alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Satu Setengah Jam Bersama Wali

16 Maret 2020, 09: 25: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

MINGGU kemarin termasuk sangat membahagiakan. Di tengah kegiatan yang demikian padat bisa bersilaturrahim ke kiai besar. Yaitu KH Bahauddin Nur Salim yang lebih dikenal Gus Baha. Dia penghafal Aquran dan hadis, ahli tafsir, dan fiqih (Syariat Islam). Pengajiannya viral. Videonya ditonton ratusan ribu orang.

Perjalanan seminggu kemarin melelahkan. Sidoarjo - Malang - Surabaya - Jombang - Rembang - Kudus - Semarang - Magelang - Semarang - Blora - Grobogan - Semarang - Kudus - Semarang - Bojonegoro - Semarang - Sidoarjo.

Saat itu virus Corona yang juga disebut Covid-19 telah mewabah. Saya tak khawatir. Nyaris tidak menggunakan angkutan umum. Sebagian besar perjalanan sendirian. Meyetir mobil sendiri. Hanya perjalanan Semarang – Bojonegoro – Semarang yang menggunakan kereta.

SILATURRAHIM: Direktur Radar Kudus Baehaqi diapit Gus Baha dan Gus Umam di depan Ponpes Alquran Narukan, Kragan, Rembang, Minggu (8/3) kemarin.

SILATURRAHIM: Direktur Radar Kudus Baehaqi diapit Gus Baha dan Gus Umam di depan Ponpes Alquran Narukan, Kragan, Rembang, Minggu (8/3) kemarin. (M ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Saya bersama karyawan Jawa Pos Radar Kudus diterima di Pondok Pesantren Alquran Narukan, Kragan, Rembang. Itu adalah pondok hafalan Alquran peninggalan K.H. Nur Salim, ayah Gus Baha. Dari jalan raya Rembang – Tuban sekitar tiga kilometer. Mendekati pondok jalannya sempit. Tidak bisa untuk bersimpangan mobil.

Kesempatan itu sangat langka. Bagi saya dan kawan-kawan, Gus Baha adalah wali.  Penghafal Alquran dan ahli tafsir paling hebat di negeri ini. Waktunya habis untuk mengajar  dan membaca berbagai kitab. Di Jogja, Pasuruan, Rembang, dan Kudus. Juga masih memenuhi berbagai undangan di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri.

Tak biasa Gus Baha menerima tamu seperti saya dan kawan-kawan. Bukan santri, bukan kiai, juga bukan keluarga. Apalagi sampai satu setengah jam. Seorang kawan bertanya, bagaimana ceritanya bisa diterima Gus Baha. Keinginan itu sudah lama. Hingga suatu saat dalam perjalanan ke Surabaya saya mampir di kantor Radar Kudus Biro Rembang. Saya tagih Ali Mahmudi, kepala biro di sana yang semula bersedia mencarikan jalan. ”OK Pak. Besok kita diterima di Pondok Narukan,” kata Ali.

Gus Baha tidak biasa menerima tamu di rumahnya. Dalam berbagai kesempatan dia menegaskan hal itu. Hanya tiga golongan orang yang bisa diterima. Yaitu mereka yang terbilang gurunya, keluarga yang lebih tua, dan para kiai teman bapaknya. Undangan pengajian yang bisa dipenuhi pun demikian. Saya khawatir tidak bisa diterima.

Sabtu pagi (7 Maret 2020) Ali mengatur perjalanan. Menurut rencana kami diterima setelah Isya. Posisi saya di Sidoarjo sedang persiapan menuju Malang. ”Nanti sore kami berangkat jam 5 dari Rembang. Pak Bae kami tunggu di Pandangan. Nanti kita bersama ke Narukan,’’ kata Ali. Saya lantas membatalkan agenda di Jombang. Sore itu di Radar Jombang ada verifikasi faktual oleh Dewan Pers. Saya sebagai wakil direktur Jawa Pos Radar Group diminta mendampingi.

Kekhawatiran terbukti. Ali memberitahu malam Minggu itu ada tahlil hari ketiga meninggalnya Gus Adib, salah seorang kiai di Sarang, Rembang. Masih misanan Taj Yasin, wakil gubernur Jateng yang juga putra Mbah Maemoen. Gus Baha adalah satri KH Maemoen Zubair di Ponpes Al-Anwar Sarang. Malam itu juga Gus Baha diagendakan memberi tausiah pada pengajian di Semarang, di kantor PWNU Jateng.

Agenda diubah. Kami bakal diterima esok harinya. ”Gus Umam (Zainul Umam, adik Gus Baha) memastikan,” ujar Ali. Bahkan kami diwanti-wanti agar tidak sarapan di tempat lain. Saya pun bermanuver dari Malang - Surabaya – Jombang – Rembang. Di perjalanan saya ikuti pengajian Gus Baha di kantor PWNU Jateng lewat siaran langsung salah satu santrinya.

Pukul 07.00 saya beserta rombongan sudah di Pondok Narukan. Beberapa santri penghafal Alquran terlihat tidur (tiduran). Gus Baha masih mengantar ibunya ke pasar. Sambil menunggu kepulangan beliau kami dipersilakan sarapan. Menunya disiapkan oleh santri pondok. Sangat istimewa. Ada mangut ikan pe, telur dadar, tempe goreng, oseng, dan sebagainya.

Ke pasar adalah kebiasaan Gus Baha. Sering bersama anak-anaknya. Kadang tidak untuk berbelanja, tetapi hanya berjalan-jalan. Suatu saat, seperti pernah diceritakannya, pada hari kedua Lebaran dia bersama anaknya ke pasar. Tentu masih sepi. Ada seorang pengunjung yang menjual ayam. Anaknya disuruh membeli. “Untuk apa,”  tanya anaknya. “Untuk pelajaran,” kata Gus Baha. Itulah pelajaran hidup.

Orang tersebut menjual ayamnya ke pasar pada hari kedua Lebaran tentu karena demikian butuhnya uang. Gus Baha menyuruh anaknya membeli tanpa menawar. Tujuannya membantu orang tersebut. Bagi kita, itulah pelajaran beramal dan bersyukur.

Dari pasar Gus Baha langsung menemui kami. Mengenakan sarung hijau, kemeja putih, dan berkopiah hitam. Penampilannya seperti biasa ketika mengajar. Kopiahnya sudah menguning. Ujung depan aus karena sering terkena air wudu. Beliau selalu menjaga wudunya.

Menurut saya, Gus Baha itu zuhud. Tidak menghiraukan harta. Penampilannya sangat sederhana. Rumahnya juga. Kadangkala menggunakan angkutan umum. Padahal beliau bukan orang sembarangan. Keluarganya, baik ayah maupun ibu, dari kalangan kiai besar. Ayahnya KH Nur Salim adalah penghafal Alquran. Ibunya keturunan Kiai Sambu Lasem. Istrinya anak kiai Pesantren Sidogiri, Pasuruan.

Gus Baha tidak bertanya apapun. Kami juga tidak mengutarakan niat. Kami hanya ingin bersilaturrahim dan mengaji. Saya yang  semula berjauhan diminta untuk mendekat. Duduk mepet di samping kanan beliau. Diapit oleh Gus Umam (Zauinul Umam, adik Gus Baha) yang juga mengenakan sarung hujau, baju putih, dan peci hitam. Ruang tamu yang hanya 4 x 4 meter dipenuhi teman-teman Radar Kudus termasuk Pemimpin Redaksi  Zainal Abidin.

Begitu duduk Gus Baha langsung bercerita mengenai berbagai hal. Yang paling lama menyangkut keinginan orang Indonesia untuk berhaji dan para TKI yang membangun masjid di luar negeri. Demikian kuatnya keinginan itu sampai orang melakukan apa saja. Ada yang menjadi petugas katering, tenaga musiman, menjual tanah, dan sebagainya. ”Itu khas Indonesia,” katanya yang disambut gelak tawa teman-teman.

Saya merasa tersentil. ”Haji saya seperti itu.” Gus Baha tertawa. Saya berhaji ketika menjadi panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) Arab Saudi yang dibentuk Depag. “Aku wis mambu (Aku sudah mencium hal itu),” komentar Gus Baha. Ngaji pagi itu pun menjadi ger-geran. Sampai kami lupa, tertawa kami lebih keras dibanding suara Gus Baha. Maaf. (Video lengkapnya bisa dilihat di https://youtu.be/GeW4LryhKx4). Beritanya bisa dibaca di Jawa Pos Radar Kudus 9 Maret 2020.

Silaturrahim dan ngaji di Narukan itu berlangsung satu setengah jam. Didampingi Gus Umam (Zainul Umam), adik Gus Baha. Kami menganggap, itu berkat karomah wali.

Ngaji itu bertambah lengkap karena Gus Umam ikut semobil dengan saya ke Kudus dan Semarang. Beliau adalah orang alim yang terjun ke politik. Kini diincar untuk menjadi calon Bupati Rembang. Barokallah, semoga Allah memberkati. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP