Senin, 24 Feb 2020
radarkudus
icon featured
Ambyar

Kisah Asmara ”Cendol Dawet” Sopir Truk

17 Januari 2020, 12: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Kisah Asmara ”Cendol Dawet” Sopir Truk

RAHMAN (nama samaran) dan Armita (nama samaran) sudah tujuh tahun pacaran. Mereka resmi berpacaran sejak kelas X SMA. Keduanya telah membangun romantisme itu sejak masa ”putih abu-abu.”

Pasang surut perasaan, cekcok, bahkan nyaris putus sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Tapi, fase-fase itu membuat mereka semakin saling memahami. Usai bertengkar, mereka kembali akur dan menjalin kasih. Mereka mendewasakan diri dari persoalan-persoalan berat itu.

Setelah lulus SMA, Rahman tak sanggup kuliah. Karena keterbatasan biaya dan harus menanggung beban ekonomi keluarga. Sementara itu, Armita tetap kuliah dan dibiayai sepenuhnya oleh keluarganya. Meski secara ekonomi, mereka memiliki kelas yang sama. Pas-pasan.

Rahman terpaksa menjadi sopir truk dam pengangkut pasir. Setiap hari, dia harus mengantar pasir ke sejumlah wilayah di Jepara. Kalau sedang ramai pesanan, dalam sehari dia bisa membawa pulang uang setidaknya Rp 200 ribu. Pendapatan inilah yang membuatnya tetap betah menjadi sopir.

”Pacar saya tetap menerima saya apa adanya (waktu itu, Red). Meski saya hanya seorang sopir," katanya.

Karena sudah merasa memiliki pendapatan yang cukup, Rahman memberanikan diri tunangan dengan kekasihnya itu. Armita pun menerimanya dengan bahagia.

Rencananya, mereka akan menikah tahun depan. Itu permintaan dari Armita. Setelah dia lulus kuliah. Dia ingin bekerja dulu di sebuah koperasi syariah.

Awalnya biasa-biasa saja. Namun setelah berjalannya waktu. Eh... ternyata, hubungan mereka malah tidak jelas.

Sejak Armita berkenalan dengan banyak laki-laki kantoran, dia berubah sikap. Rahman dan Amrita pun menjadi jarang bertemu. Kata Rahman, Armita semakin sering beralasan saat akan diajak nge-date. Armita lebih suka bepergian dengan teman-teman kantornya. Terutama dengan laki-laki yang masih jomblo di kantor itu.

Pikiran Rahman semakin tak karuan. Sebab, kekasihnya semakin hari semakin tak perhatian dengannya. Seolah-olah luntur sudah rasa sayang kepada Rahman.

Duar... Ambyar! Tak disangka, tiba-tiba Armita mengundang Rahman ke rumahnya. Di hadapan orang tuanya, Armita mengembalikan cincin tanda pertunangannya. Mak deg hati Rahman. Namun, dia tetap berusaha meyakinkan bahwa keputusan kekasihnya itu salah besar. Tapi, Armita tetap bersikukuh dengan pendiriannya itu. Dengan alasan sudah tidak cocok lagi.

Ternyata, Armita diam-diam sudah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki di kantornya. Usut punya usut, ternyata laki-laki itu anak pengusaha sukses di Ibu Kota. Rumahnya besar dan mobilnya mewah.

Asrama sang sopir bagaikan ”cendol dawet” yang di-blenjani (didustai). Sampai sekarang, Rahman kecewa berat dengan pengkhianatan orang terkasihnya itu. (qih)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia