Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Cabuli Keponakan Berulang Kali hingga Hamil, Lansia Diusir dari Desa

08 Februari 2020, 16: 19: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

Cabuli Keponakan Berulang Kali hingga Hamil, Lansia Diusir dari Desa

BLORA, Radar KudusEntah setan apa yang merasuki Sumarno. Dia rela merenggut keperawanan sang keponakan berinisial KS. Bahkan aksi bejatnya ini dilakukan berulang kali. Hingga KS mengandung bayi. Imbasnya, pria yang sudah lansia itu diusir dari Desa Kedungwaru, Kecamatan Todanan.

Kepala Desa Kedungwaru, Kecamatan Todanan Sumarsono mengaku, yang bersangkutan sudah disidang pihak desa. Karena berbagai pertimbangan, diputuskan keluarga tidak melaporkan kepada pihak berwajib. Namun sebagai hukuman, pelaku harus pergi dari desa setempat untuk selamanya.

”Pelaku diberi waktu tiga hari sejak Kamis (6/2) malam. Hari ini apakah masih di desa atau tidak, belum saya cek,” ucapnya.

Kesepakatan itu juga dilampirkan dalam bentuk surat pernyataan bermaterai. Yaitu antara korban dan pelaku. Disaksikan oleh orang tua pelaku, perangkat desa, linmas, Bhabinkamtibmas, warga, dan kepala desa setempat.

Dalam surat pernyataan itu disebutkan, bahwa pada Selasa (4/2) korban telah melakukan tes kehamilan dengan menggunakan dan terbukti positif hamil. Korban juga mengaku yang menghamilinya adalah Sumarno. ”Saat musyawarah di Kantor Desa Kedungwaru, pelaku mengakui telah menghamili korban,” terangnya.

Sumarsono mengaku, dari pengakuan korban pencabulan ini sudah berulang kali dilakukan. Sampai tidak ingat lagi berapa kali melakukan hubungan terlarang tersebut. ”Pengakuannya di rumah pelaku pernah, di sawah pernah. Sebab korban ini sering diajak ambil rumput,” imbuhnya.

Untuk kondisi korban, sekarang masih trauma. Mungkin karena Kamis (6/2) malam baru disidang juga. Korban sendiri masih di bawah umur. Baru lulus SMP sekitar setahun lalu. Awalnya, orang tua korban tak mengetahui kalau anaknya hamil.

”Setelah itu ada tetangga yang nylemong, siapa tahu korban hamil. Setelah itu, saudara korban ambil inisiatif bawa tespack untuk mengecek kebenarannya. Ternyata setelah di cek, benar hamil. Setelah itu korban diinterogasi siapa yang menghamilinya. Akhirnya korban terus terang kalau yang menghamili adalah Sumarno sendiri,” ucapnya.

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Blora Indah Purwaningsih  mengaku, warga ternyata ingin pelaku segera pergi. Karena dianggap pendosa. Korban juga terbilang masih family.

”Saya bilang harus diberi efek jera. Kalau hanya disuruh pergi, pelaku akan lakukan ditempat lain. Saya minta diproses seperti yang terjadi di tempat lain,” ucapnya.

Dia menambahkan, yang terpenting saat ini adalah menangani korban. Apalagi keluarga termasuk keluarga tidak mampu. ”Ini baru ditindaklanjuti teman-teman. Kepentingan terbaik untuk anak usia belum 17 tahun,” tambahnya. 

(ks/sub/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia