Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Kudus

Aliran Sungai Tersumbat Sampah, Dua Perumahan di Kudus Terendam Banjir

14 Februari 2020, 10: 09: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

SAMPAH MENUMPUK: Petugas dari BPBD dibantu masyarakat mengangkut sampah yang menyumbat aliran sungai sehingga air meluap menggenangi Perumahan Megawon Kudus.

SAMPAH MENUMPUK: Petugas dari BPBD dibantu masyarakat mengangkut sampah yang menyumbat aliran sungai sehingga air meluap menggenangi Perumahan Megawon Kudus. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS, Radar Kudus - Puluhan rumah di Perumahan Megawon dan Ngembal Asri terendam air kemarin. Banjir ini akibat sampah menyumbat Sungai Tumpang. Sehingga air sungai meluap dan masuk ke rumah warga.

Luapan sungai ini membuat akses ke Perumahan Megawon dari pintu masuk di depan Pom bensin jalan Lingkar Ngembal tergenang air. Bahkan air sudah masuk ke dalam rumah warga. Hal serupa juga terjadi di Perumahan Ngembal Asri. Lokasinya berada di Blok B RT 5/3. Para warga terlihat sibuk membersihkan air yang masuk ke dalam rumahnya.

Rini salah satu pemilik rumah di Perumahan Ngembal Asri Blok B RT 5/3 mengatakan, setiap hujan deras air dipastikan meluap. Namun pada tahun ini air meluap dan berhasil masuk ke dalam rumahnya. Sekaligus membawa material sampah. Terakhir air masuk ke dalam rumahnya pada 2014. ”Tiap jembatan tersumbat sampah pasti naik airnya,” katanya.

BANJIR: Banjir meremdam dua perumahan dan akses jalan warga kemarin.

BANJIR: Banjir meremdam dua perumahan dan akses jalan warga kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Sementara itu Kepala Desa Megawon Nurasag menjelaskan, debit air mulai meningkat terjadi pada Rabu (13/2). Ini menyebabkan Sungai Tumpang meluap, sekaligus membawa sampah. Di sisi lain pihakya sudah mengantisipasi agar tidak terjadi luapan yang parah, setelah air surut diterjunkan dua petugas untuk menaikkan sampah.

Namun pada Kamis siang (13/2) hujan deras turun. Tepatnya terjadi usai zuhur. Sekitar pukul 12.30. ”Hujan terjadi 1,5 jam hingga 2 jam. Klimaksnya terjadi pada pukul 14.30,” katanya.

Dampaknya, air menggenangi di pemukiman warga. Ada dua RW dan delapan RT yang terdampak.  Untuk ketinggian airnya bervariasi. Pada RT 1 RW 4 ketinggiannya mencapai dada orang dewasa. Sementara lainnya ketinggian di atas mata kaki.

”Kejadian terakhir terjadi enam tahun lalu. Namun baru kali ini naik lagi,” kata Nurasag.

Di lapangan, tim relawan BPBD Kudus juga tengah membersihkan sampah yang menutupi sungai. Satu truk disertai katrol diturunkan di lokasi. Satu persatu sampah dinaikan ke atas. Sementara ada 11 orang yang membersihkan sampah.  

Kasi Pencegahan dan Kesiap siagaan BPBD Kudus Wiyoto mengatakan, alat berat tidak bisa diturunkan ke lokasi. Lantaran ada kabel listrik yang membentang di atas jembatan. Ditakutkan bisa terputus. Untuk itu pihaknya memilih mengangkat dengan cara manual.

”Tak bisa menggunakan bego, karena ada kabel. Jadi ya diangkat secara manual sampahnya,” katanya.

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus Djoko Mukti menyatakan, luapan air tersebut disebabkan oleh sumbatan sampah. Lantaran ada tiang jembatan yang berada di tengah jembatan.

Untuk solusinya tiang tengah jembatan tersebut harus dibongkar. Sekaligus jalan di sekitar lokasi ada peninggian dan pelebaran. Meski demikian pihaknya tidak bisa melakukan pembongkaran tiang tengah. Sebab masih kewenangan dari provinsi Jawa Tengah.

”Sudah saya usulkan tiap tahunya untuk pembongkaran tiang tengah jembatan, sampai sekarang belum ada jawaban,” katanya saat meninjau lokasi banjir. (gal)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia