alexametrics
Selasa, 11 May 2021
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan

Kirab Boyong Grobog Bawa Empat Gunungan dan 400 Tumpeng

03 Maret 2020, 13: 54: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Kirab Boyong Grobog Bawa Empat Gunungan dan 400 Tumpeng

GROBOGAN, Radar Kudus – Prosesi kirab Boyong Grobog dalam rangkaian Hari Jadi ke-294 Grobogan tahun ini digelar berbeda dari tahun sebelumnya. Tradisi perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan akan dilakukan kirab dari Kecamatan Grobogan ke Kota Purwodadi hari ini. Dalam kirab itu hadirkan empat gunungan dan sekitar 400 tumpeng.

Prosesi boyong Grobog sendiri, dikuti oleh belasan kelompok seni reog, barongan, drum band, dan puluhan prajurit kerajaan. Start dari Kelurahan Grobogan sampai Kota Purwodadi. Sejarah awal terbentuknya Pemerintah Kabupaten Grobogan terjadi pada 1726 pada zaman Adipati Martopuro atau Pangeran Puger. Dimana pada 1864 oleh Adipati RT Sosronagoro II ibu kota dipindahkan ke Purwodadi.

Baca juga: Sekda Blora Minta ASN Jadi Agen Sensus Penduduk

Rencananya kirab tersebut dihadiri Bupati Sri Sumarni, Sekda Sumarsono dan Forkopimda, dan seluruh SKPD, camat dan kepala desa serta anggota DPRD Grobogan. Mereka akan mamakai pakaian beskap Jawa. Prosesi boyong Grobog diikuti empat gunungan hasil bumi dari warga.

”Replika Grobog ini berisi pusaka, busana, dan banda. Perpindahan Grobog sebagai penanda adanya perpindahan ibu kota Kabupaten Grobogan ke Puwodadi,” kata Sekretaris Disporabudpar Grobogan Edi Santoso.

Dijelaskan, kirab Boyong Grobog bertujuan menceritakan kembali asal mula perpindahan pusat pemerintahan yang terletak di Kecamatan Grobogan dipindah ke Kecamatan Purwodadi. Tradisi itu, juga untuk menghargai jasa para pahlawan dan upaya melestarikan budaya daerah.

”Kegiatan ini sebagai bentuk wujud uri-uri budaya daerah dan memberikan semangat gotong dari warga masyarakat,” ujarnya.

Diceritakan, grobog adalah asal mula terbentuknya Kabupaten Grobogan. Di mana saat zaman kerajaan Majapahit ada pasukan kerajaan yang diutus untuk mengirim senjata pusaka kerajaan dan dimasukkan dalam kotak atau grobog. Rombongan tersebut kemudian bertemu dengan perampok dan mereka lari meninggalkan grobog.

Selanjutnya, oleh Sunan Kalijaga, para perampok berhasil dikalahkan dan merebut kembali grobog. Kemudian tempat tertinggalnya grobog itu dinamakan Grobog atau Grobogan. Sementara itu, pada awal terbentuknya Kabupaten Grobogan hanya meliputi beberapa wilayah saja yaitu Sela, Teras, Karas, Wirosari, Santenan, Grobogan, dan beberapa daerah di Sukowati bagian Utara Bengawan Solo dengan adipati/ bupati pertama adalah Pangeran Puger. Namun lambat laun, wilayah Kabupaten Grobogan kemudian ditetapkan menjadi seperti sekarang ini dengan jumlah 19 kecamatan.

”Pertama kali Grobogan dipimpin oleh Adipati Pangeran Puger. Dari data yang ada Kabupaten Grobogan dengan ibu kota Grobogan pindah ke kota Purwodadi terjadi pada 1864,” tandasnya.

Selain menceritakan perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan, kirab boyong grobog juga diikuti rombongan membawa empat gunungan hasil pertanian dari masing-masing desa di Kecamatan Grobogan. Gunungan tersebut mengandung filosofi agar hasil pertanian masyarakat semakin melimpah dengan diadakannya sesembahan gunungan hasil pertanian. Kemudian gunungan itu, diperebutkan oleh warga sekitar.

”Acara boyong Grobog dimulai pukul 08.00 pagi dari Kecamatan Purwodadi dan sampai di Alun-alun Purwodadi pukul 10.00. Nanti ada prosesi serah terima di Alun-alun Purwodadi,” tambahnya.

Usai penyerahan grobog tersebut dilanjutkan dengan berdoa dan makan bersama. Ada 400-an tumpengan dari seluruh kepala desa dan camat yang makan bareng usai didoakan. ”Malam harinya ada tirakatan doa bersama di Pendapa Kabupaten Grobogan dan pagi harinya, Rabu (4/2) ada upacara di Alun-alun Purwodadi,” tandasnya.

(ks/mun/zen/top/JPR)

 TOP