Senin, 24 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Cuitan

Kudu Ngguyu, Kudu Nangis, Kudu Ngamuk, Kudu Sabar

20 Januari 2020, 08: 28: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SEBULAN mati-matian olah raga, puasa kolesterol, asam urat, dan gula. Begitu periksa darah di laboratorium, hasilnya naik semua. Itu betul-betul pernah terjadi pada diri saya. Shock. ”Glodak, brak, gelontang.” Begitu saya menulis di WA story 6 Januari 2020 beberapa saat setelah menerima hasil laboratorium.

Sebulan lebih saya disiplinkan diri jalan pagi. Sekitar 4-5 kilometer setiap hari. Kadangkala sampai delapan kilometer. Antara satu sampai dua jam. Nyaris tidak pernah berhenti. Termasuk ketika hujan sekalipun. Suatu pagi hujan deras di Kudus. Saya jalan di mezanin lantai III kantor Radar Kudus. Saat yang lain, di Semarang mengelilingi kolam renang. Ditambah naik turun tangga.

Jalan sudah menjadi olah raga saya setiap pagi belakangan ini. Saya suka karena mendapat banyak pelajaran. Juga bisa bersilaturrahim dengan banyak orang apa adanya. Jumat lalu (17/1) bertemu Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel. Saat itu, saya jalan mengelilingi Simpanglima Semarang sampai 14.944 langkah. Sedangkan kapolda bersepeda keliling kota.

Jumat sebelumnya (10/1) saat jalan di Simpangtujuh Kudus bertemu Sekda Kudus Sam’ani Intakoris. Beliau jalan dari rumah pribadinya ke Simpangtujuh (menurut hitungan Google 4,1 kilometer) kemudian mengelilingi alun-alun. Sedangkan saya hanya berkeliling alun-alun sebanyak 10.390 langkah.

Selain olah raga, saya berpuasa kolesterol, asam urat, dan gula. Selama sebulan itu banyak makan kentang, ketela, wortel, buah naga, dan pisang. Lauk kebanyakan ikan, tahu, dan tempe. Kadang-kadang masih makan nasi. Tapi boleh dibilang jarang. Pernah sekali makan nasi goreng, karena tak bisa menahan keinginan. Minuman hanya air putih dan teh tawar. Sesekali minum kopi pahit.

Dengan pola makan dan olah raga tersebut, saya yakin bebas masalah kolesterol, asam urat, dan gula. Paling tidak, tidak melebihi batas yang direkomendasikan para ahli kesehatan. Ternyata keyakinan saya salah. Hasil periksa 6 Januari 2020 semua indikator mengalami kenaikan dibanding pemeriksaan sebulan sebelumnya. Meliputi kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida, asam urat, dan gula puasa.

Rasanya, kudu ngguyu, kudu nangis, kudu ngamuk, kudu sabar. Itu kesalahan saya sendiri. Sehari sebelum periksa, saya tertarik ajakan teman-teman karyawan Radar Semarang setelah acara road show Kampung Hebat di Citra Grand Semarang. Lebih-lebih yang mengajak para cewek. Sekalian syukuran acara berlangsung sukses dan sangat meriah. Teman-teman mengajak makan durian di Mijen (sekitar sejam perjalanan mobil). Salah satu wilayah di Semarang yang menghasilkan berbagai jenis durian.

Sudah banyak tulisan tentang durian saya baca. Ada yang mengatakan tidak megandung banyak kolesterol dan asam urat. Hanya akan meningkatkan panas tubuh. Itu pun sementara. Entah benar apa tidak, saya juga tidak tahu. Pada tulisan ini saya tidak ingin mengulasnya. Saya bukan ahlinya. Biarlah penggemar durian sendiri yang menyimpulkan.

Kalau hasil pemeriksaan kolesterol, asam urat, dan gula ternyata tinggi, saya tidak mau menyalahkan durian. Itu juga sudah saya tulis di WA story, ”Jangan salahkan durian.” Saya termasuk penggemar buah berduri keras dan tajam dengan bau khas menyengat itu. Sekali makan bisa satu sampai dua buah.

Belakangan durian menjadi perburuan banyak orang. Penggemarnya terus meningkat. Meskipun sudah banyak daerah yang memproduksi, volumenya tetap saja kurang. Harga durian terus melambung. Terutama jenis tertentu. Yang legit dengan daging tebal, rasa manis, dan ada sedikit pahit-pahitnya. Sampai-sampai di tempat-tempat tertentu harus inden. Orang rela mengeluarkan uang banyak asal mendapat durian yang istimewa. Banyak di antara mereka yang berburu ke berbagai sentra. Tidak ada harga pasti. Itulah durian.

Festival durian juga digelar di mana-mana. Ada lomba makan, mengupas, rebutan, memasak, bahkan memilih. Pendeknya, makan durian sudah menjadi gaya hidup tersendiri.

Kalaupun saya mengeluarkan larangan membawa durian ke lingkungan kantor hanya semata-mata bau dan kulitnya. Bau durian sama dengan bau rokok yang tidak gampang dihilangkan. Sebagian orang merasa pusing. Membuang kulitnya juga juga susah. Apalagi karyawan bagian kebersihan biasanya malah tidak kebagian buahnya. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia