Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Features
Dimas Rakha, Atlet Bulu Tangkis Asal Rembang

Grogi Banyak Suporter hingga Meleset Nampel Shuttlecock

12 Februari 2020, 10: 46: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

Mohammad Dimas Rakha Dzakwan Idianto

Mohammad Dimas Rakha Dzakwan Idianto (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Siswa bernama panjang Mohammad Dimas Rakha Dzakwan Idianto ini, sudah mengoleksi sejumlah prestasi di bulu tangkis. Meski begitu, siswa asal SMPN 3 Rembang ini, sempat grogi disoraki suporter, terutama suporter perempuan.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Rembang, Radar Kudus

”AYO Dimas (sapaan akrab Mohammad Dimas Rakha Dzakwan Idianto) pialanya diangkat,” pinta Kepala SMPN 3 Rembang Menik Mustikatun kepada Dimas agar mau mengangkat pialanya. Saat hendak dipotret. ”Halah Bu… bu..,” gerutunya memanja. ”Udah angkat. Gini lho,” timpal Bu Kepsek. Sambil mengarahkan tangan dimas ke atas. Menyudahi ”perdebatan” itu. Piala itu pun diangkat. Ditambah senyum Dimas yang mengembang. Cekrek... Jadilah foto di samping ini.

”Dimas ini grogi-an. Lihat tuh keringetnya. Tapi kalau pas main badminton kok nggak grogi. Saya heran,” canda Menik kepada Dimas usai Dimas difoto wartawan koran ini.

Dimas memang siswa berprestasi di olahraga bulu tangkis. Pernah masuk perempat final tingkat nasional. Dia menceritakan, kali pertama main bulu tangkis saat dia kelas III SD. Karena diajak teman. Dengan iming-iming jika bermain bulu tangkis itu asyik. Dimas pun mendengarkan petuah dari kawannya itu. Kemudian meminta izin kepada orang tua. Dan di-ACC.

Tetapi latihan bulu tangkis itu, cuma berlangsung kurang dari satu bulan. Lantaran ada dampak yang diakibatkan. Yakni nilai sekolah Dimas yang turun drastis. Sebelum latihan bulu tangkis, dia pernah peringkat III di kelasnya. Setelah fokus latihan hampir setiap hari peringkat itu turun.

”Kelas III SD itu cuma (latihan bulu tangkis) beberapa minggu. Nggak ada sebulan,” kata siswa kelahiran Banjarmasin, 12 Juni 2006 itu.

Karena nilai anjlok, orang tua pun meminta untuk berhenti latihan. Dimas nurut saja. Tetapi, dia tetap berusaha agar nilai mata pelajaran di sekolah kembali naik. Usaha itu pun berhasil. Peringkat Dimas merangkak naik. Sehingga kembali mendapatkan lampu hijau dari orang tua untuk berlatih bulu tangkis lagi.

Saat itu dia sudah kelas IV. Hingga sekarang sudah ada beberapa klub bulu tangkis yang sudah ia jajal. Sudah ada sekitar lima klub. Setahun kembali latihan, setelah naik kelas V ia pun mulai aktif mengikuti sejumlah kejuaraan bulu tangkis. Pertama kali mengikuti lomba tingkat kabupaten. ”Kelas V itu dapat juara satu kali,” imbuhnya.

Porsi latihan pun ditambah. Seperti melakukan langkah-langkah singkat, power, hingga latihan fisik yang terus digenjot. Itu dilakukan demi meraih juara.

Prestasinya semakin cemerlang ketika menginjak bangku SMP. Pada 2019 lalu, ia berhasil masuk perempat final. Kategori ganda. Pada kejuaraan tingkat nasional yang diselenggarakan Universitas Semarang (USM). Selain ikut di kategori ganda, ia juga main di tunggal putra. Namun, dia tak sampai lolos. Karena grogi. Saking groginya nampel kok pun luput. ”Itu sering (luput, Red). Karena itu yang single kalah. Kemudian masuk ke ganda,” ucapnya.

Di kategori ganda juga demikian. Pada awal-awal grogi. Seiring berjalannya pertandingan perasaan itu sudah hilang. Karena bisa saling mengisi dengan rekan satu timnya. Secara mental, saat pertandingan Dimas percaya diri di laga ganda.

Terbaru, laga yang ia ikuti saat Pekan Olahraga Daerah (Popda) Rembang baru-baru ini. Dia berhasil memboyong juara I. Perjuangannya itu berhasil mengharumkan nama sekolahnya. Meskipun kaget saat melihat animo suporter. Yang tak lain kawan-kawannya sendiri. ”Kok banyak suporternya, cewek-cewek lagi,” ujarnya mengingat momen pertandingan di popda itu.

Awalnya, Ia malah merasa mending main tanpa suporter. Tetapi setelah dirasakan, kehadiran suporter membuatnya bersemangat. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia