alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Nadea Lathifah, Mahasiswi Wuhan asal Jepara

Dua Tahun di Wuhan, Selamat dari Virus Covid-19

23 Maret 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BERI MOTIVASI: Nadea Lathifah Nugraheni saat sharing pengalaman kuliah di Wuhan University, Tiongkok, di MAN 1 Jepara baru-baru ini.

BERI MOTIVASI: Nadea Lathifah Nugraheni saat sharing pengalaman kuliah di Wuhan University, Tiongkok, di MAN 1 Jepara baru-baru ini. (NADEA LATHIFAH NUGRAHENI FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Nadea Lathifah Nugraheni, mahasiswi Wuhan University asal Jepara beruntung bisa pulang saat korona belum meluas di Kota Wuhan, Tiongkok. Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kudus Femi Noviyanti dia menuturkan pengalamannya di Wuhan hingga bimbingan tesis dari rumah.

DUA tahun sudah Nadea Lathifah Nugraheni menempuh pendidikan hukum internasional di Wuhan University. Berbagai pengalaman didapatkan. Mulai dari pengalaman kuliah hingga kesempatan berinteraksi dengan penduduk lokal Kota Wuhan, Tiongkok.

Nadea menceritakan, dia kali pertama menginjakkan kaki di Kota Wuhan pada 2018 lalu. Tujuannya tak lain untuk melanjutkan studi S-2 di Wuhan University. Untuk menempuh pendidikan strata 2 itu, Nadea mendapatkan beasiswa dari ASEAN University Network.

Nadea Lathifah Nugraheni

Nadea Lathifah Nugraheni (FEMY NOVIANTI/RADAR KUDUS)

Selama dua tahun menempuh pendidikan di Wuhan, dia beradaptasi sedemikian rupa. Hal ini lantaran hanya dia mahasiswa jurusan hukum internasional di kelas internasional yang belum memiliki pengalaman profesi.

Meski begitu, dia mampu menyejajarkan diri dengan yang lain. Bahkan lebih. Selama menempuh pendidikan S-2, selain kuliah perempuan berkerudung itu, juga aktif mengikuti konferensi. Baik di dalam maupun di luar kampus. Akhir tahun lalu, dia juga terpilih mewakili kampusnya untuk mengikuti konferensi tentang lingkungan di Kota Beijing. Pada konferensi yang diselenggarakan oleh Beijing Normal University itu, dia mempresentasikan paper penelitian tentang hukum lingkungan.

Semua berjalan normal. Sampai akhirnya pada akhir Desember 2019 lalu, virus menyerang warga Wuhan. Saat itu, sebenarnya dia tak berencana pulang. Dia memiliki rencana berlibur ke Shanghai bersama teman-temannya. ”Kebetulan sedang libur semester. Saya sudah izin ke Bunda juga kalau mau ke Shanghai,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Namun, gadis berusia 23 tahun ini sempat ragu lantaran adanya virus tersebut. Terlebih virus yang awalnya disebut misterius itu, diumumkan sebagai virus korona yang masih satu family dengan SARS pada 5 Januari lalu.

Dia kemudian membatalkan rencana keikutsertaan ke Shanghai dan memilih untuk pulang ke Indonesia. ”Saat saya memutuskan pulang, baru sekitar 30 warga Wuhan yang terkena virus. Belum meluas. Teman-teman sempat mencandai saya. Mereka katakan saya takut dengan virus. Mereka mengantarkan saya sampai bandara saat saya pulang,” ungkapnya.

Nadea sendiri tiba di Jepara pada 12 Januari lalu. Beberapa hari setelahnya, tepatnya 22 Januari Kota Wuhan resmi lockdown.

Saat sampai di Indonesia, dia belum melewati pemeriksaan ketat sebagaimana yang saat ini dijalankan. Namun dia mengaku, sempat didatangi rombongan dokter untuk melakukan pemeriksaan. ”Itu sekitar dua pekan setelah saya tiba di rumah. Ada enam dokter yang datang dan memeriksa saya. Hasilnya negatif (Covid-19). Saya sehat,” tuturnya.

Dia mengaku sempat khawatir berlebih dengan kondisinya sepulang dari Wuhan. Bahkan, dia mengaku butuh waktu sampai dua pekan untuk menghilangkan kekhawatirannya. ”Saya sempat menghindari berita-berita tentang korona, meningkatkan kekebalan tubuh, dan mendekatkan diri dengan Tuhan tentunya,” paparnya.

Beruntung keluarga dan tetangganya tak memberikan penilaian negatif padanya. ”Saat pertama pulang memang belum banyak yang tahu virus Covid-19. Baru ramai belakangan ini. Saat sudah masuk Indonesia virusnya. Tentangga ada yang bertanya, virus itu penyebarannya seperti apa dan gejalanya bagaimana," ujarnya.

Meski begitu, Nadea mengaku, bukan tak ada orang yang membuatnya down. ”Ada satu dua yang perkataannya cukup membuat down. Bukan keluarga, justru orang-orang jauh,” jelasnya.

Ditanya kondisi usai dirinya pulang, Wuhan lockdown. Ada 93 mahasiswa asal Indonesia tertahan. Saat ada evakuasi dari pemerintah Indonesia, tiga mahasiswa terpaksa tak ikut dievakuasi, lantaran suhu tubuhnya tinggi. ”Saya beruntung bisa pulang dan selamat,” tuturnya.

Teman-temannya yang dievakuasi dan bisa kembali ke Indonesia, menjalani isolasi selama 14 hari di Natuna. Beberapa hari handphone mereka disita, sehingga tak bisa berkomunikasi dengan keluarga maupun dengan media. ”Itu kebijakan dari WHO, setelah 14 hari mendapatkan surat keterangan sehat, baru bisa kembali ke rumah masing-masing,” terangnya.

Di rumah, dia manfaatkan untuk berkumpul dengan keluarga. Dia juga sering berkegiatan di luar rumah. Mulai dari mengunjungi perpustakaan daerah, sharing pengalaman beasiswa dan kuliah di luar negeri, hingga tampil sebagai relawan inspirator di salah satu SD di Kota Ukir.

Aktivitas itu, untuk mengatasi kejenuhan saat dia di rumah. ”Senang bisa kumpul dan berkegiatan di sini,” jelasnya. Baru-baru ini, dia diminta beberapa sekolah sebagai pembicara. Di antaranya MAN 1 Jepara dan MAN 2 Kudus. ”Saya berbagi cerita. Mulai bagaimana saya bisa sampai kuliah di Tiongkok hingga pengalaman selama kuliah di sana,” tuturnya. Dia juga banyak memotivasi pelajar yang ditemui untuk berani bermimpi menempuh pendidikan di negeri orang.

Di rumah, aktivitas perempuan kelahiran Jepara, 18 Agustus 1997 ini, tak jauh dari mengerjakan tesis. ”Sudah 80 persen. Sampai bab IV,” imbuhnya. 

(ks/emy/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia