Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Kudus

Belum Sempat Dibongkar, SDN 2 Mlatinorowito Kudus Roboh Duluan

15 Februari 2020, 13: 35: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

AKTIVITAS BELAJAR: KBM kelas II SD 2 Mlatinorowito, Kota, Kudus menempati ruang perpustakaan akibat diguyur hujan deras.

AKTIVITAS BELAJAR: KBM kelas II SD 2 Mlatinorowito, Kota, Kudus menempati ruang perpustakaan akibat diguyur hujan deras. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus - Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus sebenarnya sudah menginstruksi untuk membongkar ruang kelas IV SDN 2 Mlatinorowito yang ambrol. Namun dari Badan Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus menyuruh menunda pembongkaran terlebih dulu.

Hal ini disampaikan Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo kemarin. Dua minggu lalu pihaknya sudah menginstruksikan untuk membongkar tiga ruang yang sudah tak layak untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). ”Ruang yang perlu dikosongkan itu kelas IV, V, dan VI. Belum sampai dibongkar malah sudah roboh duluan. Pihak sekolah juga sudah mengajukan dana rehab ruang kelas pada 2019 di APBD Kudus. Dan sudah di-ACC. Tinggal tahun ini dilaksanakan,” ungkapnya.

Joko mengatakan, anggaran yang disediakan untuk SDN 2 Mlatinorowito senilai Rp 200 juta untuk rehab tiga ruang tersebut. Pembangunannya tinggal menunggu petunjuk pelaksana (juklak). Kalau juklak sudah turun langsung dibangun.

 DILARANG MASUK: Tulisan larangan masuk karena berbahaya dipasang di luar kelas yang ambruk sejak beberapa bulan lalu.

 DILARANG MASUK: Tulisan larangan masuk karena berbahaya dipasang di luar kelas yang ambruk sejak beberapa bulan lalu. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Pihaknya juga sudah meninjau ruang lain yang juga mengalami kerusakan. Rencananya rehab diusulkan tahun ini. ”Inventaris sekolah rusak tetap jalan. Sampai saat ini sudah ada 30-an sekolah rusak yang sudah kami data,” ungkapnya.

Sebelumnya, ada SDN 2 Purwosari yang rusak. Plafonnya ambrol. Sebab, bangunan SD ini sudah puluhan tahun belum pernah rehab total sama sekali. Tahun ini diupayakan bisa dibenahi.

”Saya maklumi keterbatasan dana membuat sekolah belum bisa direnovasi. Kami memberikan bantuan tentunya berdasarkan prioritas. Mana saja sekolah yang butuh penanganan terlebih dulu,” terangnya.

Dia menambahkan, dinas terus melakukan survei dan benar-benar menjadi perhatian utama. Sekolah diperbolehkan mengajukan bantuan untuk rehab ruang, kalau memang kondisinya butuh penanganan.

”Jika ada pengajuan bantuan, misalnya pengajuannya pada 2019, maka dapat bantuannya tahun ini. Itupun masih menunggu juklak. UPT pendidikan kecamatan harus mengecek sekolah yang kondisinya rusak. Langkah selanjutnya mengantisipasi dengan mengosongkan ruangan bila kondisinya sangat parah. Atau diberi penyangga kalau kerusakannya masih bisa diatasi, sembari menunggu pencairan bantuan,” jelasnya.

Terpisah, Kepala BPPKAD Kudus Eko Djumartono saat dikonfirmasi mengaku belum pernah diajak koordinasi dengan dinas terkait terkait hal ini. Terutama soal penundaan perobohan ruang kelas IV yang kini ambruk tersebut. ”Belum ada konfirmasi (koordinasi dengan dinas terkair, Red) sama sekali,” ujarnya.

(ks/san/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia