alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Pena Muda
icon featured
Pena Muda
Hari Gizi Nasional

Sarapan Sebelum Sekolah, Tak Jajan Sembarangan

01 Maret 2020, 10: 09: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

Sarapan Sebelum Sekolah, Tak Jajan Sembarangan

Setiap 28 Februari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional. Namun, saat ini masih ada kasus kekurangan gizi yang terjadi di Indonesia. Di antaranya, kasus stunting di Indonesia di atas ambang maksimal yang ditetapkan ditetapkan World Health Organization (WHO). Namun patut disyukuri, stunting di Kabupaten Kudus lebih rendah dari jumlah perbandingan di Jawa Tengah dan Indonesia. Sebagai sikap peduli terhadap kesehatan, Pena Muda pada terbitan Februari ini mengupas tentang penanganan stunting di Kabupaten Kudus. Utamanya peran dari anak-anak SMA sederajat dan mahasiswa.

PERMASALAHAN stunting (anak gagal tumbuh atau kerdil) di Indonesia masih menjadi keprihatinan bersama. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Walaupun sudah menurun dibandingkan dengan 2013, sekitar 37,2 persen. Namun, angka tersebut masih tergolong tinggi, karena masih berada di atas ambang maksimal yang ditetapkan World Health Organization (WHO), yaitu 20 persen.

Stunting sendiri merupakan suatu kondisi pertumbuhan tinggi badan anak yang terhambat atau perawakan pendek. Ini karena anak kekurangan gizi kronis atau mengalami kekurangan gizi dalam waktu yang cukup lama.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Joko Dwi Putranto mengklaim, angka stunting di Kudus ada 21 persen. Angka tersebut masih lebih rendah dibanding dengan tingkat provinsi maupun nasional. DKK Kudus memiliki target untuk menurunkan angka stunting menjadi lebih rendah. ”Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus sendiri tengah mendorong semua desa di Kudus untuk mengalokasikan sebagain dana desa untuk pencegahan stunting," ujarnya baru-baru ini.

Bagi siswa SMA sederajat sampai mahasiswa, stunting bisa diberantas dengan pemenuhan gizi anak sejak dini. Di antaranya yang diungkapkan Suryaningsih. Siswi SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus ini mengatakan, makanan adalah sumber energi bagi tubuh. Makanan tak bergizi pada anak mengakibatkan stunting atau pertumbuhan lambat. Selain itu, jajan-jajan di pinggir jalan tidak dimungkiri menjadi jajanan anak sekolah paling populer. Namun, terkadang jajanan itu kurang bagus bagi kesehatan. Karena kurang bergizi.

”Masa pertumbuhan harusnya makan-makanan yang bergizi. Termasuk anak sekolah wajib sarapan dulu sebelum berangkat sekolah,” cetusnya.

Hal serupa diungkapkan Siti Fatmawati. Dia pun memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsinya. Hal itu karena, sejak kecil ibunya memang mengajarkan seperti itu. Termasuk tidak jajan sembarangan.

Mahasiswi Jurusan Bahasa Arab, IAIN Kudus, ini mengaku, waktu kecil dia rutin makan nasi di rumah. Termasuk sering minum tajin (air rebusan nasi). Makanan dan minuman itu disediakan oleh ibunya. ”Pasti di dapur ada tajin," kata mahasiswi yang akrab disapa Sifa ini.

Dia menambahkan, orang tua memang sangat berperan untuk memberikan anaknya makanan yang bergizi. Juga melarang jajan sembarangan yang belum tentu baik dan bergizi.

Selama ini, Sifa memperhatikan makanan yang dikonsumsinya. ”Makanan yang bergizi mempunyai dampak yang baik untuk kesehatan,” imbuhnya. (anam/aslichah)

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia