Senin, 24 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Pati

Dinas Kesehatan Sebut Angka Kematian Bayi di Pati Masih Tinggi

25 Januari 2020, 15: 43: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

Dinas Kesehatan Sebut Angka Kematian Bayi di Pati Masih Tinggi

PATI, Radar Kudus – Pemerintah Kabupaten Pati boleh jadi sukses menekan angka kematian ibu (AKI) dalam waktu tiga tahun belakangan. Namun, angka kematian bayi (AKB) masih menjadi persoalan, karena temuan kasusnya yang masih tinggi.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pati menyebutkan, angka kematian ibu pada 2017 sebanyak 18 kasus, pada 2018 turun menjadi 11 kasus dan pada 2019 turun lagi menjadi hanya delapan kaus saja.

Meskipun turun, Bupati Haryanto sempat mewanti-wanti instansi terkait. Sebab di awal tahun ini data yang masuk sudah ada 3 kasus AKI. ”Memang ada laporan tiga kasus. Dua kasus memang benar. Satu kasus masih kami selidiki lebih lanjut penyebabnya. Memang menjadi perhatian. Sebab tahun lalu hanya ada 8 kasus, di awal tahun ini sudah ada 3 kasus. Tidak heran Bupati memberikan perhatian,” terang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Edi Siswanto kepada Jawa Pos Radar Kudus, kemarin.

Karena itu, dinas terkait berupaya keras mendorong persalinan dilakukan di fasilitas kesehatan. Dengan persalinan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit, hal itu akan memudahkan jika terjadi kegawat daruratan. Bahkan sudah 95 persen lebih persalinan sudah dilakukan di puskesmas dan rumah sakit. Yang lain seperti klinik dan bidan.  

”Terkadang ada kematian yang sulit dideteksi. Sebelumnya dari deteksi normal, tiba-tiba meninggal. Karena itu kami ingin melibatkan pihak keluarga dalam pengawasa ibu hamil. Agar jika terjadi perubahan atau keluhan sekecil apapun bisa diinformasikan ke petugas,” imbuhnya.

Sementara angka kematian bayi masih tergolong tinggi, meskipun terjadi penurunan. Pada 2018, kasus angka kematian bayi terjadi sebanyak 134 kasus. Tahun lalu turun menjadi 122 kasus.

Faktor tingginya angka kematian bayi dikarenakan saat dilahirkan bayinya kecil. Bobotnya kurang dari 2 kilogram. Itu disebabkan karena gizi ibu saat hamil. ”Sebenarnya kami sudah melakukan intervensi. Melalui program roti ibu hamil, dan tambahan gizi lainnya. Selain gizi, pola pikir kesehatan juga menjadi faktornya,” terang Edi.

(ks/aua/him/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia