Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Grobogan

Limbah Batu Bara Dibuang Sembarangan di Pinggir Jalan sejak 2013

14 Februari 2020, 11: 12: 42 WIB | editor : Ali Mustofa

SUDAH MENAHUN: Polisi memeriksa lokasi pembuangan limbah batu bara di Kecamatan Wirosari. Praktik ilegal itu sudah berlangsung sejak 2013.

SUDAH MENAHUN: Polisi memeriksa lokasi pembuangan limbah batu bara di Kecamatan Wirosari. Praktik ilegal itu sudah berlangsung sejak 2013. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN, Radar Kudus - Limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) fly ash bottom ash kategori limbah batu bara dibuang begitu saja. Lokasi pembuangan itu di Desa Kalirejo dan Tambakselo, Kecamatan Wirosari. Limbah itu dibuang oleh transporter perusahaan dari luar kota.

Pembuangan limbah B3 tersebut menjadikan sebuah timbunan, bahkan sampai dibeli masyarakat yang ada di sekitar sana. Mulai dari Rp 700 ribu per truk. Masyarakat memanfaatkan limbah berbahaya tersebut untuk urukan hingga pembuatan paving.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan Nugroho Agus Prastowo mengatakan, akhir-akhir ini masyarakat setempat pelaporkan penimbunan limbah B3 tersebut melalui WhatsApp. Tim langsung dikerahkan menuju lokasi untuk memeriksa limbah tersebut. Bahkan langsung mengirim sampel untuk dicek di laboratorium.

”Dari pemeriksaan sementara, limbah tersebut diduga dari limbah fly ash bottom ash (FABA) atau limbah batu bara. Namun, kami masih tunggu hasil lab dari provinsi untuk jenis limbah secara pastinya,” jelasnya.

Menurutnya, limbah tersebut berasal dari daerah lain. Pasalnya, di Kabupaten Grobogan tidak ada industri yang menggunakan energi dari batu bara. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan DLH Provinsi Jateng serta Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

”Kami sudah koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepolisian untuk menindaklanjuti kejadian ini. Bahkan truk dan sopir sudah ditahan,” kata Nugroho Agus Prastowo.

Dari pemeriksaan sementara, limbah tersebut membuat beberapa pohon mati. Selain itu, limbah tersebut dikhawatirkan terbawa angin dan menyebabkan warga mengalami gangguan pernafasan. Tak hanya itu, limbah yang tertimpa air hujan dan mengalir ke sungai juga membuat kerusakan lingkungan di sana.

”Pengelolaan limbah ini harusnya dilakukan di tempat yang telah mendapatkan izin dari kementerian. Dari pabrik, ke distribusi pengangkutan, hingga ke tempat pembuangan atau pengelolaan limbah tersebut harus tercatat. Jika ada penyelewengan, semuanya bisa ditindak secara hukum. Kami malah berharap transporter ditindak tegas,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Tambakselo Sareh Joko Prasetyo mengatakan, peristiwa pembuangan limbah FABA sudah terjadi sejak 2013 lalu. Masyarakat semula tidak mengetahui bahaya yang ditimbulkan dari limbah beracun tersebut.

”Warga awalnya mengira, itu seperti pasir biasa dan kemudian digunakan untuk menguruk. Namun, setelah mendapatkan informasi kalau itu berbahaya, warga tak lagi menggunakan limbah itu untuk menguruk. Kami harap ini segera ditindaklanjuti, sehingga tidak terjadi kerusakan lingkungan yang parah,” katanya. 

(ks/int/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia