Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Pati

Macan Tutul di Pati Mati, Cuaca Ekstrem dan Makanan Diduga Penyebabnya

15 Januari 2020, 12: 15: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

MENGENASKAN: Kondisi bangkai macan tutul Jawa yang ditemukan Siti, warga Desa Plukaran, Gembong, Pati, baru-baru ini

MENGENASKAN: Kondisi bangkai macan tutul Jawa yang ditemukan Siti, warga Desa Plukaran, Gembong, Pati, baru-baru ini (BKSDA JATENG FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PATI, Radar Kudus – Seekor macan tutul berusia sekitar 1,5 tahun ditemukan mati di Desa Plukaran, Gombong, Pati, pada Minggu (12/1) lalu. Hewan langka ini, ditemukan oleh Siti, warga setempat di belakang rumahnya. Sekitar 50 meter dari kandang sapi.

Macan tutul berjenis kelamin jantan itu, diduga mati karena faktor cuaca yang tak menentu dan salah menelan pakan yang mengandung bakteri. Sebab, saat proses otopsi tidak ditemukan bekas benda tumpul atau bekas perburuan. Satwa tersebut, diketahui keluar dari area hutan lindung Pegunungan Muria.

Karnivora bernama latin panthera pardus melas ini, ditemukan mati oleh masyarkat di sekitar kandang sapi dengan kondisi anus berdarah.

Dari sejumlah informasi yang dikumpulkan Jawa Pos Radar Kudus, penemuan bangkai satwa tersebut dilakukan secara tak sengaja. Kepala Desa Plukaran Mulyono mengatakan, awalnya bangkai macan tutul itu, diketahui warganya saat mencari rumput di belakang rumah. Saat bermaksud naik ke atas pohon dia melihat ada bangkai yang cukup mencurigakan.

Setelah didekati, ternyata bangkai seekor anak macan tutul berjenis kelamin jantan. Saat ditemukan, kondisinya sudah dikerumuni lalat. Diperkirakan anak macan tersebut, sudah mati beberapa hari sebelum ditemukan.

”Warga sudah menguburkan. Namun setelah kami laporkan kejadian itu, tim BKSDA langsung turun untuk mengecek kebenarannya. Macan itu langsung dibawa oleh tim BKSDA,” terangnya.

Ketua Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Gunung Muria Sokhib mengaku, mendapat laporan dari kepala desa. Kemudian memberikan informasi ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. ”Saya infokan ke BKSDA,” terangnya.

Terpisah, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah Darmanto menyampaikan, matinya macan tutul itu, diduga karena faktor cuaca yang berubah-ubah dan salah menelan makanan. Informasi itu, didapatnya dari dokter Hendrik yang bekerja di Semarang Zoo. ”Bangkainya sudah di-rontgen oleh dokter hewan Hendrik dan tidak ditemukan bekas benturan benda tumpul. Saat ini masih dilakukan otopsi. Hasilnya Jumat (17/1) nanti,” terangnya.

Dia menjelaskan, bangkai macan tutul itu juga sudah dicek di laboratorium untuk melihat isi perutnya. Dari situ, tidak ditemukan luka atau hantaman benda tumpul. Namun, bagian dubur mengeluarkan darah.

Dia menambahkan, selama ini BKSDA beserta Perum Perhutani, Djarum Foundation, dan PMPH Gunung Muria sudah memantau kondisi macan tutul di Gunung Muria sejak dua tahun terakhir. Di antaranya dengan memasang kamera trap. Dari kamera trap itu, diketahui ada 13 ekor macan tutul di wilayah Pegunungan Muria.

Pengkajian juga dilakukan dengan pihak terkait dengan cara memastikan ketersediaan pangan. Sosialisasi ke masyarakat perihal imbauan, agar tidak berburu macan tutul terus dilakukan. Dia berharap, masyarakat sadar macan tutul merupakan hewan langka yang tidak boleh diburu. ”Kami berharap, masyarakat lebih sadar kalau macan tutul merupakan satwa prioritas di Jawa Tengah,” imbuhnya.

Sementara itu, M Widjanarko dari Muria Research Center (MRC) Indonesia mengaku, macan tutul di Pegunungan Muria memang masih ada. ”Kalau melakukan riset secara khusus (tentang macan tutul) belum pernah. Tetapi saya sebatas tahu di Pegunungan Muria memang ada macan tutul,” terangnya. ”Macan tutul menjadi penjaga keseimbangan ekosistem di kawasan Pegunungan Muria,” imbuhnya. (vga)

(ks/lin/aua/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia