Senin, 17 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Pati

Mengintip yang Akan Datang, Bersiap Diri Agar Selamat

29 Januari 2020, 10: 41: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

SEWINDU SULUK: Para narasumber membincangkan tema menarik dalam ngaji budaya Suluk Maleman pada Sabtu (25/1) malam lalu.

SEWINDU SULUK: Para narasumber membincangkan tema menarik dalam ngaji budaya Suluk Maleman pada Sabtu (25/1) malam lalu. (DOKUMEN SULUK MALEMAN)

Share this      

PATI, Radar Kudus – Suluk Maleman pada Sabtu (25/1) lalu terasa istimewa. Sebab bertepatan dengan sewindu ngaji budaya yang diasuh oleh Anis Sholeh Ba’asyin tersebut. Meski malam minggu Kota Pati diguyur hujan, Rumah Adab Indonesia Mulia tetap dijejali jamaahnya.

Di edisi istimewa itu tema menarik disuguhkan, “Mengintip yang Akan Datang”. Hadir sejumlah tokoh seperti Presiden Jancukers Sujiwo Tedjo, Prof Saratri Wilonoyudho, Dr Abdul Jalil, Budi Maryono, Eko Tunas, hingga Direktur TV9 Hakim Jalyli.

Anis Sholeh Ba’asyin mengungkapkan, tema tersebut memberikan gambaran bagaimana kita menghadapi sesuatu. Sesuatau yang belum jelas. ”Mengintip tidak selalu bermakna negatif. Mengintip ini melihat sesuatu yang akan tiba. Seperti kita mengintip dari celah kecil di pintu. Siapa yang datang. Tamu atau maling. Kita mesti bisa persiapan,” terangnya.

Mengintip ini, lanjutnya, juga bisa diartikan melihat fenomena kedepan. Jika terjadi gelombongan seperti ini, perahu mana yang akan kita tumpangi.  

Dr Abdul Jalil, memberikan ulasan tentang tanda kiamat, disebutkan jika nantinya kebodohan akan semakin banyak dipertontonkan. Hal yang mengkhawatirkan, fitnah pun akan turut diperjualbelikan.

“Kita lihat sekarang ini hampir semua dijual belikan. Bahkan agama maupun sekolah,” kata pria yang juga akademisi di IAIN Kudus ini.

Sementara itu Sujiwo Tedjo justru memberikan kritiknya terkait fenomena munculnya kerajaan-kerajaan baru. Baginya hal semacam itu justru tidak menjadi bahan candaan. Karena konsep seperti itu justru sekarang ini tak berbeda jauh dari demokrasi sekarang ini.

“Jika dilihat kalau kerajaan pemegang kekuasaannya selalu darah biru. Tapi dalam demokrasi selalu darah tajir (Red, kaya). Jika di kerajaan ada kasta dalam dunia sekarang juga ada. Coba kalian beli tiket pesawat ekonomi pasti tidak akan bisa naik pesawat bisnis,” terangnya.

(ks/him/aua/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia