Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Tulis Dongeng Anak-Anak

12 Februari 2020, 10: 20: 00 WIB | editor : Ali Mustofa

Riska Widyastuti

Riska Widyastuti (Dok. Pribadi)

Share this      

PILIHAN pekerjaan berdasarkan panggilan hati membuat Riska Widyastuti nyaman. Pernah berkecimpung di dunia pendidikan, namun memutuskan keluar karena lebih tertarik dengan bisnis.

Riska -panggilan akrabnya- bercerita hanya delapan bulan menjadi guru. Waktu itu mengajar SD. Tetapi, ia kurang merasa nyaman karena sebelum menjadi guru ia sudah menggeluti bisnis, jualan bantal karakter, kosmetik, dan lainnya.

”Saya waktu itu mendapat tawaran jadi guru, jadi saya coba. Begini kalau hanya coba. Saya sudah percaya diri bisa ngajar, karena saya suka dengan anak-anak. Ternyata, (menjadi guru) tidak mudah seperti yang saya bayangkan. Akhirnya saya lepas daripada setengah hati,” terangnya.

Dia yang saat ini masih menjalankan bisnisnya, menyempatkan untuk menulis. Riska waktu duduk di bangku SMA memang pernah ikut ekstrakurikuler jurnalistik. Hingga menjabat sebagai pemimpin redaksi (pemred).

Menurutnya, menulis itu bisa meluapkan isi hati. Namun, tulisan yang ia buat cenderung dongeng anak. Dulu, Riska sering ikut kegiatan dongeng komunitas Rumah Abjad. Ia merasa anak zaman sekarang perlahan meninggalkan cerita dongeng.

”Saya punya blog. Untuk menghidupkan kembali dongeng, saya tulis di blog tersebut. Intinya saya ingin mengangkat lagi dongeng. Rasanya ingin sekali nunjukin ke anak-anak kalau dongeng ini bagus. Juga banyak nilai-nilai moral yang disampaikan,” terangnya.

Selain suka nulis dongeng, dia juga menulis cerpen dengan cerita romansa anak muda. Sampai saat ini ia tetap hobi menulis di sela-sela mengelola bisnisnya. ”Tidak tiap hari menulis. Kalau ada ide atau inspirasi, saya langsung menyalakan laptop dan mulai memainkan jari jemari mengetik apa yang ada di dalam pikiran saya,” jelasnya.

Riska yang saat ini berusia 24 tahun ini, melalukan pekerjaan sesuai hati. ”Kalau setengah-setengah lebih baik tidak dilakukan. Saya merasa nyaman dengan kegiatan yang saat ini,” imbuh perempuan yang berdomisili di RT 1/RW 6, Desa Loram Wetan, Jati, Kudus, ini.

(ks/san/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia