alexametrics
Selasa, 09 Mar 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Ismi Ariniawati, Pendiri Jegeg

Dirikan Komunitas Jegeg agar Remaja Sadar Lingkungan

08 Maret 2020, 23: 17: 11 WIB | editor : Ali Mustofa

Ismi Ariniawati

Ismi Ariniawati (FAQIH MANSYUR HIDAYAT/RADAR KUDUS)

Share this      

Ismi Ariniawati adalah perempuan yang sudah bertahun-tahun menjadi aktivis lingkungan. Dia mendirikan Jepara Green Generation (Jegeg) untuk dijadikan wadah siapa saja yang ingin andil melestarikan lingkungan.

FAQIH MANSYUR HIDAYAT, Jepara, Radar Kudus

”BUAH jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Barang kali peribahasa itulah yang tepat untuk Ismi Ariniawati. Perempuan yang akrab disapa Ismi ini, memiliki jiwa aktivis dari warisan ibunya. Sejak muda, ibunya aktif di kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

Pendirian Jegeg itu, dilatarbelakangi atas perenungan terhadap kondisi lingkungan termutakhir yang semakin tidak keruan. Sebagai orang yang paham dan menjadi aktivis lingkungan di luar kota, dia merasa  amat berdosa jika membiarkan kondisi lingkungan di kota kelahirannya, Jepara bernasib seperti kota-kota lain.

”Saya pikir, sebagai orang yang pernah konsern di bidang lingkungan, akan sangat memalukan kalau saya tidak berbuat apa-apa di kampung halaman,” kata perempuan kelahiran Jepara, 16 Februari 1994 ini.

Selain itu, pada 2017 dia mendapatkan dana hibah Rp 80 juta dari program short course YSEALI on Social Entrepreneurship and Economic Development, University of Connecticut, USA. Sebelumnya, bersama kelompoknya, dia memenangkan award tentang pengelolaan lingkungan di forum ASEAN yang waktu itu bertempat di Filipina.

Melalui dana hibah tersebut, Ismi membuat proyek tentang lingkungan. Ada 20 kelompok dari 6.000 peserta yang mendapatkan dana proyek tersebut. Waktu itu, dia berharap sebagian besar penerimanya adalah orang Jepara. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tak ada satupun peserta dari Jepara yang lolos seleksi.

”Saya pikir, dengan peserta dari Jepara mendapatkan dana tersebut. Mereka bisa menjadi agen perubahan yang konsern pada isu-isu lingkungan. Tapi hasilnya nihil,” imbuh lulusan S1 Gizi Kesehatan Masyarakat Undip ini.

Setelah gagal dengan hal itu, pada 2018 Ismi membuka sebuah kedai di kawasan kota Jepara. Dia membuat gebrakan mengganti sedotan plastik dengan stainless steel. Gebrakan itu sempat dianggap aneh oleh sebagian orang. Namun di sisi lain, di media sosial dia juga mengkampanyekan inisiasi tersebut sebagai gerakan bisnis yang beretika terhadap lingkungan.

Akhirnya, ada beberapa anak muda Jepara yang mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke luar negeri oleh Kemenpora. Banyaknya akses mereka itu, memberi dampak positif pada gerakan Ismi. Saat itu, dia mengajak mereka untuk bergabung mendirikan Jegeg.

Ismi menjelaskan, Jegeg ini merupakan komunitas yang bergerak di bidang lingkungan. Pada 2018, dia membuat world camp yang diikuti 20 peserta. Dana yang hanya dimiliki saat itu hanya Rp 2,5 juta. Kegiatan itu menjadi rintisan awal berdirinya Jegeg.

”Bahkan, dua narasumber waktu itu dari Universitas Indonesia dan Universitas Bakri mau jadi pemateri tanpa saya beri akomodasi serupiah pun. Tapi saya yakin, bahwa apa yang dilakukan dari hati, pasti akan sampai hati,” ujar perempuan yang beralamat di Jalan RMP Sosrokartono, No 23, Pengkol, Jepara, ini.

Sejak saat itu, peserta kegiatan tersebut secara menjadi anggota Jegeg. Mereka diajak pengurus untuk berkampanye tentang pelestarian lingkungan di sekolah-sekolah. Isu-isu seperti sampah dan kerusakan lingkungan selalu menjadi misi utama komunitas ini.

Setelah berjalan dua tahun, Komunitas Jegeg mulai mendapatkan ruang di masyarakat Kota Ukir. Tak terkecuali oleh dinas-dinas. Terutama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara. Jegeg kerap diajak bekerja sama saat melakukan aktivitas pelestarian lingkungan.

Bahkan, tahun ini sudah ada 36 orang yang mendaftar kegiatan world camp. Meskipun sebenarnya Ismi tidak berkenan menerima peserta terlalu banyak. Tapi dengan pertimbangan semangat pelestarian lingkungan, Ismi menerima seluruh peserta tersebut.

”Alhamdulillah akhirnya banyak juga yang mengapresiasi dan bergabung dengan kami. Saya harap remaja Jepara semakin banyak yang melek tentang isu-isu lingkungan. Mari bergerak bersama,” cetusnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP