alexametrics
Jumat, 10 Jul 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Toleransi di Kampung Pecinan, Lasem

Kamar Santri Mirip Kelenteng Mini

25 Januari 2020, 16: 43: 16 WIB | editor : Ali Mustofa

Pondok Pesantren Kauman Lasem

Pondok Pesantren Kauman Lasem (GALIH ERLAMBANG/RADAR KUDUS)

Share this      

MOBIL yang dikemudikan Kholid Hazmi berjalan lambat. Melewati kampung pecinan yang masih lengang. Deretan rumah berarsitektur Tiongkok tertangkap pandangan mata. Gerbangnya mirip-mirip. Ada ukiran kanjinya. Kanji-kanji itu yang masih terlihat. Ada pula yang memudar.

Sesampainya di ujung jalan ada pos kamling. Warnanya merah. Atapnya melengkung. Model Ngan Shan. Seperti atap-atap kelenteng. Di pintu masuknya terukir huruf-huruf. Sebelah kiri huruf kanji. Sebelah kanan huruf arab. ”Itu kelentengnya Gus Zaim,” gurau Ernantoro, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem. Ia menunjuk pos kamling. Sedangkan pesantrennya tepat di sebelah timur pos kamling gang II Desa Karangturi, Lasem, Rembang. Pesantren itu dikelilingi rumah warga Tionghoa.

Rumah KH Muhammad Zaim Ahmad Ma’shoem atau Gus Zaim juga klasik. Gus Zaim menyebutnya China Kolonialis. Kawin silang antara era konolial dengan China.

BERDARAH TIONGHOA: KH Muhammad Zaim Ahmad Ma'shoem, pengasuh Ponpes Kauman Lasem punya garis keturunan Tionghoa dari marga Oei.

BERDARAH TIONGHOA: KH Muhammad Zaim Ahmad Ma'shoem, pengasuh Ponpes Kauman Lasem punya garis keturunan Tionghoa dari marga Oei. (GALIH ERLAMBANG/RADAR KUDUS)

Bangunannya memang era kolonial. Namun arsitekturnya China. Di pintu masuk rumah ini terukir huruf kanji. Di selasar rumah juga dihiasi lampion berwarna merah. Sedangkan tembok rumah dihiasi kaligrafi arab. Yang terakhir itulah yang membedakan rumah Gus Zaim dengan rumah lain di kawasan Pecinan.

Rumah berarsitektur dua budaya itu berdiri sejak 1880 silam. Gus Zaim mengaku, dulu rumah itu milik warga asli Tiongkok. Ia beli pada 2001. Seharga Rp 140 juta.

”Arsitektunya masih asli. Temboknya juga masih asli. Tetapi kulit tembok saya lapisi lagi. Biar catnya tidak rontok,” katanya sambil menunjuk tembok rumahnya.

Dulu, kata Gus Zaim, rumah itu difungsikan sebagai tempat tinggal. Juga pondok. Ditinggali ia dan istri. Juga 60 santri.

Namun seiring berjalananya waktu, pembangunan pesantren itu dibantu donatur. Dana itu lantas dibelikannya kayu. Dari kayu-kayu itulah berdiri kamar santri atau gothakan.

”Waktu bikin kamar dari kayu, saya dibilang nyeni. Padahal saya nggak nyeni, tetapi nggak punya duit,” kenangnya lantas tertawa. Ernantoro dan wartawan koran ini turut tertawa pula.

Ngomong-ngomong soal ornamen Tionghoa, gothakan santri memang dibikin menyerupai kelenteng mini. Warnanya merah kuning. Ada huruf kanjinya juga. Ruangan ini difungsikan sebagai kamar santri putri. Diisi 20 orang.

Di gothakan santri putra beda lagi. Pada selasar kamar ada hiasan lampionnya. Ada yang warna merah. Ada yang pink. ”Inilah toleransi. Toleransi yang dibangun pendahulu ya harus dipertahankan. Ada asimilasi. Ada akulturasi. Lalu bikin rumah. Misalnya rumah ini, ono Chinone ono Londone. Ada China ada Jawanya. Ada yang Londo semu Jowo. Ini namanya perkawinan silang. Seperti saya, beretnis Tionghoa menikah dengan orang Jawa. Bikin rumah ingin pintunya dibentuk seperti di Tiongkok. Sah-sah saja,” tuturnya.  

Dulu, kata Gus Zaim, Lasem memang didatangi orang beragam etnis. Ada Jawa, Tionghoa, Eropo, dan Arab. Didominasi laki-laki. Tujuannya untuk berdagang. Mereka pun berlama-lama tinggal di sini. Lalu, satu per satu memutuskan menikah dengan warga sekitar. Makanya terjadi pernikahan antaretnis.

”Seperti saya ini terlahir dari berbagai etnis. Tionghoa dan Arab. Wareng saya itu istri orang Tiongkok. Marganya Oe,” katanya.

Dari peristiwa masa silam itu terjadi asimilasi di Lasem. Setelah terbentuknya asimilasi, muncul akulturasi budaya lokal dengan budaya asing. Percampuran budaya tersebut memupuk nilai-nilai toleransi antaretnis. Dan bertahan hingga kini.

Gus Zaim mengatakan, di kawasan tempat tinggalnya, nyaris 99 persen warga keturunan Tionghoa. Hanya empat orang yang tidak. Kendati demikian, kehidupan di kawasan Pecinan berjalan normal. Tak ada konflik. ”Beberapa waktu lalu ada tetangga Tionghoa yang meninggal dunia. Santri pun turut membantu keluarga yang berduka. Ada yang memasang tenda. Ada juga yang membantu di dapur,” katanya.

Guz Zaim mengatakan, yang meninggal itu Bapak dari Pak RT. Pak RT memang orang Tionghoa. Namanya Semar. Nama Aslinya  Ie King Haow . ”Nah nama terpaksanya Kristianto,” katanya. Semua pun tertawa. ”Ada memang. zaman orde baru kan memang ada nama terpaksa,” tuturnya.

Kata Gus Zaim, Semar memang sering datang ke pesantren. Biasanya ngopi. Atau njagong. ”Memang sering dolan ke sini. Biasanya pake celana pendek. Kadang ya pake singlet. Ketok keleke ngono iku. Ya biasa. Saya juga ke warungnya. Semar kan punya warung. Di sana ya hanya njagong ataua ngopi. Saya ya nggak mbayar. Awas nek dikon mbayar,” kata Gus Zaim lantas tertawa.

Hubungan silaturahmi antartetangga juga terjalin baik. Kata Gus Zaim, tetangganya (Tionghoa, Red) sering bertamu ke kediamannya. Entah untuk ngobrol atau sekedar ngopi. Begitu juga sebaliknya.

Hubungan santri Gus Zaim dengan warga sekitar juga baik. Mereka sering menyapa dan berperilaku ramah. ”Saya tak pernah memerintah santri untuk menyapa atau membantu tetangga. Saya hanya memberi contoh. Santri meniru sendiri,” tuturnya.

Terkait Imlek, Gus Zaim mengaku tidak ada masalah. Kalau yang merayakan dengan ritual ya silahkan. Namun Imlek itu tahun baru China. Tionghoa mana saja. Agamanya apa saja. Semua yang keturunan Tionghoa ya merayakan Imlek. Tak ada bedanya dengan merayakan tahun baru 1 Januari.

”Jadi nggak usah terlalu baper. Bilang ini nggak benerlah. Ini salahlah. Ngurusi ngono kuwi gak ono bare. Yang terpenting merayakannya dengan cara yang baik. Misalnya di pesantren, santri-santri kalau Imlek salawatan. Uniknya Lasem ya itu, toleransinya tanpa sumbu. Nek disumet gak bakal urip,” katanya. (*)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia