuhan, dia pernah datang dan diterima di kantor supervisor-nya pukul 22.00 waktu setempat.

Dengan kondisi itu, Nadea mengaku tak ada kendala saat harus melaksanakan bimbingan online tanpa tatap muka. ”Alhamdulillah sampai saat ini komunikasi dengan supervisor lancer. Tesis saya juga lancar,” ungkapnya.

Alumni UIN Walisongo ini, berharap bisa segera kembali ke Kota Wuhan. ”Semoga dalam waktu dekat, April atau Mei sudah bisa kembali (ke Kota Wuhan) dan menuntaskan sidang tesis saya di sana. Sampai kemarin saya cek untuk tiket belum ada. Baru ada akhir April nanti,” tuturnya.

Jika terpaksa tidak bisa kembali dalam jangka waktu tersebut, dia akan menjalani sidang online sebagaimana beberapa temannya di jurusan lain. ”Bahkan bisa jadi wisuda online juga,” katanya.

Ditanya mengenai apa yang dihadapi teman-temannya di Wuhan, Nadea menceritakan, usai kasus virus korona menyebar, pemerintah Tiongkok bergerak cepat.

Kondisi Wuhan saat di-lockdown, kota benar-benar seperti kota mati. Pemerintah Tiongkok membangun dua rumah sakit khusus dalam waktu hitungan hari.

Tak hanya itu, pemerintah juga mendatangkan dokter-dokter dari Beijing ke Wuhan untuk menemukan cara yang tepat mengatasi pasien yang terkena virus. ”Karena virus ini masih satu family dengan virus SARS yang pernah ada di Beijing,” tuturnya.

Tingkat kesadaran dan ketaatan warga Tiongkok sangat tinggi. ”Kalau ada larangan tidak boleh ke luar ya memang benar-benar tidak keluar,” ujarnya.

Saat menutup semua tempat termasuk supermarket, pemerintah juga konsisten dengan apa yang diputuskan. Suplai makanan untuk warga dipenuhi. ”Makanan diantarkan sampai ke pelosok-pelosok,” jelasnya.

Khusus untuk mahasiswa Indonesia, KBRI juga melakukan berbagai upaya. Mahasiswa diberi termometer dan obat radang. Tak ketinggalan masker dan hand sanitizer. ”Ada juga bantuan dana ke ketua ranting perhimpunan mahasiswa Indonesia di Wuhan untuk dibelikan makanan. Selain makanan yang sudah kita dapatkan dari kampus,” jelasnya.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri juga membuka layanan online 24 jam. ”Saat saya memutuskan pulang hingga di rumah, saya selalu dipantau,” imbuhnya. 

(ks/emy/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia