Kamis, 30 Jan 2020
radarkudus
icon featured
Features
Nur Rohman, Pelatih Bela Diri asal Grobogan

Kuasai Lima Cabor, Kuliah Lulus dengan Predikat Cumlaude

14 Januari 2020, 10: 21: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

Nur Rohman

Nur Rohman (DOK PRIBADI)

Share this      

Nur Rohman, tertarik dengan bela diri sejak duduk di bangku sekolah. Kini, di usianya yang 24 tahun, dia sudah mengoleksi berderet prestasi. Dia juga menguasai sedikitnya lima jenis bela diri. Meliputi karate, wushu, boxing, muaythai, dan yongmoodo.

INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan, Radar Kudus

SEJAK duduk di bangku sekolah, Nur Rohman mulai menjajal berbagai cabang olahraga (cabor) di sekolahnya. Mulai dari sepak bola hingga beralih ke bela diri taekwondo. Merasa tak menorehkan prestasi di sepak bola, ia memilih menekuni taekwondo.

Baru tiga bulan berlatih, ia langsung diterjunkan untuk mengikuti kejuaraan di Pekan Olahraga Daerah (Popda) Grobogan. Bahkan, dia langsung menyabet juara I. Kemudian dia dikirim di tingkat Jateng dan berhasil menjadi juara III.

Berawal dari situ, ia mulai merasa apa yang ia capai itu menjadi bakat dan kelebihan yang harus ia dalami lagi. Namun, merasa prestasi yang diraih stagnan, karena prestasinya mentok sampai tingkat Jateng.

”Memang kerap meraih prestasi taekwondo di tingkat provinsi. Namun, hanya mentok sampai di situ. Sempat ikut kejuaraan tingkat nasional, namun hanya sampai babak kualifikasi,” ungkapnya.

Pria kelahiran Grobogan, 11 juni 1995 ini kemudian merambah ke bela diri lain. Hingga kini ia menguasai lima bela diri. Berbagai prestasi tingkat nasional pun berhasil dikoleksi.

Di antaranya, pada 2012 ia menjadi runner-up di Kejurnas pada bela diri wushu. Tak berpuas diri, ia pun merambah ke bela diri muaythai dan yongmoodo. Dari yongmoodo dia menyabet runner up di Porprov Jateng.

”Kalau di bela diri saya sudah menemukan kunci permainan. Kebetulan kelebihan saya di kaki. Di sini (bela diri, Red) kuncinya adalah bisa menguasai langkah. Maka bela diri apapun akan mudah,” ujarnya.

Menurutnya, bela diri ia pilih karena banyak peluang untuk meraih prestasi. Bahkan, ia mengaku ingin hobi berkelahinya bisa disalurkan melalui cabor ini. Orang tuanya pun memberi support penuh saat ia memilih mendalami bela diri.

Kini dia sudah ”pensiun” menjadi atlet. Namun, dia tetap tak ingin jauh-jauh dari bidang yang membesarkan namanya. Kini, ia menjadi pelatih bela diri.

Selain memang cinta terhadap olahraga, di Grobogan juga masih minim pelatih bela diri. Padahal peminatnya cukup tinggi. Mulai anak-anak hingga dewasa.

Awalnya lelaki yang tinggal di Desa Medani, Kecamatan Tegowanu, Grobogan, ini membuka pelatihan Warrior Dojo Karate Club Grobogan bersama lima kawannya. Klub itu berdiri di Jalan Gunung Merapi No 22 Purwodadi (belakang SMPN 3 Purwodadi).

”Sekarang sudah beranggotakan 18 atlet. Untuk latihan ada kelas privat dan reguler. Reguler setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 15.00,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini yang ramai diminati kaum muda sampai tua yakni bela diri kick boxing. Peserta latihan yang ikut mencapai 25 orang. Latar belakangnya bermacam-macam. Mulai dari ibu rumah tangga hingga polisi.

Tak hanya itu, Rohman pun menceritakan, jika tujuh anak didiknya beberapa waktu lalu mengikuti Kejurprov ASKI Jateng. Mereka membanggakan, dengan menyabet empat medali emas, empat perak, dan tiga perunggu. Kemudian berlanjut ke Kejurnas 2020 di Surakarta.

Rohman pun menceritakan pengalaman uniknya selama menjadi pelatih. Terlebih saat melatih privat dua orang yang merupakan kakak dan adik. ”Awalnya berlatih sungguh-sungguh, tapi akhirnya bertengkar karena salah satu merasa lebih bagus dari satunya. Dari situlah, saya belajar untuk menemukan pendekatan apa yang cocok saat memberi materi ke mereka. Beruntungnya, dengan kesabaran, kini mereka mampu menyabet juara semua,” ungkap anak sulung dari lima bersaudara ini.

Meski terbilang masih muda, ia tak ingin sembarangan melatih. Ia berhati-hati dan memahami kemampuan orang yang dilatih. Bahkan, untuk pemula ia hanya memberikan pemahaman dasar, trik melatih dasar tekanan, sehingga teknik agar tidak cedera. ”Saya harus memahami batas kemampuan orang yang akan saya latih,” ujarnya.

Tak berpuas diri menjadi pelatih, ia tak melupakan kewajibannya melanjutkan pendidikan S1. Dia memilih Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) di Universitas Tunas Pembangunan Surakarta.

”Saya bersyukur lulus dengan predikat cumlaude. Padahal jarang berangkat kuliah, tapi malah saya lulus duluan. Seangkatan saya yang lain ada yang belum lulus,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia