Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Features
Tiga Siswi MAN 1 Kudus Temukan Beras Analog

Aman Bagi Penderita Diabetes, Dapat Penghargaan Thailand dan Kanada

13 Februari 2020, 10: 01: 47 WIB | editor : Ali Mustofa

INOVATIF: Dari kiri Alfi Fatimatuz Zahro, Indra Faizatun Nisa, dan Novilla Dwi Candra menunjukan hasil karya ilmiah mereka berupa beras analog.

INOVATIF: Dari kiri Alfi Fatimatuz Zahro, Indra Faizatun Nisa, dan Novilla Dwi Candra menunjukan hasil karya ilmiah mereka berupa beras analog. (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/RADAR KUDUS)

Share this      

Tiga siswi MAN 1 Kudus berhasil menciptakan beras analog. Beras ini kaya antioksidan sekaligus ramah bagi penderita diabetes. Atas temuan ini, mereka meraih medali perunggu pada kompetisi Intellectual Property Invention, Innovation, and Technology Exposition (Ipitex) 2020 di Bangkok, Thailand.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus, Radar Kudus

TIMBANGAN, tepung mocaf, tepung jagung, dan tanaman laut atau lamun dijajar rapi di atas meja. Satu per satu bahan tersebut dicampurkan oleh Indra Faizatun Nisa, siswi MAN 1 Kudus. Hingga dirasa cukup baru ditambahkan air, sekaligus diaduk. Bahan baku itu dipergunakan untuk membuat beras analog.

”Beras kaya akan antioksidan dan ramah dimakan untuk penderita diabetes,” terang Nisa.

Beras temuan ini, diberi label ”Arass”. Dalam pembuatan beras kaya manfaat ini, Nisa tidak sendiriian. Ia dibantu dua temannya, Alfi Fatimatuz Zahro dan Novilla Dwi Candra. Ketiganya ini merupakan siswi kelas XI MIPA MAN 1 Kudus.

Ide awal menciptakan beras analog ini, karena diketahui Indonesia mempunyai dua wilayah. Yakni laut dan darat. Namun, keberadaan tumbuhan lamun pemanfaatannya belum begitu optimal. Sedangkan di darat ada tumbuhan ubi kayu dan jagung. Semua bahan baku itu, punya kandungan kaya antioksidan dan rendah glukosa.

Dalam proses pembuatannya, bahan tersebut dibuat menjadi serbuk atau tepung terlebih dahulu. Sedangkan peramuannya harus mencari formula yang terbaik. Karena untuk mendapatkan formula kaya antioksidan. Sekaligus formula antiglukosa yang rendah.

Usai dicapur dan ditakarkan air, bahan baku tersebut kemudian digiling. Hasilnya akan berbentuk seperti beras. Proses selanjutnya, beras tersebut akan dioven terlebih dahulu disuhu 60 derajat selama 15 jam. Baru setelah kering siap ditanak menjadi nasi.

Beras ini berwarna cokelat. Teksturnya kasar, namun tak begitu keras. Dalam setiap bijinya terdapat rongga-rongga kecil. Fungsinya agar air tak lama terserap. ”Beras ini teksturnya hampir mirip sereal,” katanya.

Untuk melakukan uji coba, keempat siswi ini membuat empat jenis komposisi bahan yang berbeda. Guna mengetahui kandungan antioksidan yang tertinggi. Komposisinya 7:3:1. Takarannya, tepung lamun, mocaf, dan jagung. Total kandungan antioksidan tertinggi mencapai 80,52 persen.
Selain bisa menangkal radikal bebas dan aman bagi penderita diabetes, beras analog ini juga memiliki beberapa kandungan lain. Seperti mengandung protein dan karbohidrat. Untuk menguji kandungan beras analog tersebut, ketiga siswa ini melakukan di laboratorium milik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Atas temuan beras analog ini, ketiga siswi MAN 1 Kudus tersebut, meraih medali perunggu pada kompetisi Intellectual Property Invention, Innovation, and Technology Exposition (Ipitex) 2020 di Bangkok, Thailand, pada 2-6 Februari 2020 lalu.

Kepala MAN 1 Kudus Suhamto mengatakan, di lomba inovasi yang sama itu, mereka juga meraih penghargaan dari Kanada. Penghargaannya bertajuk International Invention Innovation Competition in Canada.

Suhamto menambahkan,  jumlah peserta dalam kompetisi itu mencapai 514 peserta dari 21 negara. Atas kerja keras ketiga anak didiknya itu, berhasil menyabet medali perunggu.

”Temuan ini akan didaftarkan hak patennya. Jika memungkinkan juga akan dikembangkan. Sehinga bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi penderita diabetes serta bisa menangkal radikal bebas," katanya.

Sementara itu, Novilla Dwi Candara mengaku pernah mencoba beras tersebut. Menurutnya, ada rasa khas di beras tersebut. Rasanya manis. ”Ada manis-manisnya yang muncul dari lamun. Kalau beras biasa rasanya netral. Meski begitu, beras ini aman dikomsumsi oleh penderita diabetes,” tuturnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia