alexametrics
Sabtu, 28 Mar 2020
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Cerita Mahasiswi Jepara Keluar dari Wuhan Sebelum Virus Corona Merebak

31 Januari 2020, 10: 47: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

Nadea Lathifah Nugraheni, mahasiswi S2 Wuhan University asal Jepara

Nadea Lathifah Nugraheni, mahasiswi S2 Wuhan University asal Jepara (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA, Radar Kudus – Rasa syukur berkali-kali diungkapkan Nadea Lathifah Nugraheni, mahasiswi S2 Wuhan University asal Jepara. Gadis yang sedang menyelesaikan tugas akhir jurusan Hukum Internasional tersebut, berhasil pulang ke Indonesia sebelum Kota Wuhan diisolasi akibat merebaknya virus mematikan novel coronavirus (2019-nCoV) alias virus corona.

Nadia menceritakan, dia pertama kali menginjakkan kaki di Wuhan, Tiongkok, pada 2018 lalu. Tujuannya tak lain untuk melanjutkan studi S2 di Wuhan University.

PERHITUNGAN TEPAT:  Nadea Lathifah Nugraheni bersama teman-temannya Wuhan University di Tiongkok.

PERHITUNGAN TEPAT: Nadea Lathifah Nugraheni bersama teman-temannya Wuhan University di Tiongkok. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Perempuan yang tinggal di RT 27/RW 5, Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara, tersebut melanjutkan, pertengahan Januari ini merupakan masa libur semester. Sebenarnya dia tidak berencana pulang ke Indonesia dan memilih menuntaskan tesis. Hanya, munculnya virus corona membuatnya memilih untuk pulang mendadak.

Pehitungannya tepat. Sebab, hanya berselang beberapa hari setelah dia pulang, virus itu merebak. Hingga menjadikan Kota Wuhan diisolasi. Sehingga tak ada akses keluar masuk kota tersebut.

”Alhamdulillah saya berhasil lolos pulang ke Jepara. Saat saya memutuskan pulang 12 Januari lalu, virusnya belum benar-benar merajalela di Kota Wuhan. Baru sekitar 35 orang yang terkena virus itu. Saat itu saya pulang ke Indonesia sendiri. Mahasiswa asal Indonesia lainnya masih di sana,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Ketika keluar dari Wuhan dan transit di Guangzhou, Tiongkok, tak ada pemeriksaan kesehatan yang harus dilaluinya. Begitu pula saat di Jakarta dan Semarang.

Ditanya mengenai kondisi mahasiswa Indonesia lainnya (93 mahasiswa asal Indonesia) di Wuhan, Nadea menyatakan, dalam kondisi baik. Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT), serta Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terus berkoordinasi dan memastikan mahasiswa di sana baik-baik saja. ”Dari video baru yang saya terima, dari masing-masing apartemen orang-orang saling meneriakkan semangat,” tuturnya.

Dia juga menyatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari Wuhan, belum ada warga Wuhan yang dinyatakan meninggal hanya karena virus tersebut. Dia juga mendengar jika ada orang terkena virus yang dinyatakan sembuh. ”(Yang meninggal) ada penyakit penyertanya. Misal jantung dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, disinggung mengenai asal mula virus yang banyak dikatakan berasal dari pasar hewan liar, Nadea menyatakan, selama di Wuhan dia termasuk sering mengunjungi pasar-pasar tradisional untuk berbelanja kebutuhan makanan, seperti sayur. Namun, dia tidak menemukan pasar hewan liar yang dimaksud. ”Kalau dikatakan semua pasar tradisional menjual masakan hewan liar itu tidak benar. Tapi, kalau satu dua pasar mungkin ada, tapi saya belum pernah datang langsung,” terangnya.

Dia juga menyesalkan banyaknya berita yang dianggapnya berlebihan yang beredar. ”Seperti yang orang berjatuhan di jalan raya. Itu bukan kejadian di Wuhan akibat virus corona,” imbuhnya.

Selain dirinya, saat ini juga ada satu mahasiswa lagi asal Jepara di Central China Normal University (CCNU). Dia berharap, teror virus ini segera berkahir, dan dapat kembali lagi ke Wuhan untuk melanjutkan belajarnya.

(ks/emy/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia