alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Inspirasi
icon featured
Inspirasi

Dulu Tak Diresrui, Kini Raih Prestasi

13 Maret 2020, 14: 28: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

Tsabitha Oktavia Adiassari

Tsabitha Oktavia Adiassari (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

TSABITHA Oktavia Adiassari menyabet prestasi membanggakan. Beberapa waktu lalu, siswi SMK Bhina Tunas Bhakti (BTB) Juwana ini, berhasil menyabet medali emas pencak silat tingkat nasional dalam Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren Tingkat Nasional (Popenas) baru-baru ini. Cewek kelahiran Pati, 3 Oktober 2002 ini, ikut dalam ajang laga. Laga sendiri berarti bertanding dengan lawan.

Tsabitha -sapaan akrabnya- mengikuti latihan di sekolahnya. Kebetulan memang ada ekstrakurikuler pencak silat. Baru-baru ini Jawa Pos Radar Kudus mengunjungi tempat latihan Tsabita. Para siswa Persatuan Setia Hati Teratai (PSHT) masih sibuk berlatih di area SMK BTB sore itu. Memang suasana latihan sore itu bermacam-macam. Beberapa dari mereka juga ada yang tampak bersantai. Duduk melingkar sembari berdiskusi. Salah satunya ada Tsabita.

Ia sendiri bergabung dalam pencak silat sudah sekitar 2017 lalu. Tiga tahun berlatih, sekarang ia sudah disahkan menjadi warga tingkat satu sekitar November 2019 lalu. Artinya, ia sudah melalui beberapa tingkatan dalam pencak silat. Sehingga ia sudah bisa melatih.

Jadi yang mengikut bertanding dalam laga itu, juga diikuti para santri perempuan. Tsabita sendiri juga memiliki latar belakang pesantren. Dia mondok di An Nur Desa Sokopuluhan, Puncak Wangi, Pati. Saat masih SMP, gadis ini memang sudah tertarik mengikuti pencak silat.

Hanya, saat itu tidak diperbolehkan orang tuanya. Karena pulang sampai malam hari. Setelah di SMK ini, ia tinggal bersama nenek. Yang rumahnya tak jauh dari sekolah. Sehingga waktu untuk latihan cukup ada. Karena latihan di SMK BTB Juwana dilaksanakan sore.

”Dulu mondok di An Nur Sokopuluhan, Puncak wangi. Baru di sini (SMK BTB, Red) ikut silat. Pertama diajak teman sekelas. Pas SMP pernah ikut nggak boleh karena pulangnya malam-malam,” katanya.

Ia pun ditunjuk untuk mewakili dalam popenas itu. Pertama mengikuti seleksi tingkat kabupaten dia berhasil menyabet juara. Kemudian bertolak ke Tegal untuk mengikuti tanding tingkat provinsi. Setelah itu, baru naik ke tingkat nasional di Bandung. Dia juga berhasil meraih juara I.

Persiapan menghadapi tingkat nasional itu dilakukan baik latihan di sekolah maupun di rumah. Menurutnya, memang ada bedanya saat kejuaraan di tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional.  ”Bedanya di kabupaten sudah biasa ketemu lawannya,” katanya. (vah)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia